Beranda Artikel & Kajian Dari Screen Time Menuju Ketahanan Mental Remaja

Dari Screen Time Menuju Ketahanan Mental Remaja

Super Admin 01 July 2026 101× dilihat Sekolah Siaga Kependudukan
Dari Screen Time Menuju Ketahanan Mental Remaja

oleh: Prof. Budi Setiyono, S.Sos, M.Pol.Admin, Ph.d

Pada saat sekarang, banyak orang tua mengeluhkan anaknya yang mudah cemas, cepat marah, sulit fokus, atau tampak rapuh menghadapi tekanan kecil. Media sosial kemudian menjadi sasaran utama: dianggap sebagai penyebab utama menurunnya kesehatan mental remaja. Namun, gambaran ini terlalu sederhana.

Kajian psikologi kontemporer menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata teknologi, melainkan interaksi antara perkembangan remaja dan lingkungan digital yang selalu aktif. Masa remaja adalah fase ketika individu sedang membangun identitas, sangat sensitif terhadap penilaian sosial, dan masih mengembangkan kemampuan regulasi emosi. Dalam kondisi ini, dunia digital tidak menciptakan kerentanan baru, tetapi memperkuat kerentanan yang memang sudah ada.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar satu dari tujuh remaja di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, dengan kecemasan dan depresi sebagai beban utama. Survei lintas negara terhadap ratusan ribu remaja juga menunjukkan peningkatan penggunaan media sosial yang bermasalah dalam beberapa tahun terakhir. Yang berubah secara signifikan bukan hanya jumlah pengguna, tetapi cara kehidupan sosial bekerja.

Dunia Digital dan Kerentanan yang Membesar

Kehidupan manusia kini tidak ada lagi batas yang tegas antara ruang privat dan publik, antara waktu istirahat dan interaksi sosial. Notifikasi membuat seseorang selalu “hadir”, bahkan ketika ia ingin beristirahat. Banyak remaja (orang tua juga) merasa cemas ketika tidak membuka ponsel dalam beberapa jam, khawatir tertinggal percakapan atau informasi. Fenomena ini dikenal sebagai fear of missing out (FOMO).

Di sisi lain, muncul kebiasaan doomscrolling: menggulir layar tanpa henti, terutama di malam hari. Dampaknya tidak hanya pada waktu yang terbuang, tetapi juga pada kualitas tidur, yang kemudian memengaruhi stabilitas emosi dan kemampuan konsentrasi.

Penelitian terbaru mulai meninggalkan fokus sempit pada “durasi layar” (screen time). Masalahnya bukan sekadar berapa jam remaja berada di depan gawai, tetapi bagaimana pengalaman psikologis yang terjadi selama penggunaan tersebut.

Kajian Nature Reviews Psychology menegaskan bahwa media sosial bekerja langsung pada sistem psikologis remaja yang sedang berkembang: kebutuhan akan pengakuan, sensitivitas terhadap umpan balik sosial, dan pembentukan identitas. Setiap like, komentar, atau pengikut menjadi bentuk penghargaan sosial yang memengaruhi cara remaja menilai dirinya.

Akibatnya, sebagian remaja mulai mengukur harga diri melalui angka digital. Ketika respons rendah, muncul kecemasan; ketika tinggi, muncul ketergantungan pada validasi eksternal. Dalam jangka panjang, ini dapat membuat konsep diri menjadi rapuh.


Dari Psikologi Kerentanan Menuju Ketangguhan

Untuk memahami kerentanan ini lebih dalam, teori-teori perspektif psikologi sosial dan psikoanalisis memberikan kerangka yang masih relevan.

Freud melihat kepribadian sebagai interaksi antara dorongan impulsif, kontrol realitas, dan nilai moral. Sehingga dalam era digital, dorongan untuk mendapatkan kepuasan instan mendapat “dukungan sistem” dari teknologi. Notifikasi, video pendek, dan umpan tanpa akhir memperkuat kecenderungan impulsif, sementara kemampuan mengendalikan diri masih berkembang pada masa remaja.

Anna Freud menambahkan perspektif bahwa manusia memiliki mekanisme pertahanan diri. Pada remaja, bentuk yang sering muncul adalah penghindaran, penyangkalan, atau pelarian ke dunia digital ketika menghadapi stres. Ini membantu meredakan kecemasan sementara, tetapi tidak menyelesaikan masalah. Mereka lari ke handphone untuk “curhat”.

Erik Erikson menempatkan masa remaja sebagai “fase pencarian identitas”. Tantangan di era digital adalah identitas tidak lagi hanya dibentuk di dunia nyata, tetapi juga di ruang virtual yang sangat performatif. Validasi publik menjadi bagian dari proses pembentukan diri.

Donald Winnicott juga menyebut kondisi ini sebagai risiko terbentuknya “false self”—diri yang dibangun untuk memenuhi ekspektasi lingkungan, bukan ekspresi autentik diri. Media sosial memperkuat dorongan untuk selalu tampil sempurna, sehingga sebagian remaja merasa harus “baik-baik saja” bahkan ketika tidak demikian.

Sementara itu, John Bowlby melalui teori keterikatan menekankan bahwa ketahanan mental sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan awal dengan pengasuh. Remaja dengan keterikatan aman cenderung lebih stabil secara emosional karena memiliki dasar rasa aman internal. Sebaliknya, mereka yang kurang mendapat dukungan emosional lebih rentan mencari validasi eksternal, termasuk dari dunia digital.

Jika dirangkum, kerentanan mental remaja di era digital bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi antara perkembangan psikologis alami dan lingkungan sosial yang terus menstimulasi kebutuhan akan pengakuan.


Mengelola, Bukan Menghindari

Pendekatan yang hanya menekankan pembatasan layar tidak lagi cukup. Ketahanan mental tidak dibangun melalui larangan, tetapi melalui kemampuan mengelola pengalaman psikologis secara sadar.

Pertama, remaja perlu dibantu mengenali emosi mereka sendiri. Banyak penggunaan media sosial sebenarnya bukan untuk hiburan, tetapi untuk menghindari perasaan tidak nyaman seperti kesepian atau cemas.

Kedua, regulasi emosi harus dilatih melalui pengalaman nyata. Aktivitas seperti olahraga, seni, organisasi, dan interaksi sosial langsung memberi ruang bagi remaja untuk belajar menghadapi frustrasi dan kegagalan.

Ketiga, identitas perlu dibangun di luar dunia digital. Harga diri yang bertumpu pada kemampuan nyata jauh lebih stabil dibandingkan validasi virtual.

Keempat, keluarga tetap menjadi faktor paling penting. Kehadiran emosional orang tua—bukan sekadar pengawasan—menjadi fondasi ketahanan psikologis. Rumah perlu menjadi ruang aman untuk berbicara tanpa takut dihakimi.

Kelima, literasi digital perlu diperluas menjadi literasi psikologis: memahami bagaimana algoritma bekerja, bagaimana perbandingan sosial terbentuk, dan bagaimana perhatian manusia dieksploitasi oleh desain platform.


Penutup: Ketangguhan di Tengah Layar

Era digital tidak dapat dihindari. Ia bukan ancaman yang bisa dihapus, melainkan realitas yang harus dihadapi. Karena itu, tantangannya bukan menjauhkan remaja dari teknologi, tetapi memastikan mereka tidak kehilangan diri di dalamnya.

Ketangguhan mental bukan berarti tidak pernah cemas atau gagal. Ketangguhan berarti mampu mengenali diri sendiri, memahami emosi, dan bangkit kembali setelah tekanan. Dalam dunia yang terus menuntut perhatian, kemampuan untuk tetap mengenali diri saat layar dimatikan mungkin menjadi keterampilan paling penting bagi generasi ini.

Di tengah banjir notifikasi dan arus perbandingan sosial yang tidak pernah berhenti, pertanyaan yang paling relevan bukan lagi berapa lama remaja berada di depan layar, tetapi apakah mereka masih mengenali dirinya sendiri ketika layar itu dimatikan. Karenanya kita musti sebanyak mungkin menyediakan ruang interaksi fisik bagi remaja. Perbanyak kegiatan permainan, hobi, olahraga, pertandingan, diskusi dan kompetisi. Di situlah masa depan kesehatan mental mereka dipertaruhkan.

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga