Beranda Artikel & Kajian Komunikasi Harga Naik [Terinspirasi dari film Seni...

Komunikasi Harga Naik [Terinspirasi dari film Senin Harga Naik]

Admin PESAT 23 July 2026 85× dilihat Masyarakat Peduli Kependudukan
Komunikasi Harga Naik [Terinspirasi dari film Senin Harga Naik]

Oleh: I Made Yudhistira D

Di tengah semakin mahalnya harga kebutuhan hidup, ada satu "harga" lain yang diam-diam ikut melonjak di dalam keluarga Indonesia: harga sebuah komunikasi. Bukan karena kata-kata semakin sulit diucapkan, melainkan karena mendengarkan telah menjadi keterampilan yang semakin langka. Rumah-rumah kita mungkin masih dipenuhi percakapan, tetapi belum tentu dipenuhi dialog. Kita berbicara setiap hari, tetapi semakin sedikit yang benar-benar merasa didengar.

Film Senin Harga Naik menghadirkan ironi itu dengan sederhana namun mengusik. Konflik antara seorang ibu dan tiga anaknya sekilas tampak dipicu persoalan ekonomi, pilihan hidup, dan masa depan keluarga. Namun, jika dicermati lebih dalam, akar persoalannya bukanlah uang, melainkan komunikasi yang kehilangan empati. Sang ibu merasa seluruh pengorbanannya tidak dihargai. Ketiga anak merasa pilihan hidup mereka tidak pernah dipahami. Di tengah cinta yang sama-sama besar, masing-masing justru berbicara dari sudut pandangnya sendiri tanpa benar-benar mendengar sudut pandang yang lain.

Fenomena tersebut sesungguhnya bukan hanya milik keluarga dalam film. Ia menjadi potret banyak keluarga Indonesia hari ini. Orang tua dibesarkan dalam budaya yang menempatkan kepatuhan sebagai bentuk penghormatan. Sebaliknya, anak-anak Generasi Z dan Generasi Alpha tumbuh dalam budaya yang lebih terbuka, kritis, dan terbiasa menyampaikan pendapat. Ketika dua generasi itu menggunakan bahasa komunikasi yang berbeda, konflik menjadi sesuatu yang hampir tidak terhindarkan.

Dalam kajian ilmu komunikasi, Family Communication Patterns Theory yang dikembangkan Mary Anne Fitzpatrick dan David Koerner menjelaskan bahwa kualitas keluarga dipengaruhi oleh dua orientasi utama: conversation orientation dan conformity orientatio. Keluarga dengan orientasi percakapan yang tinggi memberi ruang kepada setiap anggota untuk berdiskusi, menyampaikan perasaan, bahkan berbeda pendapat. Sebaliknya, keluarga yang terlalu menekankan keseragaman lebih mengutamakan kepatuhan terhadap otoritas orang tua. Masalah muncul ketika kepatuhan dianggap sebagai satu-satunya ukuran kasih sayang. Anak akhirnya belajar diam, bukan karena setuju, tetapi karena merasa suaranya tidak lagi memiliki tempat.

Film ini memperlihatkan bagaimana komunikasi yang didominasi instruksi perlahan mengikis hubungan emosional. Kalimat-kalimat yang sebenarnya lahir dari rasa sayang terdengar seperti tuntutan. Sebaliknya, keinginan anak untuk menentukan masa depannya diterjemahkan sebagai bentuk pembangkangan. Di sinilah komunikasi mengalami distorsi. Pesan yang ingin disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima. Dalam teori komunikasi interpersonal, kondisi ini dikenal sebagai kegagalan proses encoding dan decoding, ketika makna yang dimaksud pembicara tidak lagi sama dengan makna yang dipahami pendengar.

Dari perspektif psikologi perkembangan, karakter sang ibu memperlihatkan kecenderungan pola asuh yang dekat dengan authoritarian parenting sebagaimana dijelaskan Diana Baumrind. Pola asuh ini lahir bukan karena kurangnya kasih sayang, melainkan karena keyakinan bahwa orang tua selalu mengetahui yang terbaik bagi anak. Aturan dibuat secara sepihak, sementara ruang dialog menjadi terbatas. Penelitian Baumrind menunjukkan bahwa pola asuh seperti ini memang dapat menghasilkan disiplin, tetapi juga berisiko menurunkan keterbukaan, kepercayaan diri, dan kemampuan anak mengomunikasikan emosinya. Anak mungkin patuh di hadapan orang tua, tetapi memilih menjauh ketika menghadapi persoalan hidup yang sesungguhnya.

Sebaliknya, berbagai penelitian mutakhir dalam psikologi keluarga menunjukkan bahwa komunikasi yang terbuka menjadi salah satu faktor protektif terpenting bagi kesehatan mental keluarga. Laporan-laporan ilmiah yang diterbitkan dalam beberapa tahun terakhir pada jurnal-jurnal seperti Journal of Family Psychology dan Family Process menunjukkan bahwa keluarga yang membangun komunikasi penuh empati memiliki tingkat konflik yang lebih rendah, kualitas kesehatan mental yang lebih baik, serta kemampuan adaptasi yang lebih tinggi terhadap tekanan ekonomi maupun perubahan sosial. Yang paling menarik, penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak tidak menuntut orang tua selalu benar; mereka lebih membutuhkan orang tua yang bersedia mendengarkan tanpa terlebih dahulu menghakimi.

Perspektif Attachment Theory dari John Bowlby semakin memperjelas persoalan tersebut. Hubungan emosional yang aman [secure attachment] bukan dibangun melalui kesempurnaan orang tua, melainkan melalui kehadiran emosional yang konsisten. Anak membutuhkan rumah sebagai tempat yang aman untuk mengungkapkan ketakutan, kegagalan, dan kebingungannya. Ketika setiap percakapan selalu berakhir dengan kritik atau penilaian, rumah kehilangan fungsi psikologisnya sebagai safe haven. Yang tersisa hanyalah tempat tinggal, bukan tempat pulang.

Film Senin Harga Naik juga memperlihatkan bagaimana setiap anggota keluarga sesungguhnya sedang membawa luka masing-masing. Sang ibu memendam kelelahan dan kecemasan setelah bertahun-tahun berjuang membesarkan anak-anaknya. Anak-anak memendam rasa tidak pernah dipercaya atas keputusan hidup mereka. Dalam psikologi komunikasi, situasi ini dapat dijelaskan melalui konsep fundamental attribution error, yaitu kecenderungan manusia menilai perilaku orang lain sebagai cerminan sifat buruk, tetapi menilai perilaku dirinya sendiri sebagai akibat situasi. Sang ibu melihat anak-anak sebagai pribadi yang keras kepala. Anak-anak melihat ibunya sebagai sosok yang terlalu mengendalikan. Padahal keduanya sama-sama sedang mempertahankan cara masing-masing untuk mencintai.

Di sinilah relevansi film ini dengan isu ketahanan keluarga menjadi sangat kuat. Selama ini ketahanan keluarga sering dipahami sebatas kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi. Padahal, keluarga yang tangguh bukan hanya keluarga yang mampu membayar biaya pendidikan, cicilan rumah, atau kebutuhan sehari-hari. Ketahanan keluarga juga dibangun oleh kemampuan mengelola konflik, mengendalikan emosi, dan menjaga komunikasi tetap hidup. Ketika komunikasi rusak, persoalan ekonomi yang kecil dapat berubah menjadi krisis keluarga. Sebaliknya, komunikasi yang sehat sering kali membuat keluarga mampu melewati tekanan ekonomi yang jauh lebih berat.

Indonesia sedang menikmati bonus demografi sekaligus menghadapi perubahan sosial yang sangat cepat. Perubahan teknologi, mobilitas kerja, serta pergeseran nilai antargenerasi membuat keluarga menghadapi tantangan yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Karena itu, membangun ketahanan keluarga tidak cukup hanya melalui bantuan ekonomi atau program kesejahteraan. Yang tidak kalah penting adalah membangun literasi komunikasi keluarga. Orang tua perlu belajar mendengar tanpa merasa kehilangan wibawa. Anak perlu belajar menyampaikan perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat. Dialog harus menjadi budaya baru di dalam rumah.

Pelajaran terbesar dari flm Senin Harga Naik bukanlah tentang siapa yang akhirnya meminta maaf. Film ini justru mengingatkan bahwa dalam keluarga, kemenangan tidak pernah lahir dari perdebatan. Kemenangan sejati terjadi ketika setiap anggota merasa dipahami. Sebab cinta yang tidak dikomunikasikan dengan baik sering kali terdengar seperti kemarahan. Sebaliknya, perhatian yang tidak dibungkus empati mudah diterjemahkan sebagai penolakan.

Barangkali itulah makna sesungguhnya dari judul tulisan ini. Yang sedang "naik" bukan hanya harga kebutuhan pokok, melainkan juga harga sebuah komunikasi. Ongkos untuk saling mendengar terasa semakin mahal karena ego sering kali lebih keras daripada kasih sayang. Jika keadaan ini terus dibiarkan, keluarga tidak akan runtuh karena kekurangan cinta, tetapi karena kehabisan percakapan.

Maka, sebelum kita sibuk menghitung inflasi ekonomi, ada baiknya kita mulai menghitung inflasi komunikasi di dalam rumah. Sebab keluarga yang mampu bertahan hingga puluhan tahun bukanlah keluarga yang bebas konflik, melainkan keluarga yang selalu menyediakan ruang untuk berkata, "Aku ingin memahami perasaanmu".Di situlah ketahanan keluarga sesungguhnya dibangun—bukan di ruang sidang, bukan di kantor, melainkan di meja makan, di ruang tamu, dan di hati setiap anggota keluarga yang masih bersedia mendengar sebelum berbicara.

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga