Oleh: Team Ditpenduk
Julukan “Gotham City” yang disematkan publik kepada Jakarta Barat sesungguhnya bukan sekadar humor media sosial. Ia merupakan simbol keresahan sosial atas meningkatnya rasa tidak aman masyarakat terhadap aksi kriminal jalanan, terutama begal yang semakin sering muncul dalam pemberitaan maupun percakapan digital masyarakat urban. Viral daftar titik rawan begal di Jakarta hingga respons aparat kepolisian memperlihatkan bahwa masyarakat sedang berada dalam kondisi krisis kepercayaan terhadap keamanan ruang publik.
Dalam perspektif kriminologi sosial, begal bukan sekadar tindak kriminal individual. Ia merupakan gejala sosial yang lahir dari kombinasi tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, lemahnya kontrol lingkungan, dan kegagalan pembangunan manusia di kawasan urban padat penduduk.Namun persoalan ini menjadi jauh lebih kompleks ketika dilihat dari perspektif psikologi sosial.
Begal pada dasarnya tidak lahir tiba-tiba. Banyak pelaku tumbuh dalam lingkungan sosial yang mengalami frustrasi kolektif, tekanan ekonomi berkepanjangan, disfungsi keluarga, minim empati sosial, serta rendahnya pengakuan sosial terhadap identitas diri mereka. Dalam psikologi sosial, kondisi ini sering memunculkan apa yang disebut social alienation atau keterasingan sosial — perasaan tidak dianggap, tidak memiliki masa depan, dan kehilangan tempat dalam masyarakat. Ketika individu merasa gagal memperoleh pengakuan melalui jalur pendidikan, pekerjaan, atau prestasi sosial, sebagian mencari identitas alternatif melalui kelompok kekerasan, geng jalanan, atau kriminalitas.
Dalam banyak kasus, begal tidak hanya didorong motif ekonomi, tetapi juga dorongan psikologis, seperti : kebutuhan akan pengakuan, pencarian status kelompok, pelampiasan kemarahan sosial, hingga sensasi kekuasaan terhadap korban. Fenomena tersebut diperkuat oleh psikologi massa digital. Media sosial hari ini sering menjadi ruang reproduksi budaya kekerasan. Konten tawuran, balap liar, hingga aksi kriminal viral kerap mendapatkan perhatian besar dan dianggap sebagai simbol keberanian atau “kejantanan jalanan”. Akibatnya, sebagian remaja yang rapuh secara psikologis mengalami desensitisasi moral — kondisi ketika kekerasan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang salah, tetapi sebagai hal biasa. Yang lebih berbahaya, masyarakat pun perlahan mengalami trauma sosial kolektif.
Ketika warga takut keluar malam, khawatir melintasi jalan tertentu, atau selalu curiga terhadap orang asing di jalan, maka psikologi sosial masyarakat sedang mengalami degradasi rasa aman. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melahirkan masyarakat urban yang individualistis, penuh kecemasan, dan kehilangan solidaritas sosial. Di sinilah persoalan begal menjadi sangat relevan dengan gerakan Masyarakat Peduli Kependudukan. Isu kependudukan sejatinya bukan hanya soal jumlah penduduk, tetapi kualitas kehidupan manusia. Kepadatan penduduk tanpa kualitas pendidikan, lemahnya ketahanan keluarga, pengangguran usia muda, serta minimnya ruang sosial produktif akan menciptakan kerentanan kriminalitas yang tinggi. Kawasan urban padat dengan pengawasan sosial rendah sangat mudah menjadi ruang tumbuh perilaku menyimpang. Ketika keluarga kehilangan fungsi pengasuhan, sekolah gagal membangun karakter, dan lingkungan sosial miskin keteladanan, maka generasi muda menjadi rentan mencari identitas melalui kekerasan. Karena itu, solusi terhadap begal tidak cukup hanya dengan operasi keamanan dan penangkapan pelaku.
Pendekatan represif memang penting, tetapi tidak akan menyelesaikan akar persoalan jika negara gagal membangun ketahanan sosial masyarakat. Yang dibutuhkan adalah pendekatan keamanan berbasis pembangunan manusia dan kependudukan. Gerakan Masyarakat Peduli Kependudukan perlu didorong menjadi gerakan sosial yang memperkuat ketahanan keluarga, kesehatan mental remaja, pendidikan karakter, pemberdayaan pemuda rentan,literasi digital, serta pembangunan ruang publik yang sehat dan produktif. Sebab keamanan kota sejatinya bukan hanya soal banyaknya aparat di jalan, tetapi tentang seberapa besar masyarakat merasa memiliki harapan hidup. Kota yang sehat adalah kota yang mampu membuat generasi mudanya merasa dihargai, memiliki masa depan, dan tidak mencari identitas melalui kekerasan. Ketika masyarakat mulai menyebut kotanya sebagai “Gotham City”, sesungguhnya itu adalah alarm sosial bahwa pembangunan manusia kita sedang membutuhkan “BATMAN”- bukan sekadar sosok pahlawan, melainkan simbol hadirnya negara, masyarakat, keluarga, dan seluruh elemen bangsa dalam melakukan penanganan yang serius, cepat, dan berkeadilan terhadap krisis sosial perkotaan.