BENTUK PUSAT INFORMASI KONSELING REMAJA DI SEKOLAH SIAGA KEPENDUDUKAN UNTUK PERKUAT POTENSI DAN MENTAL GENERASI BANGSA
Jakarta, 19 Juni 2026 – Upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak dapat dilepaskan dari kualitas anak dan remaja yang saat ini berada di bangku sekolah. Kesadaran tersebut menjadi landasan penyelenggaraan Gema Edukasi Sekolah Siaga Kependudukan (SSK): Pembentukan dan Pembinaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) pada SSK yang diselenggarakan Direktorat Pengelolaan Kerja Sama Pendidikan Kependudukan, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Jumat (19/6)
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kemendukbangga ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta di seluruh Indonesia. Kapasitas Zoom sebanyak 1.000 peserta terisi penuh sejak awal kegiatan, sementara peserta lainnya mengikuti acara melalui siaran langsung YouTube. Peserta berasal dari Perwakilan BKKBN Provinsi, OPD KB Provinsi dan Kabupaten/Kota, IPeKB, Penyuluh KB/PLKB, Forum GenRe, serta berbagai mitra yang selama ini berperan dalam pembinaan remaja melalui jalur pendidikan.
Dalam arahannya, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas Generasi Z dan Generasi Alpha yang saat ini berada di sekolah-sekolah.
"Ketika kita berbicara tentang Indonesia Emas 2045, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang Generasi Z dan Generasi Alpha yang hari ini berada di ruang-ruang kelas sekolah kita," ujarnya.
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, Generasi Z dan Generasi Alpha mencapai sekitar 44,58 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah tersebut merupakan modal pembangunan yang sangat besar sekaligus peluang strategis untuk memanfaatkan bonus demografi secara optimal.
Namun demikian, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang menyasar kelompok remaja, seperti perkawinan anak, penyalahgunaan narkoba, perundungan, kekerasan terhadap anak, anemia pada remaja putri, serta berbagai persoalan kesehatan mental. Berbagai persoalan tersebut berpotensi menghambat lahirnya generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing.
Sebagai bagian dari upaya menjawab tantangan tersebut, Kemendukbangga terus mengembangkan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R).
Deputi menegaskan bahwa kedua program tersebut harus berjalan secara sinergis. SSK berperan membangun ekosistem pendidikan kependudukan melalui pembelajaran, literasi, dan penguatan karakter peserta didik. Sementara itu, PIK-R menjadi ruang aktualisasi remaja untuk memperoleh informasi yang benar, mengembangkan keterampilan hidup, serta menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah.
"Sinergi SSK dan PIK-R merupakan kunci dalam membentuk generasi yang sehat, berkarakter, berencana, dan berwawasan kependudukan," tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Pengelolaan Kerja Sama Pendidikan Kependudukan menjelaskan bahwa kegiatan Gema Edukasi tidak hanya menjadi sarana peningkatan kapasitas, tetapi juga forum bersama untuk merumuskan langkah-langkah konkret dalam mempercepat pembentukan dan pembinaan PIK-R di lingkungan SSK.
Menurutnya, pembentukan PIK-R perlu dilakukan secara sistematis dan berbasis data. Langkah awal yang harus dilakukan daerah adalah mengidentifikasi dan memvalidasi data SSK yang belum memiliki PIK-R. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas dan strategi pembinaan yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Dukungan terhadap penguatan sinergi SSK dan PIK-R juga disampaikan Direktur Bina Ketahanan Remaja. Ia menjelaskan bahwa PIK-R merupakan wadah kegiatan yang dikelola dari, oleh, dan untuk remaja guna memberikan akses informasi, pelatihan, dan konseling terkait Perencanaan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR).
Melalui pendekatan teman sebaya, PIK-R diharapkan menjadi ruang yang efektif bagi remaja untuk memperoleh informasi yang benar, membangun karakter, meningkatkan keterampilan hidup, dan merencanakan masa depan secara lebih matang.
Direktur Bina Ketahanan Remaja juga memaparkan tahapan pembentukan dan pembinaan PIK-R di sekolah, mulai dari pemetaan kebutuhan, advokasi kepada kepala sekolah, pembentukan kepengurusan, penerbitan surat keputusan, hingga pendampingan dan pelaporan melalui Sistem Informasi Keluarga (SIGA).
Perspektif lapangan turut disampaikan oleh Apilion Joniko, Penyuluh KB Provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan pengalamannya mendampingi sekolah, ia menekankan bahwa keberhasilan pembentukan PIK-R sangat ditentukan oleh kualitas advokasi kepada pihak sekolah.
Menurutnya, setiap sekolah memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda sehingga strategi pendekatan harus disesuaikan. PIK-R dan SSK perlu diposisikan sebagai solusi atas berbagai persoalan remaja di sekolah, bukan sebagai tambahan beban bagi satuan pendidikan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari peserta. Salah satu peserta dari OPD KB menyampaikan bahwa sinergi antara SSK dan PIK-R merupakan langkah strategis karena keduanya sama-sama menyasar remaja usia sekolah. Kolaborasi tersebut memungkinkan pemanfaatan sumber daya yang lebih efektif sehingga menghasilkan dampak yang lebih optimal.
Melalui kegiatan ini, Kemendukbangga berharap terbangun komitmen yang semakin kuat antara pengelola SSK, pengelola PIK-R, Penyuluh KB, OPD KB, serta seluruh pemangku kepentingan di daerah untuk memperluas pembentukan dan pembinaan PIK-R pada Sekolah Siaga Kependudukan.
Dengan sinergi yang semakin kuat, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang tumbuh yang mampu membentuk generasi muda yang sehat, berkarakter, berencana, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.