Jakarta — Dalam rangka memperingati Hari Kependudukan Dunia (HKD) atau World Population Day (WPD) yang diperingati setiap 11 Juli, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Kemendukbangga/BKKBN) melalui Direktorat Analisa Dampak Kependudukan bekerja sama dengan UNFPA Indonesia menyelenggarakan Press Briefing di Ruang Command Center, Gedung Halim 1 Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Rabu (8/7).
Mengusung tema global "Wujudkan Harapan dan Aspirasi Orang Muda, Hari Ini dan untuk Masa Depan", kegiatan ini dihadiri Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Isyana Bagus Oka, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Bonivasius Prasetya Ichtiarto, Kepala Perwakilan UNFPA Indonesia Hassan Mohtashami, jajaran pejabat Kemendukbangga/BKKBN, serta insan media.
Sambutan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji yang dibacakan oleh Wakil Menteri Isyana Bagus Oka menegaskan bahwa tema HKD 2026 mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memandang generasi muda bukan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi juga sebagai mitra utama dalam menentukan arah pembangunan.
"Melalui Press Briefing ini, kami berharap informasi mengenai Hari Kependudukan Dunia Tahun 2026 dapat tersampaikan secara luas kepada masyarakat. Kami juga mengajak media untuk terus menjadi mitra dalam menyebarkan pesan-pesan positif tentang pentingnya membangun generasi muda yang sehat, berdaya, dan optimistis menghadapi masa depan," demikian disampaikan dalam sambutan Menteri.
Menteri juga menegaskan bahwa meningkatnya kecenderungan anak muda menunda kehidupan berkeluarga tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan preferensi pribadi. Berbagai hambatan sistemik seperti ketidakpastian ekonomi, keterbatasan akses terhadap pekerjaan yang layak, tingginya biaya pendidikan dan perumahan, serta tantangan menjaga keseimbangan kehidupan dan pekerjaan turut memengaruhi keputusan tersebut.
Karena itu, pemerintah tidak berupaya mengintervensi pilihan hidup generasi muda, melainkan menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka mewujudkan aspirasi hidup secara bebas, bertanggung jawab, dan bermartabat.
Komitmen tersebut diperkuat melalui penyusunan Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) sebagai arah kebijakan jangka menengah yang mengintegrasikan isu kependudukan ke dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah menuju Indonesia Emas 2045.
Potret Demografi dan Peta Jalan Pembangunan Kependudukan
Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN Bonivasius Prasetya Ichtiarto memaparkan materi bertajuk Realizing the Hopes and Aspirations of Young People – Today and for the Future.
Ia menjelaskan bahwa hasil Demographic Futures Survey UNFPA 2026 terhadap lebih dari 108.000 responden berusia 18–39 tahun di 73 negara, termasuk Indonesia, menunjukkan mayoritas generasi muda tetap menginginkan pernikahan dan menjadi orang tua. Namun, terwujudnya aspirasi tersebut sangat bergantung pada keamanan finansial, pekerjaan yang stabil, perumahan yang terjangkau, serta dukungan kebijakan dan lingkungan sosial.
"Yang berubah bukan aspirasinya, tetapi kemampuan untuk mewujudkannya. Fertilitas bukan hanya persoalan preferensi, tetapi juga persoalan kesempatan (opportunity)," ujar Bonivasius.
Ia juga memaparkan kondisi demografi Indonesia berdasarkan data SUPAS 2025, yang menunjukkan pembentukan keluarga melalui pernikahan meningkat pada kelompok usia 25–34 tahun, sementara penduduk berstatus menikah tetap menjadi kelompok terbesar di seluruh provinsi.
Menurutnya, keberhasilan Indonesia memanfaatkan bonus demografi ditentukan oleh kemampuan negara mewujudkan aspirasi generasi mudanya. Untuk itu, PJPK disusun dengan mengintegrasikan isu fertilitas, penuaan penduduk, migrasi, urbanisasi, dan pembangunan keluarga ke dalam perencanaan pembangunan pusat maupun daerah melalui 28 indikator.
"Kependudukan adalah fondasi pembangunan. Generasi muda bukan sekadar objek kebijakan, tetapi mitra dalam merancang masa depan demografi," tegasnya.
Survei Global UNFPA: Generasi Muda Tetap Menginginkan Keluarga
Kepala Perwakilan UNFPA Indonesia Hassan Mohtashami memaparkan hasil publikasi The Demographic Futures Survey 2026 yang menunjukkan bahwa generasi muda tidak menolak pernikahan maupun institusi keluarga. Sebaliknya, mereka menetapkan standar yang lebih tinggi dengan memprioritaskan stabilitas finansial serta kesehatan fisik dan mental sebelum memasuki tahapan kehidupan baru.
Survei tersebut menunjukkan sekitar 90 persen responden memprioritaskan keamanan finansial dan kesehatan, sementara dua pertiga responden tetap optimistis terhadap masa depan mereka.
Selain itu, lebih dari dua pertiga responden masih memandang pernikahan sebagai jalur hidup ideal. Sebagian besar responden berusia 35–39 tahun yang belum memiliki anak juga menyatakan ingin menjadi orang tua, namun menghadapi kendala berupa kondisi ekonomi, pekerjaan yang stabil, dan keterbatasan akses terhadap perumahan yang terjangkau.
Hassan turut menyoroti tantangan yang dihadapi remaja Indonesia, di antaranya 48 persen infeksi HIV baru terjadi pada kelompok usia 15–24 tahun, serta satu dari empat perempuan Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya.
"Penurunan fertilitas tidak boleh direspons dengan menyalahkan keputusan generasi muda atau membatasi hak tubuh mereka. Ketahanan demografis (demographic resilience) adalah kunci," ujar Hassan.
Ia menekankan pentingnya penguatan profesi kebidanan, penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan praktik berbahaya, serta kebijakan lintas sektor sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan.
Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045
Melalui Press Briefing ini, Kemendukbangga/BKKBN dan UNFPA Indonesia menegaskan bahwa data dan hasil riset memiliki peran strategis dalam mendukung perumusan kebijakan kependudukan yang lebih tepat sasaran.
Kolaborasi kedua pihak diharapkan terus memperkuat pembangunan kependudukan yang berbasis data, menghormati hak setiap individu, serta memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.
Kemendukbangga/BKKBN bersama UNFPA Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk terus mendengarkan suara generasi muda dan memastikan setiap kebijakan pembangunan mampu mewujudkan harapan serta aspirasi mereka sebagai bagian dari upaya membangun keluarga berkualitas, penduduk yang tangguh, dan Indonesia maju menuju Indonesia Emas 2045.