JAKARTA — Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) mengajak mahasiswa Binus University, untuk mengambil peran sebagai aktor kunci dalam memanfaatkan bonus demografi Indonesia. Ajakan itu disampaikan dalam Kuliah Umum Kependudukan bertajuk "Bonus Demografi Indonesia 2045: The Future is in Our Hands” yang digelar di Aula Lantai 8, Kampus Anggrek Binus University, Kemanggisan, Jakarta, pada Kamis, 4 Juni 2026.
Kuliah umum dibuka langsung oleh Vice Rector Student Affairs Binus University, Prof. Dr. Ir. Yohannes Kurniawan, S.Kom., S.E., MMSI., dan turut dihadiri Student Affairs Senior Manager Binus University Robby Saleh, S.Kom., M.T., jajaran pimpinan Binus University, serta ratusan mahasiswa untuk menyimak paparan dari Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN Dr. Eng. Bonivasius Prasetya Ichtiarto.
Dalam pemaparannya, Dr. Eng. Bonivasius Prasetya Ichtiarto menegaskan bahwa Indonesia tengah berada pada periode bonus demografi yang ditandai oleh dominannya penduduk usia produktif. Kondisi ini menjadi peluang strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045.
Berdasarkan data profil penduduk dan hasil SUPAS, jumlah penduduk Indonesia terus meningkat sehingga diperlukan kebijakan kependudukan yang mampu mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia sebagai modal pembangunan nasional. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa bonus demografi tidak akan otomatis menghasilkan kemajuan apabila tidak ditopang oleh peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, keterampilan kerja, dan ketersediaan lapangan kerja yang memadai. Tanpa kesiapan tersebut, peluang emas ini justru berisiko berubah menjadi tantangan.
Menurut Dr. Eng. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, kapitalisasi bonus demografi dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja, penguatan sektor manufaktur, pengembangan kewirausahaan, pemanfaatan teknologi digital, serta pembangunan berkelanjutan di wilayah desa dan kota.
Dari sisi pendidikan, dibutuhkan investasi yang lebih besar pada pengembangan keterampilan abad ke-21, pemerataan akses pendidikan berkualitas, penciptaan talenta unggul, serta penguatan keterkaitan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja. Ia juga menggarisbawahi pentingnya peningkatan literasi digital, kemampuan berpikir kritis (critical thinking), komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan kecerdasan emosional sebagai kompetensi utama di era disrupsi.
Mahasiswa dan Generasi Z, menurut Dr. Eng. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, merupakan aktor kunci dalam kapitalisasi bonus demografi melalui peningkatan kompetensi, partisipasi sosial dan politik, kewirausahaan, inovasi, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan ekonomi hijau (green economy).Ia turut memetakan sejumlah tantangan kependudukan dan ketenagakerjaan yang harus diantisipasi, antara lain tingginya persaingan kerja, ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri (skill mismatch), perubahan teknologi yang cepat, serta kebutuhan menciptakan lapangan kerja baru yang berkualitas. "Keberhasilan memanfaatkan bonus demografi sangat bergantung pada sinergi pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan generasi muda untuk membangun SDM yang unggul, produktif, inovatif, dan berdaya saing global," tegasnya.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Gilang, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Binus, menyoroti kecenderungan sebagian generasi muda untuk bekerja, melanjutkan studi, atau menetap di luar negeri setelah memperoleh pendidikan di dalam negeri, serta kaitannya dengan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah. Ia menanyakan upaya strategis pemerintah untuk memperkuat rasa memiliki terhadap bangsa dan mendorong generasi muda tetap optimistis membangun Indonesia.
Menanggapi hal itu, Dr. Eng. Bonivasius Prasetya Ichtiarto menilai keinginan masyarakat mencari kehidupan yang lebih baik, termasuk bekerja atau tinggal di luar negeri, adalah hal yang wajar dan tidak bisa dipaksakan. Karena itu, ia menegaskan, pemerintah berkewajiban menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan menjanjikan harapan bagi warganya. Hal itu antara lain ditempuh dengan membenahi layanan publik, mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih dan tepercaya. Ia mencontohkan sejumlah negara seperti Filipina yang memiliki tradisi migrasi kuat, sehingga fenomena ini bukan hal yang khas Indonesia. Ke depan, menurutnya, diperlukan analisis yang lebih mendalam mengenai faktor pendorong migrasi agar kebijakan dapat lebih tepat sasaran.
Pertanyaan lain datang dari Nathael, yang mengangkat isu penurunan angka kelahiran hingga sekitar dua anak per perempuan, menguatnya tren hidup tanpa anak (childfree), serta kekhawatiran Indonesia menghadapi penuaan penduduk dan stagnasi ekonomi seperti yang dialami sejumlah negara di Jepang dan Eropa. Ia menanyakan strategi dan program yang disiapkan pemerintah untuk menjaga keseimbangan struktur penduduk dan memperkuat kesejahteraan keluarga muda.
Diskusi sempat mencair ketika Dr. Eng. Bonivasius Prasetya Ichtiarto membuka ruang dialog tentang pilihan childfree. Seorang mahasiswi mengungkapkan pertimbangannya secara terbuka, mulai dari biaya membesarkan anak hingga keinginan mengembangkan diri. Bonivasius merespons dengan empati dan berbagi pengalaman pribadi bahwa ia baru menikah pada usia 31 tahun setelah merasa siap secara hidup.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya menghadirkan lingkungan yang lebih ramah keluarga, antara lain melalui implementasi Undang-Undang Kesehatan Ibu dan Anak yang menjamin cuti bagi ibu maupun ayah setelah kelahiran anak. Selain itu, Kemendukbangga mengembangkan program Taman Asuh Anak (TAMASYA) atau layanan day care yang memungkinkan orang tua bekerja, khususnya perempuan, menitipkan anak di tempat yang aman dan berkualitas. "Dengan berbagai dukungan tersebut, diharapkan pasangan dapat lebih tenang dan yakin dalam merencanakan kehidupan berkeluarga," ujarnya.
Kuliah umum ini menegaskan bahwa bonus demografi adalah peluang besar sekaligus pekerjaan rumah bersama. Sejumlah faktor menjadi perhatian utama, mulai dari penanganan stunting, peningkatan akses dan kualitas pendidikan, penguatan ekonomi, hingga pengelolaan siklus hidup penduduk secara berkelanjutan.
Bagi Generasi Z, pesan yang mengemuka jelas: bekali diri dengan keterampilan yang relevan seperti kemampuan digital dan pemasaran, kepekaan terhadap perubahan, keterbukaan terhadap masukan yang membangun, serta kemampuan mengadopsi teknologi dan ekonomi hijau. Dengan sumber daya manusia yang unggul dan adaptif, bonus demografi diyakini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.