JAKARTA TIMUR, 9 September 2026 — Pendidikan kependudukan tak harus dimulai dari angka statistik, grafik pertumbuhan penduduk, atau istilah demografi yang rumit. Ia bisa dimulai dari hal yang paling dekat dengan anak: mengenali dirinya, memahami keluarganya, menghargai teman, menjaga lingkungan, dan belajar menggunakan gawai secara aman. Gagasan inilah yang menjadi pijakan penguatan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) di SD Negeri Kebon Pala 12 Pagi, Jakarta Timur, yang disiapkan sebagai salah satu pilot project Akademi Keluarga Indonesia (AKI).
Direktorat Pengelolaan Kerja Sama Pendidikan Kependudukan (Ditpenduk), Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, memberikan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Implementasi SSK kepada kepala sekolah dan guru, Rabu (9/9/2026). Kegiatan tersebut juga melibatkan DPPAPP Provinsi DKI Jakarta, Suku Dinas PPAPP Jakarta Timur, serta Penyuluh KB. Penetapan SDN Kebon Pala 12 Pagi sebagai pilot project AKI menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan kependudukan sejak jenjang dasar melalui integrasi ke dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan budaya sekolah.
“SSK tidak boleh berhenti sebagai kelembagaan atau sekadar label sekolah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana wawasan kependudukan benar-benar hadir dalam proses belajar dan kehidupan sehari-hari anak” ujar Budyawati, Ketua Tim Kerja Sekolah Siaga Kependudukan yang mewakili Ditpenduk. Menurut dia, komitmen kepala sekolah dan guru menjadi modal utama agar pendidikan kependudukan dapat diterjemahkan ke dalam pembelajaran yang sederhana, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Anak dapat diajak mengamati lingkungan tempat tinggalnya, memahami kondisi keluarga dan masyarakat, hingga melihat berbagai persoalan kependudukan dari perspektif yang sesuai dengan usianya.
Dalam kerangka AKI, pendidikan pada jenjang SD/MI berada pada tahap Pre-Basic. Fokusnya bukan membebani anak dengan teori, melainkan membangun fondasi: mengenal diri dan emosi, memahami keluarga dan pertemanan, melindungi diri, belajar bertanggung jawab, serta menggunakan teknologi secara aman. Kepala SDN Kebon Pala 12 Pagi menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN. “Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk membangun sekolah yang tidak hanya mendidik anak menjadi pintar, tetapi juga menyiapkan mereka menjadi generasi yang berkualitas dan mampu membangun keluarga serta masyarakat yang lebih baik,” ujarnya.
Langkah berikutnya adalah membentuk Tim SSK dan mengintegrasikan pendidikan kependudukan ke dalam pembelajaran dengan pendampingan Penyuluh KB dan Suku Dinas PPAPP Jakarta Timur. Ditpenduk juga memberikan penguatan mengenai pemanfaatan Sistem Monitoring dan Evaluasi Pendidikan Kependudukan (Simonev Penduk) untuk memastikan program berjalan dan dapat dievaluasi secara berkelanjutan. Dari sebuah sekolah dasar di Kebon Pala, upaya itu diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa bonus demografi dan cita-cita Generasi Emas 2045 pada akhirnya bukan semata soal jumlah penduduk, melainkan tentang seberapa siap manusia yang mengisinya.