Oleh: I Made Yudhistira D
[Direktur Pengelolaan Kerja Sama Pendidikan Kependudukan]
Di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia, ada satu anggapan yang sering kali muncul secara otomatis: lansia yang hidup sendiri pasti kesepian. Padahal, dalam perspektif psikologi dan kesehatan lansia, hidup sendiri (alone) tidak selalu identik dengan merasa kesepian (loneliness).
Kesendirian adalah kondisi fisik. Sementara kesepian adalah kondisi psikologis. Seseorang dapat tinggal sendiri tetapi tetap merasa bermakna, terhubung, dan bahagia. Sebaliknya, seseorang dapat hidup di tengah keluarga besar namun tetap merasakan kesepian yang mendalam Perbedaan inilah yang sering terlewat dalam diskusi tentang penuaan penduduk.
Indonesia saat ini sedang memasuki era baru. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan bahwa proporsi penduduk lansia telah mencapai 11,97 persen dari total populasi nasional. Angka tersebut menandakan bahwa Indonesia resmi memasuki fase ageing population, yaitu ketika jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas melampaui 10 persen dari total penduduk. Bahkan, sebanyak 23 provinsi telah memiliki proporsi lansia di atas 10 persen.
Perubahan struktur penduduk ini merupakan konsekuensi logis dari keberhasilan pembangunan. Harapan hidup meningkat, angka kematian bayi menurun, pendidikan membaik, dan angka kelahiran terus turun mendekati tingkat penggantian penduduk (replacement level). Namun pertanyaannya bukan lagi apakah jumlah lansia akan meningkat, melainkan apakah kita siap menjadikan mereka tetap sehat, mandiri, dan produktif.
Kesepian: Ancaman yang Tak Selalu Terlihat
Dalam praktik psikologi gerontologi, kesepian bukan sekadar persoalan perasaan sedih. Kesepian kronis dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, penurunan fungsi kognitif, bahkan memperburuk penyakit kronis seperti hipertensi dan penyakit jantung. Yang menarik, penyebab utama kesepian pada lansia sering kali bukan karena mereka tinggal sendiri. Kesepian lebih banyak dipengaruhi oleh hilangnya makna sosial, berkurangnya peran dalam keluarga, kehilangan pasangan hidup, menurunnya interaksi sosial, atau munculnya perasaan tidak lagi dibutuhkan.
Ketika seorang lansia masih memiliki tujuan hidup, ruang berkarya, komunitas yang mendukung, serta kesempatan untuk berkontribusi, maka kondisi tinggal sendiri tidak otomatis menjadi masalah psikologis. Karena itu, pendekatan pembangunan lansia modern tidak lagi berfokus pada "merawat lansia yang lemah", tetapi membangun "lansia yang berdaya".
Dari Beban Menjadi Modal Sosial
Selama bertahun-tahun, lansia sering dipandang sebagai kelompok yang bergantung pada generasi muda. Cara pandang ini perlu diperbarui.
Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman, dan Italia menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah lansia tidak selalu menjadi bencana demografi. Tantangan memang muncul, tetapi jika dikelola dengan baik, lansia justru dapat menjadi sumber pengalaman, pengetahuan, dan modal sosial yang sangat berharga. Indonesia juga sedang bergerak ke arah tersebut.
Kemendukbangga/BKKBN mengembangkan Program Lansia Berdaya (Sidaya) sebagai upaya menyiapkan masyarakat menghadapi fenomena penuaan penduduk. Program ini menempatkan lansia bukan sebagai penerima bantuan semata, melainkan sebagai individu yang tetap memiliki potensi ekonomi, sosial, dan budaya. Berbagai kegiatan seperti pemeriksaan kesehatan, pendampingan keluarga, pelatihan kewirausahaan lansia, hingga pengembangan komunitas lansia aktif menjadi bagian dari program tersebut.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep bonus demografi kedua. Jika bonus demografi pertama ditandai oleh dominasi penduduk usia produktif, maka bonus demografi kedua muncul ketika kelompok lansia tetap sehat, produktif, memiliki tabungan, investasi, pengalaman, serta terus berkontribusi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Sekolah Lansia: Belajar Tidak Mengenal Batas Usia
Salah satu inovasi yang menarik adalah hadirnya Sekolah Lansia. Banyak orang mengira sekolah hanya untuk anak muda. Padahal, lansia juga membutuhkan ruang belajar. Bukan sekadar belajar membaca atau menulis, tetapi belajar tentang kesehatan, pengelolaan emosi, literasi digital, aktivitas fisik, hubungan sosial, hingga penguatan spiritualitas.
Sekolah Lansia membantu para peserta menemukan kembali identitas dan peran sosial mereka. Mereka memiliki teman baru, aktivitas rutin, kesempatan berbagi pengalaman, dan yang paling penting: merasa tetap berarti. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa perasaan memiliki tujuan hidup (sense of purpose) merupakan salah satu faktor protektif terkuat terhadap depresi dan kesepian pada lansia.
Karena itu, Sekolah Lansia sesungguhnya bukan hanya program pendidikan. Ia adalah ruang pemberdayaan dan pemulihan martabat. Program ini juga dipandang sebagai salah satu instrumen penting untuk mengubah peningkatan jumlah lansia menjadi bagian dari bonus demografi kedua Indonesia.
Lansia Tangguh Dimulai dari Keluarga
Dalam konsep pembangunan keluarga, terdapat Tujuh Dimensi Lansia Tangguh, yaitu: Dimensi spiritual; Dimensi intelektual; Dimensi fisik; Dimensi emosional; Dimensi sosial kemasyarakatan; Dimensi profesional-vokasional; Dimensi lingkungan. Ketujuh dimensi tersebut mengingatkan kita bahwa kualitas hidup lansia tidak hanya ditentukan oleh kesehatan fisik. Lansia membutuhkan kesempatan untuk berpikir, belajar, berinteraksi, berkarya, beribadah, serta hidup di lingkungan yang aman dan ramah. Lansia yang tangguh bukanlah lansia yang tidak pernah sakit. Lansia tangguh adalah mereka yang tetap mampu beradaptasi, mempertahankan makna hidup, dan merasa memiliki peran dalam kehidupan meskipun usia terus bertambah.
Menyambut Masa Tua dengan Perspektif Baru
Kita perlu berhenti memandang masa tua sebagai fase penurunan semata. Menjadi tua bukanlah kegagalan hidup. Justru menjadi tua adalah privilese yang tidak dimiliki semua orang. Ketika Indonesia memasuki era populasi menua, tantangan terbesar bukanlah bertambahnya jumlah lansia. Tantangan terbesar adalah bagaimana memastikan mereka tetap memiliki ruang untuk hidup bermakna. Karena pada akhirnya, yang paling ditakuti manusia bukanlah tinggal sendiri. Yang paling ditakuti adalah merasa tidak lagi dianggap berarti. Maka, tugas keluarga, masyarakat, dan negara bukan sekadar memperpanjang usia harapan hidup, tetapi juga memperpanjang harapan dalam hidup. Sebab seorang lansia bisa saja hidup sendiri (alone), tetapi tetap merasa utuh, berdaya, dan bahagia—tanpa harus merasa kesepian (lonely). Di situlah makna sesungguhnya dari lansia yang tangguh dan berdaya.