Oleh: I Made Yudhistira
Ada satu pekerjaan dalam kehidupan yang tidak mengenal istilah selesai: menjadi ibu. Pekerjaan itu tidak berakhir ketika anak sudah bisa berjalan, tidak selesai ketika anak sudah mampu membaca, tidak berhenti ketika anak lulus sekolah, bahkan tidak benar-benar usai ketika anak telah dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri. Yang berubah hanyalah bentuk tugasnya. Dahulu seorang ibu memastikan anak makan, tidur, mandi, dan tidak jatuh ketika belajar berjalan. Beberapa tahun kemudian ia memastikan anak belajar, memiliki teman yang baik, mengenal batas, dan mampu bertanggung jawab. Ketika anak memasuki remaja, tugasnya berubah menjadi jauh lebih rumit: menjaga tanpa terlalu mengikat, mengarahkan tanpa mendominasi, mendengarkan tanpa selalu menghakimi, dan mencintai tanpa harus mengendalikan seluruh kehidupan anak.
Sebuah penelitian yang dilakukan Suniya S. Luthar dan Lucia Ciciolla dari Arizona State University dan diterbitkan dalam Developmental Psychology pada 2016 memperlihatkan sisi lain dari perjalanan tersebut. Penelitian terhadap lebih dari 2.200 ibu dengan anak dari masa bayi hingga dewasa menemukan bahwa kesejahteraan psikologis ibu tidak bergerak lurus mengikuti pertambahan usia anak. Justru terdapat pola naik-turun yang menarik. Ibu dengan anak bayi dan anak yang telah dewasa menunjukkan sejumlah indikator penyesuaian diri yang relatif lebih baik, sementara masa middle school atau kurang lebih usia awal remaja menjadi periode yang paling menantang pada berbagai ukuran kesejahteraan, termasuk stres, kepuasan hidup, kepuasan menjalankan peran sebagai orang tua, kesepian, dan persepsi terhadap perilaku anak.
Temuan tersebut seperti membalik anggapan umum bahwa masa paling berat menjadi ibu pasti terjadi ketika anak masih bayi. Bayi memang membutuhkan energi fisik yang luar biasa. Ibu mungkin kurang tidur, harus terjaga ketika anak menangis, mengatur makan, menjaga kesehatan, sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan besar dalam kehidupan keluarga. Namun, penelitian tersebut menunjukkan sesuatu yang menarik: ibu dengan bayi dalam penelitian justru melaporkan kepuasan hidup yang relatif tinggi dan tidak menunjukkan tingkat penyesuaian yang paling buruk. Barangkali karena pada masa itu kebutuhan anak masih sangat jelas. Bayi menangis ketika lapar, menangis ketika tidak nyaman, dan mencari ibu ketika membutuhkan rasa aman. Dunia anak masih berada sangat dekat dengan dunia ibunya.
Persoalannya berubah ketika anak tumbuh. Anak yang dahulu selalu mencari tangan ibunya mulai belajar melepaskan tangan tersebut. Ia mulai memiliki teman sendiri, rahasia sendiri, pendapat sendiri, selera sendiri, dan kemudian keputusan sendiri. Di sinilah pekerjaan seorang ibu menjadi semakin kompleks. Anak tidak lagi sekadar membutuhkan perlindungan, tetapi membutuhkan ruang untuk menemukan dirinya. Bagi ibu, perubahan ini tidak selalu mudah diterima. Ada kecemasan ketika anak mulai memilih teman sendiri. Ada kekhawatiran ketika anak mulai lebih percaya kepada teman daripada orang tua. Ada kegelisahan ketika anak mulai mempertanyakan aturan yang selama bertahun-tahun dianggap benar. Bahkan ada luka kecil yang sering tidak dibicarakan ketika seorang anak mulai berkata, “Aku sudah besar, aku bisa sendiri.”
Masa SMP menjadi periode yang sangat menarik dalam penelitian Luthar dan Ciciolla karena pada tahap ini berbagai perubahan datang hampir bersamaan. Anak memasuki pubertas, mengalami perubahan fisik dan hormonal, mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih kompleks, mencari identitas diri, sekaligus mulai berusaha memperoleh jarak dari orang tua. Di sekolah, lingkungan sosial juga menjadi lebih kompleks. Anak menghadapi tuntutan akademik, relasi pertemanan, kebutuhan untuk diterima kelompok, serta berbagai bentuk tekanan sosial. Pada saat yang sama, ibu menghadapi perubahan perilaku anak yang terkadang sulit dipahami. Anak yang kemarin masih mudah diajak berbicara tiba-tiba lebih tertutup. Anak yang dahulu menerima nasihat mulai mempertanyakan semuanya. Bagi ibu, perubahan tersebut dapat terasa seperti kehilangan sesuatu yang sebelumnya sangat dekat.
Di sinilah pengasuhan sebenarnya memasuki babak yang berbeda. Mengasuh anak kecil relatif mudah dipahami karena kebutuhan mereka konkret. Mengasuh remaja membutuhkan kemampuan membaca sesuatu yang tidak selalu dikatakan. Anak mungkin mengatakan tidak membutuhkan bantuan, padahal sebenarnya sedang mengalami kebingungan. Anak mungkin tampak marah, padahal sedang takut. Anak mungkin menjauh, padahal sedang membutuhkan tempat yang aman untuk kembali. Karena itu, ibu pada masa remaja tidak cukup hanya memiliki kesabaran. Ia membutuhkan literasi perkembangan anak, kemampuan komunikasi, pengendalian emosi, dan kesediaan untuk mengubah cara mengasuh.
Sayangnya, masyarakat sering menuntut ibu untuk selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ketika anak kecil bermasalah, ibu ditanya mengapa tidak mengawasi. Ketika anak remaja memberontak, ibu kembali ditanya mengapa tidak mendidik dengan baik. Ketika anak gagal di sekolah, ibu dianggap kurang mendampingi. Ketika anak terlalu bergantung, ibu dianggap terlalu memanjakan. Ketika anak terlalu mandiri, ibu bisa dianggap kurang dekat. Seolah-olah dalam setiap situasi terdapat satu jawaban sempurna yang harus diketahui seorang ibu. Padahal pengasuhan tidak pernah sesederhana itu. Seorang ibu juga sedang belajar menjadi ibu bersamaan dengan anaknya belajar menjadi manusia.
Di sinilah pendidikan anak seharusnya tidak hanya berbicara tentang prestasi akademik. Kita terlalu mudah mengukur keberhasilan pendidikan melalui nilai rapor, ranking, kelulusan, sekolah favorit, atau universitas tempat anak diterima. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Pendidikan anak juga menyangkut kemampuan mengelola emosi, membangun hubungan sehat, mengambil keputusan, menghadapi kegagalan, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan pada akhirnya mampu menjalani kehidupan tanpa kehilangan arah. Untuk mencapai semua itu, anak membutuhkan orang tua yang bukan hanya mengajarkan, tetapi juga hadir secara emosional.
Namun ada persoalan lain yang sering luput: siapa yang mendidik ibu?
Kita memiliki begitu banyak program untuk meningkatkan kapasitas anak, tetapi sering menganggap orang tua secara otomatis tahu bagaimana menghadapi setiap fase perkembangan. Padahal seorang ibu yang berhasil merawat bayi belum tentu otomatis siap menghadapi anak remaja. Pengetahuan yang dibutuhkan berbeda. Ketika anak memasuki pubertas, ibu membutuhkan pemahaman tentang perkembangan psikologis remaja, perubahan biologis, relasi teman sebaya, kesehatan reproduksi, penggunaan teknologi, risiko perilaku, kesehatan mental, serta komunikasi keluarga. Karena itu, pendidikan keluarga seharusnya menjadi proses yang mengikuti perjalanan perkembangan anak, bukan program yang berhenti ketika anak sudah memasuki sekolah.
Penelitian Arizona State University memberikan pesan yang sangat penting dalam konteks tersebut. Dukungan kepada ibu tidak seharusnya hanya menjadi perhatian pada masa kehamilan, kelahiran, bayi, dan usia dini. Periode menjelang dan selama pubertas justru membutuhkan perhatian yang sama seriusnya. Para peneliti menyimpulkan bahwa intervensi preventif untuk ibu layak diberikan bukan hanya ketika anak masih bayi dan prasekolah, tetapi juga ketika anak melewati tahun-tahun perkembangan yang menantang di sekitar masa pubertas.
Jika diterjemahkan ke dalam konteks ketahanan keluarga, temuan tersebut memiliki makna yang lebih luas. Ketahanan keluarga bukan sekadar kemampuan bertahan ketika menghadapi kemiskinan, penyakit, kehilangan pekerjaan, konflik, atau bencana. Ketahanan keluarga juga merupakan kemampuan beradaptasi ketika setiap anggota keluarga berubah. Anak berubah. Orang tua berubah. Hubungan berubah. Cara berkomunikasi berubah. Bahkan definisi “keluarga yang baik” juga harus berkembang mengikuti tahapan kehidupan.
Keluarga yang tangguh bukan keluarga yang tidak pernah bertengkar. Bukan pula keluarga yang selalu terlihat harmonis. Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang mampu kembali menemukan keseimbangan setelah mengalami ketegangan. Ketika anak mulai remaja, misalnya, konflik mungkin meningkat bukan karena kasih sayang berkurang, tetapi karena kebutuhan untuk mandiri semakin besar. Tugas orang tua bukan menghapus seluruh konflik, melainkan memastikan bahwa konflik tidak menghancurkan hubungan. Anak boleh berbeda pendapat, tetapi tetap tahu bahwa rumah adalah tempat aman untuk kembali.
Pada titik inilah peran ayah dan anggota keluarga lain menjadi sangat penting. Beban pengasuhan tidak seharusnya diletakkan seluruhnya di pundak ibu. Penelitian Luthar dan Ciciolla memang secara khusus melihat pengalaman ibu, tetapi temuan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kesejahteraan ibu merupakan bagian dari ekosistem keluarga. Ibu yang kelelahan membutuhkan pasangan yang hadir. Ibu yang bingung membutuhkan ruang untuk berbicara. Ibu yang menghadapi konflik dengan anak membutuhkan dukungan, bukan penghakiman. Dan seorang ibu yang sedang belajar melepaskan anak membutuhkan lingkungan yang memahami bahwa melepaskan bukan berarti berhenti mencintai.
Ada sebuah perubahan psikologis yang sangat dalam dalam perjalanan menjadi ibu. Pada awalnya, cinta diwujudkan melalui kedekatan. Semakin besar anak, cinta harus belajar menemukan bentuk lain: kepercayaan. Ibu yang memiliki bayi harus memastikan anak berada dalam jangkauannya. Ibu yang memiliki anak sekolah harus memastikan anak mampu melakukan sesuatu sendiri. Ibu yang memiliki anak remaja harus belajar memberi ruang. Dan ibu yang memiliki anak dewasa harus belajar bahwa keputusan anak tidak selalu harus sama dengan keinginannya.
Mungkin inilah bagian tersulit dari tugas seorang ibu: bukan menjaga anak agar selalu dekat, tetapi mempersiapkan anak agar mampu berjalan ketika suatu hari tidak lagi berada di sampingnya.
Karena itu, grafik tentang kepuasan hidup dan stres ibu berdasarkan tahapan usia anak sesungguhnya bukan hanya grafik tentang naik turunnya perasaan. Ia adalah gambaran tentang transformasi peran. Dari pengasuh menjadi pendidik. Dari pendidik menjadi pembimbing. Dari pembimbing menjadi pendamping. Dan akhirnya, dari pendamping menjadi tempat pulang ketika anak membutuhkan rumah secara emosional.
Menariknya, ketika anak telah dewasa, beberapa indikator kesejahteraan ibu dalam penelitian kembali menunjukkan kondisi yang relatif lebih baik. Beban peran dan sejumlah pengalaman negatif dalam pengasuhan menurun dibandingkan masa ketika anak berada di middle school. Anak mulai memiliki kehidupannya sendiri, sementara ibu memiliki ruang yang lebih besar untuk kembali memperhatikan dirinya. Tetapi bahkan pada tahap ini, tugas seorang ibu tidak benar-benar selesai. Bentuknya hanya berubah. Kekhawatiran tentang ujian sekolah mungkin berganti menjadi kekhawatiran tentang pekerjaan anak. Kekhawatiran tentang teman bermain mungkin berganti menjadi kekhawatiran tentang pasangan hidup. Kekhawatiran tentang kesehatan anak kecil mungkin berubah menjadi doa agar anak dewasa tetap sehat dan menemukan kehidupannya.
Itulah sebabnya kalimat “Tugas ibu tidak akan pernah selesai” bukan semata-mata kalimat romantis tentang pengorbanan seorang perempuan. Ia juga harus dibaca sebagai pesan tentang pentingnya sistem pendukung bagi ibu sepanjang perjalanan kehidupan anak. Jika kita ingin memiliki anak-anak yang tumbuh sehat, mandiri, berpendidikan, dan memiliki ketahanan psikologis, kita tidak dapat hanya memperkuat anak. Kita juga harus memperkuat orang yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu sumber keamanan terbesar dalam kehidupan mereka: ibunya.
Pada akhirnya, mungkin seorang ibu tidak membutuhkan anak yang sempurna. Ia hanya ingin melihat anaknya mampu menjalani kehidupan dengan baik. Tetapi untuk sampai ke sana, seorang ibu sendiri membutuhkan kesempatan untuk belajar, beristirahat, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan mendapatkan dukungan. Karena menjadi ibu bukan pekerjaan yang memiliki sertifikat kelulusan. Tidak ada hari ketika seseorang menerima surat yang mengatakan bahwa tugasnya sebagai ibu telah selesai.
Anak boleh tumbuh besar. Anak boleh meninggalkan rumah. Anak boleh memiliki keluarga sendiri. Tetapi di hati seorang ibu, selalu ada satu ruang yang tidak pernah benar-benar kosong. Di sana tersimpan bayi yang dahulu digendong, anak kecil yang dahulu diantar ke sekolah, remaja yang pernah membuatnya cemas, dan manusia dewasa yang kini berjalan dengan kehidupannya sendiri.
Seorang ibu mungkin akhirnya berhenti mengantar anak ke sekolah. Berhenti memeriksa pekerjaan rumah. Berhenti menyiapkan seragam. Berhenti menunggu di depan pintu ketika anak pulang. Tetapi ia tidak pernah berhenti menjadi tempat anak itu berasal.
Sebab tugas seorang ibu memang tidak akan pernah selesai. Yang selesai hanyalah satu demi satu tahap pengasuhan. Setelah itu, kehidupan memberikan tahap berikutnya: belajar melepaskan, belajar percaya, belajar menerima, dan akhirnya belajar mencintai seorang anak sebagai manusia dewasa yang bukan lagi milik orang tuanya, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupannya.