Penulis: Ahmad Madu
Book Writer | Coach | Assessor
Human Capital Tribuana Global Group
Pernah enggak sih pulang kerja, badan sudah sampai rumah, tapi pikiran masih tertinggal di kantor? Sudah duduk bareng pasangan, anak sudah ngajak cerita, makan malam sudah tersedia, tapi kepala masih muter soal meeting tadi siang, omongan atasan, target yang belum selesai, konflik dengan rekan kerja, atau chat yang belum dibalas.
Secara fisik kita memang sudah pulang. Tapi secara emosional, ternyata kita belum benar-benar sampai rumah.
Awalnya mungkin terasa biasa saja. Namanya juga capek kerja. Tapi kalau terus terjadi, menurut saya ini bisa mengerikan. Karena masalah yang sebenarnya lahir di kantor akhirnya ikut masuk ke ruang keluarga. Dan orang-orang yang enggak tahu apa-apa malah ikut menerima dampaknya.
Dalam psikologi kerja ada konsep yang dikenal sebagai work-family spillover. Sederhananya, pengalaman, tekanan, dan emosi dari pekerjaan bisa “tumpah” ke kehidupan keluarga. Yang terbawa pulang bukan cuma laptop atau pekerjaan yang belum selesai, tapi juga rasa marah, kecewa, curiga, cemas, bahkan cara kita memperlakukan orang lain.
Bayangkan seseorang seharian ditekan atasannya. Dimarahi, dipertanyakan pekerjaannya, atau mungkin merasa enggak dipercaya. Di kantor dia enggak bisa melawan. Enggak bisa marah. Enggak bisa mengeluarkan semuanya. Akhirnya emosi itu disimpan.
Begitu sampai rumah, anak salah menaruh barang sedikit, kita meledak. Pasangan bertanya sesuatu yang sebenarnya sederhana, kita menjawab ketus. Orang rumah jadi bingung karena merasa enggak melakukan kesalahan apa-apa.
Dan memang mereka bukan penyebabnya.
Mereka cuma kebetulan menjadi orang yang paling dekat ketika emosi kita sudah penuh.
Ini yang menurut saya sering enggak kita sadari. Orang rumah justru bisa mendapatkan versi terburuk dari diri kita, sementara orang kantor mendapatkan versi yang paling kita jaga.
Di kantor kita masih bisa tersenyum. Masih bisa bilang, “Baik, Pak.” Masih bisa bilang, “Siap.” Masih bisa menahan diri dalam meeting. Tapi begitu sampai rumah, remnya dilepas.
Padahal keluarga seharusnya menjadi tempat pulang, bukan tempat pembuangan sisa emosi.
Dan dampaknya enggak selalu berupa marah.
Kadang bentuknya lebih halus.
Kita jadi diam. Enggak mau ngobrol. Semua pertanyaan dijawab pendek. Makan sambil lihat HP. Anak cerita, tapi kita cuma jawab, “Hmm.” Pasangan ngomong, tapi pikiran masih sibuk dengan pekerjaan.
Kita memang hadir di rumah, tapi sebenarnya enggak hadir.
Ada juga efek lain yang lebih panjang. Misalnya seseorang terlalu lama bekerja dalam lingkungan yang penuh ketidakpercayaan. Semua pekerjaannya diperiksa. Sedikit-sedikit dicurigai. Salah sedikit langsung dipermasalahkan. Lama-lama otaknya belajar untuk selalu waspada.
Masalahnya, mode waspada itu enggak punya tombol otomatis yang mati ketika kita sampai rumah.
Pasangan telat balas pesan, mulai mikir macam-macam. Anak enggak cerita, langsung dianggap menyembunyikan sesuatu. Ada perubahan kecil, kita cepat curiga.
Bisa jadi sebenarnya persoalannya bukan ada pada keluarga. Tapi rasa aman kita sedang rusak karena pengalaman yang terus berulang di tempat kerja.
Makanya menurut saya, work-life balance bukan cuma soal jam kerja. Pulang jam lima belum tentu berarti kita sudah benar-benar berhenti bekerja.
Ada konsep lain dalam psikologi kerja yang disebut psychological detachment from work. Intinya adalah kemampuan untuk melepaskan diri secara mental dari pekerjaan ketika jam kerja selesai. Bukan berarti jadi enggak bertanggung jawab, tapi kita memberi kesempatan kepada pikiran dan emosi untuk keluar dari “mode kerja” sebelum masuk ke peran lain dalam kehidupan.
Ini penting karena dalam sehari kita punya banyak peran.
Di kantor mungkin kita seorang manager, supervisor, staff, sales, trainer, atau siapa pun. Tapi ketika pulang, kita mungkin berubah menjadi suami, istri, ayah, ibu, anak, atau saudara.
Masalah muncul ketika satu peran terlalu mendominasi sampai merusak peran yang lain.
Karena itu, menurut saya kita perlu punya semacam “ritual pulang”. Enggak harus sesuatu yang rumit. Bisa lewat perjalanan pulang yang digunakan untuk menenangkan pikiran, mandi sebelum banyak berinteraksi, ganti pakaian, duduk lima menit, atau sekadar berkata kepada diri sendiri, “Hari kerja saya selesai. Masalah ini saya lanjutkan besok.”
Kita juga perlu belajar memberi nama pada emosi sebelum masuk rumah. Kalau sedang marah, sadari bahwa kita sedang marah. Kalau sedang kecewa, akui bahwa kita sedang kecewa. Kadang kesadaran sederhana seperti ini membuat kita lebih mampu membedakan, “Saya marah karena anak saya, atau sebenarnya saya masih marah karena kejadian di kantor?”
Kalau memang sedang sangat capek, enggak ada salahnya bilang kepada pasangan, “Aku lagi agak penuh hari ini. Kasih aku waktu sebentar ya.” Menurut saya itu jauh lebih sehat daripada diam, berubah ketus, lalu membuat seluruh rumah menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
Dan tentu saja, keluarga tetap boleh menjadi tempat bercerita. Justru bagus kalau kita punya ruang aman untuk berbagi. Tapi bercerita berbeda dengan memindahkan seluruh beban emosi kepada mereka. Cerita membuat orang lain memahami kondisi kita. Melampiaskan membuat orang lain ikut menanggungnya.
Kalau mau lebih sederhana, saya merangkumnya dalam satu kata: PULANG.
P — Putuskan mode kerja.
Begitu jam kerja selesai, kasih tanda ke diri sendiri bahwa peran kerja hari itu sudah selesai. Bisa lewat perjalanan pulang, mandi, ganti baju, atau sekadar duduk sebentar tanpa buka chat kantor. Otak butuh transisi supaya enggak terus hidup dalam mode kerja.
U — Urai dulu emosinya.
Sebelum ketemu keluarga, coba cek diri sendiri: saya lagi marah, kecewa, cemas, atau cuma capek? Kadang emosi yang enggak kita kenali justru paling gampang tumpah ke orang yang salah.
L — Lepaskan yang belum selesai.
Enggak semua masalah kantor harus selesai malam ini. Ada hal yang memang baru bisa dilanjutkan besok. Catat kalau perlu, lalu izinkan diri untuk berhenti memikirkannya sementara.
A — Alihkan perhatian ke rumah.
Saat sudah bersama keluarga, pindahkan fokus. Dengarkan anak cerita. Ngobrol sama pasangan. Makan tanpa sambil balas email. Bukan soal berapa lama, tapi seberapa utuh kita hadir.
N — Nyatakan kondisi kita.
Kalau memang lagi penuh, bilang. “Aku lagi capek banget hari ini, kasih aku waktu sebentar ya.” Jauh lebih sehat daripada mendadak diam, ketus, lalu bikin orang rumah bingung.
G — Gunakan rumah untuk pulih, bukan melampiaskan.
Keluarga boleh jadi tempat cerita. Tapi jangan dijadikan tempat membuang sisa emosi dari kantor. Cerita itu berbagi. Melampiaskan itu memindahkan beban.
Saya rasa ini perlu kita pikirkan serius.
Kita sering takut pekerjaan berantakan. Takut target enggak tercapai. Takut kehilangan kesempatan. Bahkan takut kehilangan pekerjaan.
Tapi kadang kita enggak sadar bahwa ketika semua energi terbaik habis di kantor, orang rumah hanya kebagian sisanya.
Sisa kesabaran.
Sisa perhatian.
Sisa energi.
Sisa waktu.
Kalau berlangsung satu dua hari mungkin enggak masalah. Tapi kalau bertahun-tahun, relasi yang tadinya hangat bisa pelan-pelan berubah.
Makanya menurut saya, salah satu kemampuan penting dalam kehidupan profesional bukan cuma bagaimana caranya bekerja dengan baik.
Tapi juga bagaimana caranya berhenti bekerja dengan baik.
Tahu kapan harus menutup laptop. Tahu kapan pikiran harus berhenti membahas pekerjaan. Tahu kapan masalah kantor memang harus ditinggalkan di kantor.
Karena kita memang bekerja untuk kehidupan yang lebih baik.
Jangan sampai ironisnya, pekerjaan yang kita lakukan untuk keluarga justru perlahan-lahan merusak hubungan dengan keluarga itu sendiri.
Kantor boleh menjadi bagian penting dari hidup kita. Tapi jangan sampai kantor ikut pulang, ikut duduk di meja makan, bahkan ikut tidur bersama kita setiap malam.