Beranda Artikel & Kajian Ayah Wajib Hadir!

Ayah Wajib Hadir!

Super Admin 19 June 2026 142× dilihat Sekolah Siaga Kependudukan
Ayah Wajib Hadir!


Budi Setiyono, Sesmendukbangga/BKKBN

Tahun ini kita memperingati Hari Keluarga Nasional di tengah era dunia digital yang semakin mendominasi kehidupan keluarga. Oleh karena itu, Dr. Wihaji, Mendukbangga/Ka BKKBN menggaungkan pesan yang terlihat sederhana namun sangat penting: “ayah wajib hadir!.”

Di banyak keluarga modern, peran ayah masih sering dipersempit menjadi pencari nafkah. Selama kebutuhan ekonomi terpenuhi, seorang ayah dianggap telah menjalankan tanggung jawab utamanya. Padahal, berbagai penelitian perkembangan anak menunjukkan bahwa kehadiran ayah tidak hanya penting untuk kesejahteraan keluarga, tetapi juga berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak secara emosional, sosial, dan kognitif.

Hadir bukan sekadar pulang ke rumah setiap malam. Hadir berarti terlibat. Hadir berarti menyediakan waktu, perhatian, kasih sayang, dan menjadi sosok yang benar-benar dapat dirasakan keberadaannya oleh anak.

 

Kajian Ilmiah tentang Peran Ayah
Selama bertahun-tahun, para peneliti berusaha memahami sejauh mana pengaruh ayah terhadap perkembangan anak. Hasilnya cukup konsisten.

Sebuah meta-analisis terbaru (Q. Zheng, et al 2026) yang menggabungkan 65 penelitian dengan lebih dari 154.000 anak menemukan bahwa keterlibatan ayah memiliki hubungan signifikan dengan perkembangan sosial-emosional anak. Bentuk keterlibatan yang paling berdampak adalah keterlibatan langsung, kehangatan, responsivitas, serta kemampuan ayah menunjukkan kasih sayang kepada anak. Anak-anak yang memiliki ayah hangat dan terlibat menunjukkan kompetensi sosial dan emosional yang lebih baik. 

Temuan ini memperkuat hasil tinjauan sistematis sebelumnya (A. Sarkandi et al, 2008) yang menganalisis berbagai penelitian longitudinal. Dari 24 studi yang ditelaah, 22 menunjukkan dampak positif keterlibatan ayah terhadap perkembangan anak, termasuk kesehatan mental, perilaku sosial, dan kemampuan beradaptasi. 

Manfaat kehadiran ayah juga terlihat dalam bidang pendidikan. Penelitian William H Jeynes, dkk (2014) berjudul “A Meta-Analysis: The Relationship Between Father Involvement and Student Academic Achievement” yang melakukan meta-analisis terhadap 66 penelitian lain menemukan bahwa keterlibatan ayah berkorelasi positif dengan prestasi akademik anak. Anak yang merasakan dukungan dan keterlibatan ayah cenderung memiliki hasil belajar yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak mendapat keterlibatan serupa. 

 

Kehadiran yang Membentuk Masa Depan
Anak tidak tumbuh hanya dari makanan bergizi, pendidikan yang baik, atau fasilitas yang memadai. Mereka juga tumbuh dari hubungan yang hangat dengan orang-orang terdekatnya. Ayah memiliki kontribusi unik dalam proses tersebut. Kajian ilmiah sejak dulu menunjukkan bahwa kehadiran ayah yang konsisten membantu anak membangun rasa aman, kepercayaan diri, serta kemampuan mengelola emosi (ME Lamb 1981; RL Soedarmo 2024; PP Sari 2025). Anak yang merasa dicintai dan diterima oleh ayahnya cenderung memiliki fondasi psikologis yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan kehidupan.

Lebih jauh lagi, ayah adalah salah satu model utama yang diamati anak setiap hari. Dari ayah, anak belajar bagaimana menghadapi tekanan, memperlakukan orang lain, menyelesaikan konflik, dan menjalani tanggung jawab. Anak laki-laki belajar tentang makna menjadi seorang pria. Anak perempuan belajar tentang bagaimana seorang pria memperlakukan perempuan. Tanpa disadari, perilaku ayah setiap hari sedang direkam dan disimpan dalam memori anak untuk waktu yang sangat lama.

Karena itu, kualitas kehadiran dan contoh perilaku ayah sering kali jauh lebih penting daripada banyaknya nasihat yang diberikan.

 

Ayah Tidak Harus Sempurna
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa menjadi ayah yang baik berarti selalu benar, selalu sabar, dan tidak pernah melakukan kesalahan. Kenyataannya, anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna. Melainkan, mereka membutuhkan ayah yang hadir.

Ayah yang mau mendengarkan cerita sederhana sepulang sekolah. Ayah yang bertanya bagaimana perasaan anak hari itu. Ayah yang bersedia bermain, tertawa, dan terkadang meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Hubungan emosional dibangun melalui momen-momen kecil yang terjadi berulang kali. Tidak harus melalui liburan mewah atau hadiah mahal. Sering kali, sepuluh menit percakapan yang penuh perhatian memiliki dampak yang lebih besar daripada berjam-jam berada dalam satu rumah tanpa interaksi yang bermakna.

Dalam budaya tertentu, ekspresi kasih sayang antara ayah dan anak masih dianggap sesuatu yang tabu dan tidak terlalu penting. Padahal, ilmu psikologi menunjukkan bahwa kontak fisik yang hangat dan aman memiliki peran besar dalam membangun ikatan emosional. Pelukan, rangkulan, cium kening, tepukan di bahu, atau sekadar menggandeng tangan anak dapat menyampaikan pesan yang sangat kuat: “Ayah ada untukmu.”

Bagi anak-anak yang lebih kecil, pelukan membantu membangun rasa aman dan kedekatan. Pada masa remaja, bentuk ekspresinya mungkin berubah, tetapi kebutuhan untuk merasa diterima dan dicintai tetap sama. Kasih sayang yang diekspresikan secara nyata membantu anak memahami bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk bertumbuh.

 

Tantangan Baru: Intervensi Digital
Jika dahulu ancaman terbesar bagi relasi keluarga adalah kesibukan pekerjaan, kini tantangan itu bertambah dengan hadirnya teknologi digital. Ironisnya, banyak keluarga tinggal dalam satu rumah tetapi hidup di dunia yang berbeda-beda. Ayah sibuk dengan telepon genggam dan pekerjaannya, sementara anak tenggelam dalam permainan, media sosial, atau video tanpa batas. Masalah utama sebenarnya bukan semata-mata berapa jam anak menggunakan layar. Yang lebih penting adalah apa yang hilang akibat waktu layar tersebut.

Kajian ilmiah internasional mendapati bahwa interaksi digital yang berlebihan atau tidak tepat (digital interaction / excessive screen time) membawa dampak buruk yang signifikan terhadap kesehatan mental, perkembangan kognitif, dan kondisi fisik anak. Para peneliti dan lembaga kesehatan dunia pada umumnya sepakat bahwa masalah utamanya terletak pada fenomena displacement (penggantian waktu), di mana interaksi dunia maya menggeser aktivitas krusial dunia nyata seperti bermain, berdiskusi, olahraga, dan interaksi sosial lain.

Karena itu, kita perlu bertanya: Apakah anak kehilangan waktu bermain aktif? Apakah waktu tidur berkurang? Apakah kesempatan berbicara dengan keluarga semakin sedikit? Apakah interaksi nyata tergantikan oleh interaksi digital? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi perhatian utama di jaman digital sekarang ini.

Pada aspek pendidikan, banyak penelitian (misal S. Radesky, 2015; C. Davis 2022; G. Samdan, 2025) menunjukkan bahwa anak-anak belajar jauh lebih efektif melalui interaksi langsung dengan orang tua atau orang dewasa lain dibandingkan hanya melalui media digital. Hubungan tatap muka membantu perkembangan bahasa, kemampuan sosial, empati, dan regulasi emosi.

Perlu diingat, tidak mungkin meminta anak mengurangi penggunaan gawai jika orang tua sendiri terus-menerus menatap layar. Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar. Karena itu, peran ayah di era digital tidak hanya mengawasi, tetapi juga memberi contoh. Meletakkan telepon saat makan bersama, menyediakan waktu khusus tanpa gangguan gawai, dan menunjukkan bahwa hubungan manusia lebih penting daripada notifikasi adalah pelajaran yang sangat berharga bagi anak. Di tengah banjir informasi dan hiburan digital, kehadiran ayah menjadi jangkar yang membantu anak tetap terhubung dengan dunia nyata.

 

Kedekatan Sebelum Pengawasan
Banyak orang tua ingin anak mematuhi aturan. Namun, aturan akan lebih mudah diterima ketika hubungan emosional sudah terbangun terlebih dahulu. Anak yang merasa dekat dengan ayahnya lebih terbuka untuk mendengarkan, berdiskusi, dan menerima arahan. Sebaliknya, jika hubungan dipenuhi jarak emosional, pengawasan sering kali berubah menjadi pertengkaran.

Karena itu, sebelum berbicara tentang disiplin, prestasi akademik, atau batasan penggunaan gawai, ayah perlu memastikan bahwa hubungan dengan anak tetap hangat dan kuat. Pengaruh terbesar tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari kedekatan. Karena itu, *Ayah Wajib Hadir* agar anak dapat menghadapi tantangan kehidupan yang banyak distraksi. 

Pekerjaan, media sosial, hiburan digital, dan berbagai tuntutan kehidupan sering kali menyita perhatian orang tua. Namun, masa kanak-kanak tidak menunggu. Anak-anak tumbuh setiap hari. Mereka tidak akan selamanya meminta ditemani bermain, dipeluk sebelum tidur, atau diajak berbicara tentang hal-hal sederhana. Kesempatan untuk membangun hubungan itu hadir hari ini, bukan nanti.

Karena itu, pesan bagi para ayah sesungguhnya sangat sederhana. Hadirlah sesering mungkin. Hadir dalam percakapan. Hadir dalam permainan. Hadir dalam pelukan. Hadir dalam keseharian. Hadir dalam proses sekolah anak. Sebab pada akhirnya, yang paling diingat anak bukanlah berapa banyak yang diberikan ayah kepada mereka, melainkan seberapa besar ayah hadir dalam hidup mereka.

Ayah wajib hadir. Bukan hanya untuk membesarkan anak, tetapi untuk membentuk manusia yang kelak akan menghadapi masa depan dengan hati yang kuat, rasa aman yang kokoh, dan keyakinan bahwa mereka dicintai.

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga