Oleh: Dr. Lismomon Nata, S.Pd., M.Si
Pernahkah Anda membayangkan satu pagi yang biasa. Di mana saat membuka ponsel, menggulir linimasa dan menemukan sederet berita yang tampak tidak saling berkaitan, seperti harga rumah yang kian tidak terjangkau, lowongan kerja yang makin sengit diperebutkan, fenomena menunda pernikahan dan pernikahan yang tidak menginginkan anak, orang tua yang usianya makin panjang, atau sahabat lama yang pindah kota demi sebuah pekerjaan. Enam cerita berbeda. Enam topik yang seolah berdiri sendiri-sendiri. Padahal, jika dianalisis dengan kacamata demografi, semuanya terangkai dalam satu frame yang sama yaitu kasus-kasus pada demografi.
Demografi sering disalahpahami sebagai ilmu yang hanya menghitung berapa jumlah penduduk, berapa yang lahir, berapa yang mati atau berapa yang berpindah. Padahal jauh di baliknya, demografi merupakan cara memahami bagaimana kehidupan manusia bergerak dan berubah dalam skala yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri. Setiap angka penduduk menyimpan manusia yang lahir, menikah, berpindah, bekerja, membangun keluarga, dan mengambil keputusan tentang masa depannya sendiri.
Seorang bayi yang lahir selain anggota baru dalam sebuah keluarga, ia juga ikut mengubah struktur penduduk suatu bangsa dan negara. Seseorang yang meninggal ikut menggeser komposisi populasi. Seorang anak muda yang meninggalkan kampung halaman untuk kuliah atau bekerja ikut menata ulang peta persebaran penduduk.
Secara teoritis, tiga proses tersebut yaitu fertilitas, mortalitas, dan migrasi yang menjadi mesin penggerak dinamika penduduk. Terakhir ditambah dengan aspek perkawinan dan perceraian. Keempat aspek tersebut terus berdinamika dalam sepanjang kehidupan manusia. Dengan demikian demografi sesungguhnya bukan ilmu tentang angka saja, melainkan cerita tentang kehidupan kita sendiri sebagai manusia yang ada di dalamnya.
Mari mulai dari fertilitas, jumlah kelahiran yang benar-benar terjadi dalam sebuah populasi. Di balik angka tersebut tersimpan pergulatan sosial yang jauh lebih rumit. Mengapa seseorang memutuskan punya anak? Mengapa yang lain memilih menundanya? Mengapa satu keluarga memilih satu atau dua anak, keluarga lainya lebih dari itu dan ada pula yang memilih tidak punya anak sama sekali?
Jawabannya tentu beragam dengan banyak perspektif. Pendidikan, pekerjaan, pendapatan, biaya hidup, kesehatan reproduksi, nilai budaya, hingga pergeseran gaya hidup, semuanya bertautan dalam satu keputusan yang tampak personal namun sesungguhnya sarat pertimbangan sosial dalam gerak zaman.
Indonesia sendiri telah mengalami penurunan fertilitas dalam rentang waktu yang panjang. Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat Total Fertility Rate (TFR) berada di angka 2,13 anak per Perempuan, sangat dekat dengan tingkat penggantian penduduk yang berada di kisaran 2,1. Angka tersebut semestinya tidak dibaca sebagai statistik dingin. Ia sedang berbisik kepada kita bahwa cara masyarakat Indonesia memandang keluarga sedang bergeser.
Dalam masyarakat agraris di masa lalu, banyak anak kerap dipandang sebagai tambahan tenaga, untuk membantu di sawah, ladang, atau usaha keluarga. Namun ketika masyarakat semakin terdidik dan tinggal di kota dengan biaya hidup yang terus merangkak naik, anak berubah wujud menjadi investasi jangka panjang. Pendidikan, kesehatan, pengasuhan, kualitas hidup, semua itu menjadi pertimbangan yang jauh lebih berat daripada menambah jumlah anggota keluarga. Oleh karena itu, keliru rasanya jika perubahan pola fertilitas hanya diringkas dalam satu kalimat yang mudah viral: "Gen Z tidak mau punya anak."
Persoalannya jauh lebih dalam dari itu. Generasi Z (kelahiran 1997-2012 dengan rentang usia 14-29 tahun) merupakan jumlah penduduk terbesar saat sekarang ini yaitu 64.040.121 (Ditjen Dukcapil Kemendagri, 2026) hari ini sedang berhadapan dengan harga rumah (papan) yang sangat tinggi dan tidak berimbang dengan pendapatannya, ketidakpastian pekerjaan yang layak, tuntutan karier yang tidak kenal ampun membuatnya menjadi mudah tertekan dan stres, biaya pendidikan yang terus naik, perubahan relasi gender, dan aspirasi hidup yang sama sekali berbeda dari generasi sebelumnya.
Penelitian Ananta dan Setyonaluri (2022) bahkan menunjukkan bahwa perubahan keluarga di Indonesia berkelindan dengan pergeseran usia perkawinan, pola keluarga, dan transformasi sosial yang jauh lebih luas dan perubahan itu pun tidak seragam karena setiap wilayah punya kondisi ekonomi, sosial, dan budayanya sendiri. Maka, pertanyaan yang sesungguhnya menarik bukan lagi "berapa anak yang akan dimiliki Gen Z", melainkan dalam kondisi seperti apa mereka akan membangun keluarganya. Sebab keputusan keluarga hari ini adalah cetak biru bagi jumlah anak usia sekolah, kebutuhan pendidikan, pasar kerja, perumahan, dan layanan publik dua puluh tahun mendatang.
Komponen kedua adalah mortalitas. Kematian memang bagian alami dari kehidupan. Namun bagi ilmu demografi, angka kematian justru menjadi salah satu cermin paling jujur dari keberhasilan sebuah bangsa membangun dirinya. Ketika kematian bayi menurun dan usia harapan hidup meningkat, itu biasanya pertanda ada perbaikan nyata dalam kesehatan, gizi, sanitasi, pendidikan, dan kualitas lingkungan, meskipun semuanya bisa saja kembali bergeser, terkhusus terkait aspek lingkungan.
Indonesia telah menikmati kemajuan itu. Badan Pusat Statistik mencatat umur harapan hidup Indonesia mencapai 74,15 tahun pada 2024, tetapi setiap keberhasilan selalu membawa konsekuensi baru yang menuntut jawaban baru pula. SUPAS 2025 mencatat penduduk berusia 60 tahun ke atas telah menembus 11,97 persen dari total penduduk. Indonesia resmi memasuki fase ageing population. Bagi Gen Z, ini bukan persoalan yang baru akan datang ketika mereka renta nanti. Persoalan itu sedang dibentuk hari ini, di depan mata mereka sendiri.
Bayangkan dua atau tiga dekade mendatang. Orang tua kita semakin sepuh. Jumlah lansia terus membesar. Kebutuhan layanan kesehatan, jaminan sosial, perawatan jangka panjang, dan lingkungan ramah lansia akan meningkat tajam dan generasi produktif hari ini, generasi yang sedang membaca tulisan ini, akan menjadi salah satu penopang utama dari seluruh sistem itu menjadi “sandwich generation.
Dengan demikian, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari pertanyaan sederhana, berapa lama manusia hidup karena lama hidup, namun dalam keadaan yang tidak sehat dan tidak berdaya akan menjadi problematika baru. Pertanyaan yang lebih layak diajukan adalah bagaimana manusia bisa hidup lebih lama namun tetap sehat, mandiri, produktif, dan bermartabat?
Tantangan demografi pun telah bergeser wajahnya. Jika dahulu penyakit menular menjadi musuh utama, kini penyakit tidak menular, seperti diabetes, penyakit jantung, stroke, hipertensi, kanker yang mengambil alih perhatian. Dengan kata lain, demografi bukan lagi sekadar berbicara tentang umur panjang. Ia berbicara tentang kualitas hidup.
Komponen ketiga adalah migrasi. Bagi Gen Z, berpindah tempat mungkin terasa sebagai hal yang begitu biasa. Kuliah ke kota lain. Merantau demi sekolah atau pekerjaan. Pindah ke kota-kota besar. Mencari peluang di kawasan industri atau tetap tinggal di kampung halaman namun bekerja jarak jauh untuk perusahaan yang berkantor di kota lain.
Manusia, terutama generasi ini, semakin memiliki mobiltas yang relatif tinggi. SUPAS 2025 mencatat sekitar 4 juta migran risen, 25,8 juta migran seumur hidup, dan 11 juta komuter di seluruh Indonesia. Migrasi memang membuka pintu peluang. Orang berpindah karena pendidikan, pekerjaan, keluarga, rasa aman, atau sekadar keinginan meraih kualitas hidup yang lebih baik. Dalam banyak kasus, berpindah tempat menjadi strategi paling masuk akal untuk meningkatkan kesejahteraan. Akan tetapi setiap perpindahan meninggalkan jejak konsekuensi di dua sisi.
Ketika terlalu banyak orang berkumpul di satu kota, tekanan pun muncul pada perumahan, transportasi, air bersih, lingkungan, sekolah, dan layanan kesehatan. Sebaliknya, daerah yang ditinggalkan generasi mudanya menghadapi persoalan yang berbeda namun sama beratnya, kekurangan tenaga produktif dan proses penuaan penduduk yang berjalan lebih cepat. Itulah sebabnya migrasi tidak bisa disederhanakan sebagai "orang pindah dari satu tempat ke tempat lain". Migrasi, pada dasarnya, adalah persoalan distribusi kesempatan.
Sampailah kita pada istilah yang mungkin sering terdengar beberapa tahun belakangan ini, yaitu bonus demografi. Istilah tersebut terdengar begitu menyenangkan, seolah Indonesia sedang menerima hadiah cuma-cuma karena memiliki begitu banyak penduduk usia produktif. Padahal bonus demografi bukanlah hadiah yang didapatkan secara cuma-cuma. Namun adalah jendela kesempatan (window opportunity) dan jendela itu bisa tertutup jika tidak dimanfaatkan tepat waktu bahkan dapat berubah menjadi jendela bencana (window disaster).
Penduduk usia produktif yang besar memang berpotensi menjadi kekuatan ekonomi, tetapi jumlah yang besar tidak otomatis berarti produktivitas yang tinggi. Berbagai penelitian tentang bonus demografi Indonesia menunjukkan bahwa manfaat ekonominya sangat bergantung pada kualitas pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, kualitas sumber daya manusia, dan kondisi pasar kerja. Dengan kata lain, banyak orang usia produktif tidak sama dengan banyak orang yang produktif.
Jika jutaan anak muda berpendidikan namun tidak memperoleh pendidikan yang baik, pekerjaan yang layak, bonus demografi bisa berbalik arah menjadi tekanan sosial. Apabila terjadi skill mismatch, pengangguran, pekerjaan berproduktivitas rendah, dan ketimpangan yang melebar, struktur usia yang semestinya menjadi peluang emas justru berubah menjadi beban. Namun jika generasi muda memperoleh pendidikan berkualitas, kesehatan yang baik, keterampilan yang relevan, dan akses pada pekerjaan yang produktif, bonus demografi bisa menjelma menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya.
Pemerintahan Republik Indonesia memiliki kesadaran akan kondisi tersebut, maka melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/ Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN), salah satu amanatnya adalah untuk mengatur aspek demografi sebagai salah satu dari sekian variabel kependudukan dan memberikan perhatian terhadap generasi muda remaja.
Di titik tersebut Gen Z perlu mengubah cara memandang dirinya sendiri dalam cerita besar ini. Selama ini Gen Z lebih sering menjadi objek pembicaraan. Disebut generasi yang menunda pernikahan. Generasi yang enggan punya banyak anak. Generasi yang gemar berpindah pekerjaan. Generasi yang terlalu mobile untuk menetap, tetapi perspektif demografi menawarkan sudut pandang yang jauh lebih menarik yaitu Gen Z bukan sekadar objek dari perubahan demografi. Mereka adalah aktornya, kini. Gen Z bukan sekadar angka di dalam piramida penduduk melainkan generasi yang sedang menentukan ke mana piramida itu akan Gerak arah zaman bangsa dan negara itu ke arah mana. Nah, bagaimana aspek perkawinan dan perceraian? Tunggu pada tulisan berikutnya ya…