Oleh: Dr. Lismomon Nata, S.Pd., M.Si.
(Direktorat Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN)
Indonesia masih menghadapi ancaman yang tidak selalu tampak di permukaan, tetapi terus bergerak secara senyap di tengah masyarakat. Ancaman tersebut adalah HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS). Di tengah berbagai persoalan sosial yang menyita perhatian publik, angka HIV di Indonesia justru menunjukkan kondisi yang patut menjadi perhatian serius semua pihak.
Data Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan tahun 2026 menunjukkan Indonesia berada pada urutan ke-14 dunia dengan estimasi Orang dengan HIV (ODHIV) tertinggi dan urutan ke-11 untuk estimasi infeksi baru HIV. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahwa HIV/AIDS masih menjadi persoalan besar yang harus dihadapi bersama.
Pada tahun 2026 diperkirakan terdapat sekitar 557.000 ODHIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 69 persen yang mengetahui status HIV mereka. Lebih memprihatinkan lagi, hanya 52 persen yang menjalani pengobatan antiretroviral (ARV), sementara yang mencapai kondisi virus tersupresi baru sekitar 50 persen. Artinya, masih terdapat kesenjangan yang cukup besar untuk mencapai target global 95-95-95 pada tahun 2030.
Situasi ini semakin mengkhawatirkan ketika dikaitkan dengan perubahan perilaku sosial masyarakat di era digital. Kemajuan teknologi yang seharusnya memudahkan kehidupan justru membuka ruang baru bagi berbagai perilaku berisiko yang dapat mempercepat penyebaran HIV/AIDS dan IMS.
Sebagaimana diingatkan oleh Budi Setiyono, Sesmendukbangga/BKKBN (2025), HIV di Indonesia berkembang sebagai silent epidemic atau epidemi senyap. Penyakit ini memang tidak menimbulkan kepanikan besar seperti pandemi Covid-19, namun dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, produktivitas penduduk usia kerja, dan kualitas sumber daya manusia sangat besar. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena dapat menghambat keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi yang saat ini sedang berlangsung.
Salah satu perubahan yang paling nyata adalah transformasi prostitusi dari bentuk konvensional menjadi prostitusi daring. Jika dahulu praktik prostitusi banyak ditemukan di lokalisasi yang relatif mudah dipantau, kini aktivitas tersebut berpindah ke ruang digital yang jauh lebih sulit diawasi. Melalui media sosial, aplikasi percakapan, hingga platform kencan daring, transaksi seksual dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja.
Fenomena tersebut ibarat api dalam sekam. Tidak terlihat secara kasat mata, tetapi terus menyala dan berpotensi menimbulkan dampak luas. Istilah seperti open BO, booking online, ladies companion, dan berbagai kode lainnya menjadi bahasa baru yang dikenal sebagian pengguna media sosial. Di balik istilah tersebut tersimpan risiko besar terhadap kesehatan reproduksi dan penularan IMS, termasuk HIV/AIDS.
Dalam perspektif patologi sosial, perilaku menyimpang tidak pernah benar-benar hilang, tetapi terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Jika dahulu berlangsung di ruang fisik, kini terjadi di ruang virtual yang lebih privat dan sulit dijangkau pengawasan sosial. Kondisi tersebut lebih memprihatinkan, sebagian pelakunya berasal dari kelompok usia muda. Tekanan ekonomi, gaya hidup konsumtif, keinginan memperoleh uang secara instan, serta pengaruh media sosial mendorong sebagian remaja masuk ke dalam lingkaran eksploitasi yang semakin sulit ditinggalkan.
Risiko yang muncul tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan agama dan moral saja, tetapi juga ancaman nyata berupa penularan HIV/AIDS dan IMS yang dapat “membunuh” generasi penerus ini pelan-pelan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kelompok dengan tingkat temuan HIV tertinggi berasal dari pasangan ODHIV, pelanggan pekerja seks, anak dari ODHIV, serta kelompok populasi berisiko lainnya. Fakta ini menunjukkan bahwa HIV tidak lagi menjadi persoalan kelompok tertentu, tetapi berpotensi menjangkau masyarakat yang lebih luas, termasuk generasi muda sebagai penerus bangsa.
Perubahan pola hubungan sosial di era digital juga memperbesar kerentanan tersebut. Interaksi yang berlangsung cepat, hubungan yang bersifat sementara, serta minimnya komitmen jangka panjang membuat sebagian orang lebih rentan terlibat dalam perilaku seksual berisiko. Di sisi lain, literasi kesehatan reproduksi masyarakat masih belum merata. Banyak yang memahami HIV/AIDS dan IMS sebagai penyakit berbahaya, tetapi belum memahami secara utuh cara penularan, pencegahan, maupun pentingnya tes HIV sejak dini.
Ancaman ini semakin kuat karena masih kuatnya stigma sosial dan diskriminasi terhadap ODHIV. Banyak individu enggan memeriksakan diri karena takut mendapatkan cap negatif dari lingkungan sosial. Akibatnya, sebagian baru mengetahui status HIV ketika kondisi kesehatannya sudah menurun. Padahal, semakin cepat HIV terdeteksi, semakin besar peluang untuk menjalani pengobatan dan mempertahankan kualitas hidup yang baik.
Oleh karena itu, HIV/AIDS dan IMS bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga isu sosial, keluarga, pendidikan, dan pembangunan manusia. Pencegahannya tidak cukup mengandalkan layanan kesehatan, melainkan memerlukan keterlibatan institusi keluarga, institusi sekolah, tokoh agama, organisasi masyarakat, media massa, dan pemerintah secara bersama-sama.
Keluarga harus kembali menjadi benteng pertama dan utama dalam pembentukan karakter serta perilaku sehat. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak mengenai kesehatan reproduksi, pergaulan, dan risiko perilaku seksual berisiko menjadi semakin penting di era digital. Pada saat yang sama, sekolah dan perguruan tinggi perlu memperkuat pendidikan kesehatan reproduksi yang berbasis ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral bahkan sejak dini.
Di tengah tantangan tersebut, negara sesungguhnya telah memiliki instrumen strategis melalui pembangunan ketahanan remaja. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Kemendukbangga/BKKBN) melalui Direktorat Bina Ketahanan Remaja terus memperkuat berbagai program yang bertujuan membentuk generasi muda yang sehat, berkarakter, berdaya saing, dan mampu merencanakan masa depannya secara bertanggung jawab.
Salah satu program unggulan adalah Generasi Berencana (GenRe). Program ini tidak hanya mempersiapkan kehidupan berkeluarga bagi remaja, tetapi juga memberikan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, pendewasaan usia perkawinan, pencegahan perilaku berisiko, penyalahgunaan narkotika, serta pencegahan HIV/AIDS dan IMS.
Implementasi GenRe dilakukan melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang tersebar di sekolah, madrasah, perguruan tinggi, pesantren, dan komunitas kepemudaan. Melalui pendekatan peer educator dan peer counselor, remaja memperoleh informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, IMS, serta keterampilan hidup (life skills) untuk menghindari perilaku berisiko.
Upaya ini diperkuat melalui Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yang mengintegrasikan isu kependudukan, pembangunan keluarga, kesehatan reproduksi, dan perencanaan kehidupan ke dalam proses pembelajaran. Melalui SSK, peserta didik dibekali kemampuan memahami tantangan kehidupan sekaligus membangun perilaku yang sehat, bertanggung jawab, dan berorientasi masa depan.
Pendekatan yang dilakukan Kemendukbangga/BKKBN sejalan dengan strategi nasional penanggulangan HIV/AIDS yang menekankan pentingnya edukasi, perubahan perilaku, penguatan ketahanan keluarga, serta pemberdayaan remaja sebagai agen perubahan. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa pencegahan HIV/AIDS dan IMS yang paling efektif tidak hanya dilakukan melalui layanan kesehatan, tetapi juga melalui pembentukan perilaku sehat sejak usia dini.
Pada akhirnya, HIV/AIDS dan IMS bukan hanya persoalan virus yang menyerang tubuh manusia. Namun dapat menjadi cerminan dari perubahan sosial yang sedang berlangsung di tengah masyarakat. Ketika perilaku berisiko semakin mudah diakses, pengawasan sosial melemah, dan ruang digital berkembang lebih cepat daripada kesiapan masyarakat menghadapinya, maka risiko HIV akan terus meningkat.
Oleh karena itu, perjuangan melawan HIV/AIDS dan IMS tidak cukup dilakukan di rumah sakit dan puskesmas. Perjuangan sesungguhnya dimulai dari keluarga, sekolah, lingkungan sosial, hingga ruang digital yang setiap hari berada dalam genggaman generasi muda. Melalui sinergi seluruh elemen bangsa, serta penguatan Program GenRe, PIK-R, dan SSK, upaya menyelamatkan remaja dari HIV/AIDS dan IMS pada hakikatnya adalah upaya menyelamatkan masa depan Indonesia.