Beranda Artikel & Kajian IBU/I-BU, Kami Rindu

IBU/I-BU, Kami Rindu

Super Admin 06 June 2026 57× dilihat Masyarakat Peduli Kependudukan
IBU/I-BU, Kami Rindu

[⚠️desclimer: spoiler bagi yang belum nonton Esok Tanpa Ibu]

 

Oleh: I Made Yudhistira D

 

"Selamat sore I-BU, aku ingin Bercerita! Selamat Sore Rama, bagaimana harimu?"

 

Sebuah gambaran interaksi Rama kepada Kecerdasan Buatan [AI] yang dirancang untuk menggantikan Ibunya. Namanya I-BU. Film Esok Tanpa Ibu hadir bukan sekadar sebagai drama keluarga yang menguras air mata. Film ini menawarkan refleksi mendalam tentang relasi manusia, kehilangan, dan makna kehadiran dalam keluarga pada saat dunia sedang memasuki era Society 5.0 dan kecerdasan buatan (AI). Di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang mampu meniru suara, wajah, bahkan pola komunikasi manusia, film ini justru mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar: apakah teknologi mampu menggantikan cinta, kedekatan emosional, dan kehangatan keluarga?

 

Melalui karakter Rama, seorang anak laki-laki yang sangat dekat dengan ibunya, penonton diajak menyaksikan bagaimana sosok ibu menjadi pusat gravitasi emosional dalam keluarga. Ibu bukan hanya hadir sebagai pengasuh, melainkan sebagai ruang aman psikologis tempat anak menyimpan kegelisahan, ketakutan, harapan, dan impiannya. Ketika sosok itu menghilang, yang hilang bukan sekadar seseorang, melainkan sebuah sistem dukungan emosional yang selama ini menjaga keseimbangan kehidupan keluarga. Dari perspektif psikologi keluarga, kondisi tersebut menunjukkan bahwa hubungan emosional merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak dapat dipenuhi hanya dengan kehadiran fisik atau fasilitas material.

 

Film ini juga memperlihatkan dinamika hubungan antara Rama dan ayahnya yang cenderung renggang. Secara psikologis, ayah dalam film tersebut merepresentasikan banyak laki-laki Indonesia yang tumbuh dalam budaya maskulinitas tradisional. Mereka diajarkan untuk kuat, tidak banyak mengeluh, dan menunjukkan kasih sayang melalui tanggung jawab ekonomi, bukan melalui ekspresi emosi. Akibatnya, banyak ayah hadir secara fisik tetapi tidak sepenuhnya hadir secara emosional. Mereka mencintai anak-anaknya, namun kesulitan mengomunikasikan cinta tersebut. Ketika ibu tidak lagi menjadi penghubung antara ayah dan anak, muncul kesadaran bahwa relasi yang selama ini dianggap baik ternyata menyimpan jarak emosional yang cukup dalam.

 

Di sisi lain, Rama mengalami pergulatan psikologis yang kompleks. Ia tidak hanya menghadapi kehilangan sosok ibu, tetapi juga menghadapi kebutuhan akan figur ayah yang selama ini belum sepenuhnya terpenuhi. Dalam psikologi perkembangan, anak laki-laki membutuhkan keterlibatan ayah untuk membangun identitas diri, mengembangkan kepercayaan diri, serta belajar mengelola emosi. Konflik yang muncul antara Rama dan ayahnya sesungguhnya bukan cerminan kebencian, melainkan ekspresi dari kebutuhan emosional yang tidak tersampaikan. Banyak anak sesungguhnya tidak membutuhkan ayah yang sempurna, melainkan ayah yang hadir, mendengar, dan mau memahami dunia mereka.

 

Yang membuat "Esok Tanpa Ibu" semakin relevan adalah keberanian film ini memasukkan unsur kecerdasan buatan sebagai bagian dari cerita. Dalam beberapa tahun terakhir, AI berkembang dengan sangat cepat. Teknologi kini mampu menghasilkan suara yang menyerupai manusia, menciptakan avatar digital, hingga membangun sistem percakapan yang terasa personal. Di era Society 5.0, manusia hidup berdampingan dengan teknologi yang semakin canggih dan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun film ini mengingatkan bahwa ada batas yang tidak dapat dilampaui oleh teknologi, yaitu pengalaman emosional manusia yang autentik.

 

Dari perspektif psikologi digital, kemajuan AI menghadirkan paradoks yang menarik. Di satu sisi, teknologi membuat manusia semakin terkoneksi. Kita dapat berkomunikasi dengan siapa saja, kapan saja, dan dari mana saja. Namun di sisi lain, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesepian, kecemasan, dan gangguan kesehatan mental justru meningkat di tengah masyarakat yang semakin digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa konektivitas digital tidak selalu identik dengan kedekatan emosional. Manusia bukan hanya membutuhkan informasi, tetapi juga membutuhkan sentuhan, tatapan mata, pelukan, dan kehadiran nyata dari orang-orang yang dicintainya.

 

AI mungkin mampu mengingat semua percakapan seseorang, meniru intonasi suaranya, bahkan memberikan respons yang terasa hangat. Namun AI tidak pernah benar-benar merasakan kehilangan, kerinduan, atau kasih sayang sebagaimana manusia mengalaminya. Teknologi dapat menjadi alat yang membantu manusia menghadapi berbagai persoalan, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan makna relasi antarmanusia. Film ini seolah mengingatkan bahwa di tengah perlombaan menciptakan mesin yang semakin cerdas, jangan sampai manusia kehilangan kemampuan untuk hadir secara emosional bagi sesamanya.

 

Pesan tersebut menjadi sangat penting ketika dikaitkan dengan pembangunan keluarga di Indonesia. Tantangan keluarga masa depan bukan hanya persoalan ekonomi atau pendidikan, tetapi juga kemampuan menjaga kualitas relasi di tengah derasnya arus digitalisasi. Banyak keluarga kini tinggal dalam satu rumah, tetapi masing-masing tenggelam dalam layar gawai. Banyak orang tua menyediakan fasilitas terbaik bagi anak-anaknya, tetapi kekurangan waktu untuk benar-benar mendengarkan mereka. Dalam konteks ini, ketahanan keluarga tidak lagi cukup dibangun melalui pemenuhan kebutuhan material, melainkan melalui keterikatan emosional yang sehat antaranggota keluarga.

 

Film Esok Tanpa Ibu juga memiliki relevansi kuat dengan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Film ini memperlihatkan bahwa ibu sering kali menjadi perekat utama keluarga. Namun ketika seluruh beban emosional keluarga bertumpu pada satu orang, keluarga menjadi rentan menghadapi krisis. Karena itu, keterlibatan ayah dalam pengasuhan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan pembangunan keluarga modern. Ayah perlu hadir sebagai teman bicara, pendengar, pendidik, sekaligus teladan bagi anak-anaknya. Kehadiran tersebut tidak dapat digantikan oleh aplikasi, media sosial, maupun kecerdasan buatan secanggih apa pun.

 

Pada akhirnya, Esok Tanpa Ibu bukan hanya kisah tentang kehilangan seorang ibu. Film ini adalah refleksi tentang kerinduan manusia akan hubungan yang tulus di tengah dunia yang semakin digital. Teknologi akan terus berkembang, AI akan semakin pintar, dan dunia akan semakin terhubung. Namun satu hal yang tidak berubah adalah kebutuhan manusia untuk dicintai, dipahami, dan diterima oleh keluarga. Sebab di era kecerdasan buatan sekalipun, masa depan peradaban manusia tetap akan ditentukan oleh kualitas hubungan antarmanusia yang paling mendasar: hubungan antara ayah, ibu, dan anak dalam sebuah keluarga.

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga