Oleh: Dr. Lismomon Nata, S.Pd., M.Si
(Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Muda, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN/ Doktor Ilmu Lingkungan)
Persoalan kependudukan pada hakikatnya tentu bukan hanya masalah angka statistic saja. Hal tersebut dikarenakan di baliknya memiliki berbagai makna, seperti bagaimana manusia hidup, bertahan, dan memaknai kehidupannya di tengah tekanan sosial yang terus berubah. Dalam berbagai literatur klasik kependudukan, persoalan ledakan penduduk selalu dikaitkan dengan ancaman terhadap kualitas hidup manusia.
Thomas Robert Malthus, melalui An Essay on the Principle of Population (1798), telah mengingatkan bahwa pertumbuhan manusia berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan produksi pangan. Menurutnya, ketika jumlah penduduk meningkat secara eksponensial sementara sumber daya tumbuh secara terbatas, maka krisis sosial akan sulit dihindari.
Peringatan serupa kembali ditegaskan oleh Paul R. Ehrlich dalam The Population Bomb (1968). Ia memprediksi bahwa ledakan penduduk akan memunculkan bencana kemanusiaan dalam bentuk kelaparan, kemiskinan, konflik sosial, hingga kerusakan lingkungan. Walaupun sebagian prediksi tersebut tidak sepenuhnya terjadi seperti yang dibayangkan, namun substansi pemikirannya tetap relevan hingga hari ini, yaitu pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi kualitas sumber daya manusia dan kapasitas pembangunan akan melahirkan tekanan sosial yang serius.
Dalam konteks modern, tekanan tersebut tidak selalu tampil dalam bentuk perang atau kelaparan massal. Ia hadir dalam bentuk yang lebih subtil dan psikologis yaitu keterasingan, kecemasan sosial, depresi, perilaku menyimpang, hingga eskapisme. Eskapisme adalah kecenderungan manusia untuk melarikan diri dari realitas hidup menuju bentuk-bentuk pelarian tertentu, baik melalui dunia hiburan, media digital, perilaku adiktif, hingga tindakan destruktif terhadap diri sendiri.
Fenomena ini semakin nyata dalam masyarakat modern yang mengalami tekanan ekonomi, kompetisi sosial, dan ketidakpastian masa depan. Ketika kehidupan terasa semakin berat sementara kapasitas individu untuk bertahan semakin terbatas, sebagian orang memilih mencari “ruang pelarian” agar dapat bertahan secara emosional. Dalam konteks tertentu, eskapisme bahkan berkembang menjadi perilaku berisiko.
Hari ini kita dapat menyaksikan bagaimana berbagai bentuk pelarian sosial berkembang luas di tengah masyarakat. Ketergantungan terhadap media sosial, kecanduan gim daring, judi online, penyalahgunaan narkoba, konsumsi alkohol, perilaku seksual berisiko, hingga meningkatnya gangguan kesehatan mental menjadi bagian dari realitas sosial yang sulit dipisahkan dari tekanan kehidupan modern. Banyak individu hidup dalam kepadatan sosial, tetapi merasa kesepian. Banyak yang terhubung secara digital, tetapi kehilangan kedekatan emosional dalam kehidupan nyata.
Fenomena ini sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan dinamika kependudukan, ketimpangan sosial, tekanan ekonomi keluarga, urbanisasi, serta lemahnya ketahanan sosial masyarakat. Dalam masyarakat dengan jumlah penduduk besar, kompetisi hidup menjadi semakin keras. Persaingan kerja meningkat, harga kebutuhan hidup naik, ruang sosial menyempit, sementara harapan terhadap kehidupan yang layak semakin tinggi. Ketika harapan tidak sejalan dengan realitas, maka lahirlah frustrasi sosial.
Di sinilah persoalan kependudukan bertemu dengan persoalan psikologis dan budaya masyarakat modern. Ledakan penduduk bukan hanya melahirkan kepadatan fisik, tetapi juga kepadatan tekanan hidup. Kota-kota besar menjadi contoh nyata. Kemacetan, pengangguran terselubung, mahalnya hunian, tekanan pekerjaan, hingga ketidakstabilan ekonomi keluarga menciptakan kondisi sosial yang rentan terhadap stres kolektif.
Salah satu indikator yang mulai mengkhawatirkan adalah meningkatnya fenomena bunuh diri di Indonesia. Data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri menunjukkan bahwa kasus bunuh diri mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang tahun 2023 tercatat lebih dari 1.300 kasus bunuh diri di Indonesia. Sementara berbagai penelitian menunjukkan bahwa angka sebenarnya diperkirakan lebih tinggi karena masih banyak kasus yang tidak tercatat atau disembunyikan akibat stigma sosial.
Dalam perspekti Sosiologi, fenomena ini tidak dapat dilihat semata sebagai persoalan individual. Bunuh diri sering kali merupakan akumulasi tekanan sosial, ekonomi, psikologis, dan relasi sosial yang tidak terselesaikan. Banyak kasus menunjukkan keterkaitan dengan persoalan ekonomi keluarga, tekanan pekerjaan, konflik rumah tangga, depresi, kesepian, hingga kecanduan digital dan judi online.
Di kalangan remaja, eskapisme bahkan berkembang dalam bentuk yang lebih kompleks. Tekanan akademik, krisis identitas, cyberbullying, kecanduan media sosial, hingga rendahnya kedekatan emosional dalam keluarga menyebabkan sebagian remaja kehilangan ruang aman untuk bercerita. Akibatnya, mereka mencari pelarian melalui dunia virtual atau perilaku destruktif lainnya. Dalam kondisi tertentu, rasa putus asa yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi tindakan menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri.
Ironisnya, masyarakat modern sering kali hanya melihat gejala di permukaan tanpa memahami akar persoalannya. Ketika seseorang terjerumus narkoba, judi online, atau depresi, masyarakat cenderung menyalahkan individu. Padahal, terdapat struktur sosial yang lebih besar yang menjadi faktor penyebabnya, seperti tekanan ekonomi, ketimpangan kesempatan, lemahnya ketahanan keluarga, dan perubahan sosial yang terlalu cepat.
Kondisi ini dapat dipahami sebagai bentuk alienasi atau keterasingan manusia modern. Manusia hidup di tengah keramaian, tetapi kehilangan makna hidup. Teknologi berkembang pesat, tetapi relasi sosial justru melemah. Informasi terbuka luas, tetapi tidak selalu diikuti kedewasaan emosional (bijak). Akibatnya, sebagian masyarakat mencari pelarian untuk mengurangi tekanan hidup yang terus menumpuk.
Oleh karena itu, persoalan kependudukan tidak cukup hanya diselesaikan melalui pengendalian angka kelahiran saja. Pengelolaan penduduk harus dipahami secara lebih luas sebagai upaya membangun kualitas kehidupan manusia. Indonesia sesungguhnya telah memiliki langkah strategis melalui program Keluarga Berencana (KB) yang dijalankan secara persuasif sejak era Orde Baru. Program ini tidak hanya bertujuan mengendalikan pertumbuhan penduduk, tetapi juga membangun keluarga kecil yang sehat dan sejahtera.
Namun, tantangan saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Persoalannya bukan lagi hanya jumlah penduduk, tetapi kualitas manusia dan ketahanan sosial keluarga. Dengan demikian, pendekatan pembangunan keluarga menjadi sangat penting. Keluarga adalah ruang pertama tempat manusia belajar menghadapi tekanan hidup, membangun empati, komunikasi, dan ketahanan mental.
Ketika keluarga kehilangan fungsi emosionalnya, maka individu menjadi lebih rentan terhadap eskapisme. Anak-anak yang tumbuh tanpa kedekatan emosional, remaja yang kehilangan arah, atau orang dewasa yang hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan akan lebih mudah mencari pelarian semu.
Dalam konteks inilah transformasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menjadi relevan. Pendekatan pembangunan keluarga tidak lagi hanya berbicara tentang pengaturan kelahiran, tetapi juga pembangunan kualitas manusia secara menyeluruh. Program penguatan remaja, pembangunan keluarga, ketahanan keluarga, hingga penguatan kesehatan mental masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan sosial modern.Selain itu, literasi kependudukan juga perlu diperkuat. Masyarakat harus memahami hubungan antara jumlah anggota keluarga, kualitas hidup, pendidikan anak, kesehatan, hingga kesejahteraan ekonomi. Kesadaran ini penting agar masyarakat tidak hanya memandang anak sebagai simbol budaya atau “banyak anak banyak rezeki”, tetapi juga memahami tanggung jawab sosial dan ekonomi dalam membangun generasi berkualitas.
Lebih jauh lagi, pembangunan tidak dapat hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata. Negara perlu memastikan hadirnya ruang hidup yang sehat, akses pendidikan yang merata, lapangan kerja yang layak, perlindungan kesehatan mental, serta lingkungan sosial yang suportif. Tanpa itu semua, tekanan sosial akan terus meningkat dan melahirkan berbagai bentuk pelarian sosial baru.
Pada akhirnya, eskapisme adalah cermin dari kegelisahan masyarakat modern. Ia menunjukkan bahwa di balik kemajuan teknologi dan pembangunan fisik, masih banyak manusia yang merasa kehilangan arah dan makna hidup. Oleh karena itu, persoalan kependudukan harus dipahami sebagai persoalan kemanusiaan secara utuh.
Indonesia yang saat sekarang ini masih dalam ruang bonus demografi dan jumlah penduduk besar sebagai modal pembangunan. Namun, apabila kualitas hidup masyarakat diabaikan, maka bonus tersebut dapat berubah menjadi tekanan sosial yang serius.
Ledakan penduduk bukan hanya soal bertambahnya manusia, tetapi juga tentang bagaimana negara mampu memastikan bahwa setiap manusia dapat hidup secara bermartabat, sehat secara mental, memiliki harapan masa depan, dan tidak tenggelam dalam pelarian dari realitas hidupnya sendiri. Sebab pada akhirnya, pembangunan yang sejati bukan hanya tentang bertambahnya angka pertumbuhan ekonomi, melainkan tentang kemampuan manusia untuk tetap menemukan makna hidup di tengah perubahan zaman, untuk lebih peduli dengan masalah kependudukan dan Pembangunan keluarga.