Beranda Artikel & Kajian Ketika Seseorang Tidak Mampu Mengatur Dirinya Send...

Ketika Seseorang Tidak Mampu Mengatur Dirinya Sendiri

Super Admin 22 August 2026 32× dilihat Umum
Ketika Seseorang Tidak Mampu Mengatur Dirinya Sendiri

Oleh : I Made Yudhistira D

Kita sering mengatakan bahwa seseorang belum dewasa ketika ia mudah marah, sulit menahan keinginan, tidak tahan dikritik, atau selalu ingin mendapatkan sesuatu sekarang juga. Tetapi ketika perilaku yang sama muncul pada orang dewasa terutama seseorang yang memegang jabatan dan kekuasaan kita sering memberinya nama yang lebih terhormat: tegas, berani, spontan, berkarakter kuat. Di sinilah masalahnya. Kita kadang keliru membedakan ketegasan dengan ketidakmampuan mengendalikan diri.

Seorang pemimpin yang membentak bawahannya karena keputusan tidak berjalan sesuai keinginannya belum tentu sedang menunjukkan kepemimpinan yang kuat. Ia mungkin justru sedang menunjukkan kegagalan regulasi diri. Begitu pula pemimpin yang tidak mampu menerima kritik, mengambil keputusan ketika sedang marah, bereaksi berlebihan terhadap persoalan kecil, atau menjadikan suasana hatinya sebagai suasana organisasi. Jabatan memang memberikan kewenangan untuk memutuskan sesuatu, tetapi jabatan tidak otomatis memberikan kemampuan untuk mengendalikan diri.

Dalam psikologi, kemampuan tersebut dikenal sebagai self-regulation. Ia mencakup kemampuan mengarahkan perhatian, mengendalikan impuls, mengelola emosi, mempertahankan tujuan, memonitor perilaku, dan menyesuaikan respons terhadap situasi. Karena itu, self-regulation sesungguhnya bukan sekadar “anak harus nurut” atau “orang dewasa harus sabar”. Ia adalah mekanisme psikologis yang memungkinkan seseorang berhenti sejenak antara stimulus dan respons: melihat apa yang sedang terjadi, mempertimbangkan konsekuensi, lalu memilih tindakan yang paling tepat.

Menariknya, penelitian mutakhir justru memperlihatkan bahwa kemampuan ini bukan sesuatu yang selesai dibentuk pada masa kanak-kanak. Studi longitudinal 2025 mengenai perkembangan fungsi eksekutif dari taman kanak-kanak hingga kelas tiga menunjukkan bahwa kemampuan seperti kontrol inhibisi, memori kerja, dan fleksibilitas kognitif terus berkembang selama tahun-tahun sekolah awal. Penelitian lain pada anak taman kanak-kanak juga menemukan adanya pola perkembangan self-regulation yang berbeda antar-anak, dengan pertumbuhan yang cukup besar pada usia sekitar 3–6 tahun.

Ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: kapan sebenarnya manusia mulai belajar mengatur dirinya?

Jawabannya bukan ketika anak mulai masuk sekolah. Prosesnya jauh lebih awal. Bayi mulai belajar mengatur perhatian dan responsnya melalui interaksi dengan pengasuh. Anak kecil kemudian belajar menunda keinginan, mengikuti aturan, mengalihkan perhatian, mengenali emosi, dan menggunakan bahasa untuk mengendalikan perilakunya. Ketika memasuki usia sekolah, kemampuan tersebut semakin diarahkan pada tujuan: menyelesaikan tugas meskipun bosan, mempertahankan perhatian, merencanakan pekerjaan, memonitor kesalahan, dan memperbaiki strategi.

Karena itu, pendidikan self-regulation sesungguhnya sudah berlangsung jauh sebelum istilah self-regulated learning populer dalam dunia pendidikan. Yang berubah adalah kesadaran kita bahwa anak bukan hanya perlu diajari apa yang harus dipelajari, tetapi juga bagaimana mengelola dirinya agar mampu belajar.

Kajian sistematis terbaru mengenai program self-regulated learning di pendidikan dasar menunjukkan bahwa intervensi yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan tersebut berkaitan dengan perkembangan self-regulated learning sekaligus capaian akademik siswa. Penelitian lain pada siswa sekolah menengah menunjukkan bahwa siswa berprestasi tinggi memperlihatkan pola proses regulasi diri yang berbeda dari siswa berprestasi rendah, terutama dalam aktivitas seperti membaca ulang, memonitor, dan mengorganisasi informasi.

Dengan kata lain, anak yang pintar belum tentu mampu mengatur dirinya; tetapi anak yang mampu mengatur dirinya mempunyai modal penting untuk menggunakan kepintarannya.

Lalu bagaimana dengan urutan kelahiran? Bukankah selama ini ada anggapan bahwa anak pertama biasanya lebih disiplin, lebih bertanggung jawab, sementara anak bungsu cenderung lebih bebas dan manja?

Ilmu pengetahuan memberikan jawaban yang jauh lebih hati-hati daripada stereotip keluarga. Penelitian 2025 terhadap anak usia 5–6 tahun yang kemudian diikuti kembali setahun setelahnya secara khusus membandingkan pengaruh urutan kelahiran dan waktu penggunaan layar terhadap perkembangan fungsi eksekutif. Hasilnya menunjukkan bahwa urutan kelahiran memang dapat berhubungan dengan aspek tertentu dari fungsi eksekutif, tetapi bukan merupakan penjelasan tunggal yang kuat untuk seluruh kemampuan tersebut. Bahkan penelitian itu sendiri menempatkan screen time sebagai faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami perkembangan fungsi eksekutif anak.

Temuan seperti ini penting karena membongkar mitos yang terlalu sederhana. Anak pertama tidak otomatis lebih mampu mengatur diri. Anak kedua tidak otomatis lebih impulsif. Anak bungsu tidak otomatis kurang bertanggung jawab. Urutan kelahiran mungkin menciptakan pengalaman keluarga yang berbeda—misalnya perbedaan perhatian orang tua, tuntutan, kesempatan mengasuh adik, atau pola interaksi dengan saudara—tetapi perkembangan self-regulation jauh lebih kompleks daripada sekadar nomor urut kelahiran.

Justru lingkungan sosial dan pola interaksi sehari-hari tampak jauh lebih penting untuk diperhatikan. Studi 2025 mengenai profil self-regulation anak menemukan kaitan dengan relasi ibu-anak, sementara penelitian longitudinal mengenai regulasi emosi orang tua menunjukkan bahwa strategi regulasi emosi orang tua dapat mempunyai konsekuensi terhadap masalah psikologis anak.

Di sini terdapat sebuah ironi pendidikan. Kita sering meminta anak “mengendalikan diri”, sementara orang dewasa di sekelilingnya tidak selalu menunjukkan contoh pengendalian diri. Anak diminta tidak berteriak, tetapi melihat orang tuanya berteriak ketika frustrasi. Anak diminta menerima kekalahan, tetapi melihat orang dewasa tidak mampu menerima kritik. Anak diminta berpikir sebelum bertindak, tetapi menyaksikan keputusan orang dewasa dibuat dalam kemarahan.

Anak belajar self-regulation bukan hanya melalui nasihat, tetapi melalui observasi terhadap bagaimana orang dewasa mengatur dirinya sendiri dan persoalan tersebut menjadi semakin serius ketika kita berbicara mengenai kepemimpinan.

Bayangkan dua pemimpin menghadapi masalah yang sama: target organisasi gagal dicapai. Pemimpin pertama langsung mencari siapa yang harus disalahkan. Ia menaikkan suara, mengirim pesan dalam keadaan marah, mengubah keputusan secara impulsif, lalu baru menyadari beberapa jam kemudian bahwa informasinya belum lengkap. Pemimpin kedua juga kecewa. Ia bahkan mungkin marah. Tetapi ia menunda respons, meminta data, mengumpulkan orang yang relevan, memisahkan fakta dari asumsi, kemudian mengambil keputusan.

Keduanya sama-sama memiliki emosi. Perbedaannya bukan pada apakah mereka marah, melainkan pada siapa yang mengendalikan siapa: pemimpin mengendalikan emosinya atau emosinya mengendalikan pemimpin.

Inilah alasan self-regulation menjadi sangat penting dalam kepemimpinan modern. Review sistematis 2026 mengenai regulasi emosi dalam kepemimpinan menunjukkan bahwa strategi regulasi yang adaptif, terutama cognitive reappraisal atau kemampuan mengubah cara memaknai situasi, sering berkaitan dengan bentuk kepemimpinan yang lebih konstruktif, keterlibatan pengikut, kohesi tim, dan hasil organisasi yang lebih baik. Sebaliknya, sekadar menekan emosi bukanlah solusi yang sama dengan mengelola emosi secara sehat.

Ini membedakan pemimpin yang terkendali dari pemimpin yang menekan diri. Pemimpin yang baik bukan orang yang tidak pernah marah, kecewa, takut atau frustrasi. Ia justru mampu mengenali emosi tersebut tanpa membiarkannya mengambil alih seluruh proses pengambilan keputusan.

Ada satu kualitas yang mungkin lebih penting daripada sekadar “tenang”: kemampuan untuk menciptakan jarak antara peristiwa dan respons. Seseorang mengkritik kita. Ada jarak sebelum kita membalas. Bawahan melakukan kesalahan. Ada jarak sebelum kita menghukum. Target tidak tercapai. Ada jarak sebelum kita mencari kambing hitam. Kita mendapat pujian. Ada jarak sebelum kita mempercayai bahwa semua keberhasilan adalah milik kita. Di dalam jarak yang kecil itulah self-regulation bekerja.

Pemimpin dengan self-regulation buruk biasanya menghasilkan organisasi yang emosional. Ketakutan bergerak lebih cepat daripada informasi. Orang belajar menyembunyikan kesalahan karena takut dimarahi. Kritik berubah menjadi risiko. Bawahan lebih sibuk membaca suasana hati pimpinan daripada membaca persoalan organisasi. Pada akhirnya, organisasi kehilangan sesuatu yang sangat mahal: kemampuan untuk berbicara jujur kepada pemimpinnya.

Sebaliknya, pemimpin dengan self-regulation baik menciptakan ruang psikologis yang berbeda. Orang dapat berbeda pendapat tanpa takut dipermalukan. Kesalahan dapat dibicarakan sebelum menjadi krisis. Kritik dapat diproses sebagai informasi, bukan penghinaan. Ketegasan tetap ada, tetapi tidak harus disertai ledakan emosi.

Di titik ini kita perlu mengubah cara memandang pendidikan kepemimpinan. Kita terlalu sering mengajarkan leadership skills: komunikasi, negosiasi, pengambilan keputusan, manajemen konflik, strategi, dan kemampuan berbicara di depan umum. Semua itu penting. Tetapi ada satu pertanyaan yang seharusnya ditempatkan lebih awal: seberapa baik seseorang mampu memimpin dirinya sendiri?

Sebab sulit membayangkan seseorang mampu mengelola organisasi yang kompleks apabila ia sendiri tidak mampu mengelola impulsnya. Sulit berharap seseorang mengambil keputusan objektif apabila ia tidak mampu membedakan fakta dari emosinya sendiri. Dan sulit meminta seseorang membangun budaya kerja yang sehat apabila dirinya menjadi sumber ketakutan, ketidakpastian, dan ledakan emosi di dalam organisasi.

Mungkin karena itu, pendidikan self-regulation seharusnya tidak dipandang sebagai pelajaran tambahan. Ia adalah fondasi. Dari anak yang belajar menunggu giliran, remaja yang belajar mengendalikan impuls digital, mahasiswa yang mampu mengatur waktu, hingga pejabat yang mampu menahan keputusan ketika sedang marah—semuanya berada pada garis perkembangan yang sama.

Kemampuan memimpin orang lain pada akhirnya berakar pada kemampuan mengelola diri sendiri. Mungkin ukuran kepemimpinan yang paling jujur bukanlah bagaimana seseorang bertindak ketika semua orang setuju kepadanya. Ukurannya justru muncul ketika ia ditentang, dikritik, dikecewakan, atau berada dalam tekanan.

Pada saat itulah jabatan berhenti menjadi simbol kekuasaan dan berubah menjadi ujian karakter. Sebab orang yang mampu mengendalikan orang lain belum tentu seorang pemimpin. Tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika memiliki kekuasaan—itulah orang yang mulai layak dipercaya memimpin orang lain.

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga