Oleh: Dr. Lismomon Nata, S.Pd., M.Si.
Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana, Direktorat Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN
Setiap tanggal 11 Juli, masyarakat dunia memperingati Hari Kependudukan Dunia (World Population Day) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran terhadap berbagai dinamika kependudukan yang memengaruhi kehidupan manusia dan arah pembangunan global. Peringatan tahun 2026 mengangkat tema "Mewujudkan Harapan dan Aspirasi Orang Muda, Hari Ini dan untuk Masa Depan." Tema ini mengandung pesan bahwa setiap orang muda memiliki hak untuk bermimpi, menentukan pilihan hidup, memperoleh kesempatan yang setara, serta berpartisipasi dalam membangun masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Tema tersebut sekaligus mengingatkan bahwa pembangunan selain diukur dari tingginya pertumbuhan ekonomi atau megahnya infrastruktur, juga dilihat dari sejauh mana sebuah bangsa dan negara mampu menghadirkan ruang bagi generasi mudanya untuk tumbuh, berkembang, dan mewujudkan potensi terbaiknya. Harapan dan aspirasi orang muda bukan hanya cita-cita pribadi, tetapi merupakan modal sosial yang akan menentukan kualitas pembangunan suatu bangsa dan negara di masa depan.
Bagi Indonesia, tema global tersebut memiliki makna yang sangat strategis. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia sedang menikmati bonus demografi ketika penduduk usia produktif berada pada proporsi terbesar sepanjang sejarah bangsa. Sebagian besar kelompok usia produktif tersebut adalah Generasi Z, generasi yang dalam dua dekade mendatang akan menjadi pemimpin, ilmuwan, pendidik, tenaga profesional, pengusaha, birokrat, inovator, sekaligus orang tua yang membentuk kualitas generasi berikutnya. Dengan demikian, keberhasilan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 akan sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa ini dalam mewujudkan harapan dan aspirasi generasi mudanya.
Namun, harapan dan aspirasi tersebut tidak akan tumbuh secara optimal tanpa adanya pemahaman yang baik terhadap berbagai isu dan dinamika kependudukan. Di sinilah literasi kependudukan menjadi sangat penting. Memahami kependudukan berarti memahami bagaimana manusia lahir, tumbuh, berpindah, membangun keluarga, bekerja, menua, hingga bagaimana seluruh proses tersebut memengaruhi pembangunan nasional. Oleh karena itu, bagi Generasi Z, memahami kependudukan mestinya telah menjadi kebutuhan akademik, dan sekaligus bekal untuk membaca perubahan zaman untuk mengambil keputusan hidup secara bertanggung jawab.
Sayangnya, isu kependudukan masih sering dipersepsikan sebagai persoalan angka semata. Banyak yang menganggap kependudukan hanya berkaitan dengan sensus penduduk, angka kelahiran, atau jumlah penduduk suatu wilayah. Padahal, sesungguhnya kependudukan berbicara mengenai kehidupan manusia secara utuh yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Seluruh perjalanan hidup manusia tersebut membentuk wajah pembangunan suatu bangsa.
Saat ini dunia sedang menghadapi perubahan demografi yang sangat cepat. Beberapa negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Italia, hingga Singapura mengalami penurunan angka kelahiran yang sangat drastis. Fenomena semakin sedikitnya pasangan yang menikah, meningkatnya pilihan untuk tidak memiliki anak (childfree), serta bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia menyebabkan terjadinya depopulasi dan aging population. Kondisi tersebut memunculkan tantangan serius berupa berkurangnya tenaga kerja produktif, meningkatnya beban pembiayaan kesehatan lansia, hingga melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Sebaliknya, banyak negara berkembang masih menghadapi pertumbuhan penduduk yang tinggi. Pemerintah harus terus menyediakan sekolah, rumah sakit, lapangan pekerjaan, infrastruktur, hingga pelayanan publik yang memadai. Tanpa peningkatan kualitas sumber daya manusia, pertumbuhan penduduk justru dapat memperbesar angka kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial.
Indonesia berada di antara kedua kondisi tersebut. Kita tidak lagi mengalami ledakan penduduk sebagaimana beberapa dekade lalu, namun juga belum memasuki fase depopulasi seperti negara-negara maju. Indonesia justru sedang menikmati bonus demografi, yaitu kondisi ketika proporsi penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan kelompok usia nonproduktif. Kondisi ini merupakan window of opportunity yang hanya akan terjadi satu kali dalam sejarah perjalanan bangsa. Apabila dikelola dengan baik, bonus demografi akan menjadi modal besar menuju Indonesia Emas 2045. Sebaliknya, jika gagal dipersiapkan, bonus tersebut dapat berubah menjadi bonus pengangguran, bonus kemiskinan, bahkan bonus konflik sosial.
Dalam konteks inilah tema Hari Kependudukan Dunia 2026 memperoleh relevansinya. Mewujudkan harapan dan aspirasi orang muda selain untuk memenuhi keinginan individu, tetapi merupakan strategi pembangunan. Ketika generasi muda memperoleh pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan yang baik, pekerjaan yang layak, perlindungan sosial, serta kesempatan mengembangkan potensi diri, maka bonus demografi akan benar-benar menjadi bonus pembangunan.
Generasi Z merupakan kelompok penduduk yang akan mendominasi angkatan kerja Indonesia dalam dua dekade mendatang. Mereka adalah penerima manfaat pembangunan, melainkan aktor utama pembangunan itu sendiri. Namun menjadi generasi produktif tidak cukup hanya menguasai teknologi digital. Indonesia membutuhkan generasi yang sehat baik secara fisik apalagi mental, berpendidikan, memiliki karakter kuat, mampu beradaptasi terhadap perubahan, berpikir kritis, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Semua kualitas tersebut merupakan fondasi untuk mewujudkan harapan dan aspirasi orang muda.
Kepedulian terhadap isu kependudukan dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memahami pentingnya pendidikan, menjaga kesehatan reproduksi, merencanakan kehidupan keluarga secara matang, meningkatkan kompetensi, menghindari pernikahan usia anak, menghargai keberagaman penduduk, serta menjadi warga digital yang mampu memilah informasi secara kritis. Keputusan-keputusan tersebut mungkin tampak bersifat pribadi, tetapi sesungguhnya memiliki dampak besar terhadap kualitas penduduk Indonesia di masa depan.
Era digital membawa perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seseorang kini dapat bekerja lintas negara tanpa berpindah tempat tinggal. Pendidikan dapat diakses secara daring. Teknologi kecerdasan buatan mengubah struktur pekerjaan. Mobilitas manusia semakin tinggi, sementara penyebaran informasi berlangsung dalam hitungan detik. Di sisi lain, perubahan iklim, urbanisasi, konflik bersenjata, migrasi internasional, ketimpangan sosial, hingga disinformasi menjadi tantangan baru yang ikut memengaruhi dinamika kependudukan. Kota-kota tumbuh semakin padat, sementara sebagian desa kehilangan penduduk usia mudanya. Mobilitas penduduk yang tinggi membawa peluang sekaligus tantangan baru dalam penyediaan pelayanan publik.
Oleh karena itulah, ilmu kependudukan saat ini berkembang menjadi ilmu multidisiplin yang menghubungkan aspek sosial, ekonomi, kesehatan, lingkungan, budaya, teknologi, hingga kebijakan publik. Kependudukan bukan hanya berbicara tentang berapa banyak manusia yang hidup, tetapi bagaimana manusia tersebut hidup secara berkualitas.
Sering kali masyarakat belum menyadari bahwa hampir seluruh kebijakan pemerintah bertumpu pada data kependudukan. Jumlah sekolah yang dibangun, kebutuhan guru, rumah sakit, tenaga kesehatan, bantuan sosial, perencanaan transportasi, pembangunan perumahan, hingga ketahanan pangan semuanya memerlukan data penduduk yang akurat.
Dalam ilmu demografi dikenal dua pendekatan, yaitu de facto dan de jure. Pendekatan de facto melihat seseorang sebagai penduduk berdasarkan tempat tinggal nyata, sedangkan de jure berdasarkan status administrasi kependudukannya. Perbedaan tersebut memiliki implikasi besar terhadap penyusunan kebijakan publik. Oleh sebab itu, data kependudukan yang akurat menjadi fondasi pembangunan yang berkeadilan.
Literasi kependudukan tidak hanya mengajarkan tentang fertilitas, mortalitas, dan migrasi, tetapi juga membantu generasi muda memahami berbagai pilihan hidup yang akan menentukan masa depannya. Melalui literasi kependudukan, Generasi Z dapat memahami pentingnya investasi pada pendidikan, kesehatan, keterampilan, keluarga yang berkualitas, serta kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Ketika orang muda memahami dinamika kependudukan, mereka akan lebih siap menyusun rencana kehidupan, menentukan karier, membangun keluarga secara bertanggung jawab, serta berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Dengan demikian, harapan dan aspirasi mereka tidak berhenti sebagai mimpi, tetapi dapat diwujudkan menjadi karya nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Hari Kependudukan Dunia tidak hanya seremonial tahunan. Momentum ini merupakan ajakan bagi seluruh elemen bangsa untuk menempatkan generasi muda sebagai pusat pembangunan. Mewujudkan harapan dan aspirasi orang muda berarti memastikan bahwa setiap anak muda memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bekerja, hidup sehat, membangun keluarga yang berkualitas, serta berpartisipasi dalam menentukan masa depan bangsa.
Generasi Z memiliki posisi yang sangat strategis. Mereka akan menjadi pemimpin Indonesia pada saat bangsa ini memasuki satu abad kemerdekaannya. Oleh karena itu, investasi terbaik yang dapat dilakukan hari ini adalah membangun generasi muda yang sehat, cerdas, berkarakter, berdaya saing, serta melek kependudukan.
Peringatan Hari Kependudukan Dunia dapat dijadikan sebagai momentum untuk mewujudkan harapan dan aspirasi orang muda hari ini dan untuk masa depan. Sebab pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya jumlah penduduk atau tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi oleh kualitas manusia yang mampu mengubah harapan menjadi karya, aspirasi menjadi inovasi, dan potensi menjadi kekuatan bagi kemajuan bangsa.