oleh : I Made Yudhistira D
Ada satu hal yang sering luput ketika masyarakat berbicara tentang gangguan mental: kita terlalu sering membicarakan seseorang dari luar dirinya, tetapi jarang mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dari dalam dirinya. Kita melihat seorang remaja yang tiba-tiba menjadi pendiam, mudah marah, prestasinya menurun, tidak mau bergaul, sering menangis, sulit tidur, atau tampak kehilangan semangat. Kemudian muncul berbagai penilaian bahwa anak tersebut malas, terlalu sensitif, mencari perhatian, kurang bersyukur, kurang beribadah, atau bahkan dianggap “gila”. Padahal, perubahan perilaku tersebut mungkin merupakan bagian dari pergulatan psikologis yang tidak mudah dipahami, bahkan oleh remaja itu sendiri. Ia mungkin merasakan bahwa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, tetapi belum mampu menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Dalam kerangka DSM-5-TR, gangguan mental tidak ditentukan hanya oleh keberadaan satu atau beberapa gejala tertentu. Gangguan mental berkaitan dengan adanya gangguan yang bermakna dalam kognisi, regulasi emosi, atau perilaku yang mencerminkan disfungsi dalam proses psikologis, biologis, atau perkembangan yang mendasari fungsi mental. Kondisi tersebut umumnya berkaitan dengan distress atau hendaya yang signifikan dalam kehidupan sosial, pendidikan, pekerjaan, maupun area fungsi penting lainnya. Oleh karena itu, seseorang tidak dapat begitu saja dinyatakan mengalami gangguan mental hanya karena sedang sedih, cemas, marah, menarik diri, kehilangan motivasi, atau menghadapi masalah kehidupan. Penentuan diagnosis membutuhkan penilaian terhadap pola gejala, durasi, intensitas, konteks perkembangan, dampak terhadap fungsi, kemungkinan kondisi lain, serta pertimbangan klinis. Dengan demikian, istilah diagnostik tidak semestinya digunakan secara sembarangan dalam kehidupan sehari-hari ataupun sebagai label yang dilekatkan kepada seseorang berdasarkan pengamatan singkat.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika kita melihatnya dari perspektif remaja. Masa remaja merupakan periode perkembangan ketika identitas diri sedang dibangun, kebutuhan untuk diterima oleh kelompok sebaya sangat kuat, kemampuan regulasi emosi masih berkembang, dan hubungan dengan orang tua maupun lingkungan sosial mengalami perubahan. Seorang remaja yang mengalami persoalan psikologis tidak selalu mampu mengatakan bahwa dirinya mengalami depresi, gangguan kecemasan, atau kondisi psikologis tertentu. Ia mungkin hanya mampu mengatakan, “Saya capek,” “Saya tidak ingin bertemu siapa-siapa,” “Saya tidak tahu kenapa saya selalu takut,” atau “Saya ingin semuanya berhenti sebentar.” Bahasa klinis yang digunakan oleh profesional kesehatan mental tidak selalu sama dengan bahasa yang digunakan remaja untuk menggambarkan pengalaman batinnya.
Pada kondisi tertentu, seorang remaja masih mungkin bersekolah, bertemu teman, bercanda, mengerjakan tugas, dan menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi pada saat yang sama mulai merasakan adanya perubahan dalam dirinya. Ia mungkin menjadi lebih sering khawatir, sulit tidur karena terlalu banyak berpikir, kehilangan motivasi, merasa tidak cukup baik, lebih mudah tersinggung, atau merasa sedih tanpa mengetahui alasan yang jelas. Dalam pikirannya mungkin muncul pertanyaan, “Apakah semua orang juga merasa seperti ini?” atau “Jangan-jangan saya hanya terlalu berlebihan?” Pada tahap inilah kesadaran terhadap perubahan diri menjadi sangat penting. Remaja mungkin belum mengetahui istilah klinis untuk apa yang dialaminya, tetapi ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
Kesadaran tersebut berkaitan dengan konsep insight. Secara sederhana, insight dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali dan memahami bahwa pengalaman, gejala, atau perubahan yang dialaminya berkaitan dengan suatu kondisi yang membutuhkan perhatian. Namun, insight bukanlah sesuatu yang bersifat hitam-putih. Seseorang dapat menyadari bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja tanpa memahami penyebabnya. Ia dapat mengetahui bahwa dirinya membutuhkan pertolongan tetapi belum percaya bahwa bantuan profesional diperlukan. Bahkan seseorang yang telah memahami diagnosisnya masih dapat mengalami kesulitan untuk menerima kondisi tersebut sebagai bagian dari pengalaman hidupnya. Karena itu, mengatakan bahwa seseorang “tidak sadar sedang sakit” merupakan penyederhanaan yang tidak sepenuhnya menggambarkan kompleksitas pengalaman psikologis manusia.
Ketika persoalan psikologis mulai memberikan dampak yang lebih nyata, kehidupan remaja dapat ikut berubah. Konsentrasi dapat menurun, prestasi akademik terganggu, kehadiran di sekolah berkurang, hubungan dengan teman semakin renggang, aktivitas yang sebelumnya menyenangkan tidak lagi menarik, pola tidur terganggu, dan konflik dengan keluarga dapat semakin sering terjadi. Dari dalam dirinya, perubahan tersebut dapat terasa seperti kehilangan kemampuan untuk menjadi dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa dirinya berubah, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara kembali seperti sebelumnya. Bahkan ketika ia mulai menyadari bahwa dirinya membutuhkan bantuan, muncul persoalan baru: kepada siapa ia harus berbicara, apakah orang tua akan memahami, apakah teman akan menganggapnya aneh, apakah guru akan menganggapnya bermasalah, atau apakah pergi ke psikolog berarti dirinya benar-benar “gila”.
Pada titik inilah konsep help-seeking behavior menjadi sangat penting. Mencari bantuan bukan sekadar keputusan sederhana antara “mau” atau “tidak mau” pergi kepada psikolog atau psikiater. Perilaku mencari bantuan merupakan proses yang dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari pengetahuan seseorang mengenai kesehatan mental, cara ia memandang dirinya, pengalaman sebelumnya, persepsi terhadap layanan, dukungan sosial, stigma, tingkat kepercayaan kepada profesional, kekhawatiran mengenai kerahasiaan, biaya, akses terhadap layanan, hingga keyakinan apakah masalah yang dialaminya cukup serius untuk mendapatkan pertolongan. Dengan demikian, ketika seorang remaja tidak mencari bantuan, kita tidak dapat serta-merta menyimpulkan bahwa ia tidak memiliki kesadaran terhadap masalahnya.
Seorang remaja mungkin sebenarnya menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kesulitan, tetapi merasa takut untuk mengatakannya. Ia mungkin merasa malu, tidak tahu harus memulai dari mana, khawatir akan dihakimi, atau pernah memiliki pengalaman meminta bantuan yang tidak menyenangkan. Bahkan ada situasi ketika seorang remaja sangat membutuhkan bantuan tetapi belum memiliki kapasitas psikologis untuk menginisiasi proses mencari pertolongan tersebut. Karena itu, rendahnya perilaku mencari bantuan tidak boleh otomatis diterjemahkan sebagai rendahnya insight. Ada perbedaan antara “tidak menyadari bahwa dirinya mengalami masalah” dan “menyadari masalah tetapi tidak mampu atau tidak berani mencari pertolongan”.
Pada kondisi psikiatrik yang lebih berat, hubungan antara insight dan help-seeking dapat menjadi semakin kompleks. Gangguan yang berat dapat mengganggu kemampuan seseorang menjalankan fungsi sehari-hari, mempertahankan hubungan sosial, merawat diri, mengendalikan perilaku, bahkan pada kondisi tertentu memengaruhi kemampuan menilai realitas. Dalam keadaan seperti ini, kemampuan individu untuk mengenali bahwa dirinya sedang mengalami gangguan dapat berkurang. Karena itu, tuntutan agar seseorang “sadar sendiri kemudian pergi berobat” tidak selalu realistis. Keluarga, sekolah, teman, dan sistem pelayanan kesehatan memiliki peran penting dalam menciptakan jembatan menuju pertolongan profesional.
Hal yang juga perlu diperhatikan adalah penggunaan istilah “ringan”, “sedang”, dan “berat”. DSM-5-TR tidak dapat dipahami sebagai sebuah tangga universal yang menyatakan bahwa seluruh gangguan mental selalu berkembang secara linear dari ringan menjadi sedang kemudian berat. Tingkat keparahan, apabila memang merupakan bagian dari diagnosis tertentu, perlu dinilai berdasarkan karakteristik gangguan yang bersangkutan. Dalam praktik klinis, berbagai aspek perlu dipertimbangkan, termasuk intensitas gejala, durasi, distress, gangguan fungsi, risiko keselamatan, kebutuhan intervensi, perkembangan, diagnosis banding, komorbiditas, faktor risiko, serta konteks budaya. Artinya, penilaian terhadap kondisi seseorang tidak dapat dilakukan hanya dengan melihat satu gejala atau satu perilaku yang tampak dari luar.
Bagi remaja, stigma dapat menjadi salah satu tembok terbesar yang menghalangi jalan menuju pertolongan. Stigma membuat kondisi kesehatan mental berubah dari persoalan kesehatan menjadi identitas sosial. Seorang remaja tidak lagi dilihat sebagai manusia yang sedang mengalami kesulitan, tetapi dicap sebagai “anak bermasalah”, “orang gila”, “lemah”, atau “tidak normal”. Ketakutan terhadap label tersebut kemudian membuat sebagian remaja memilih diam. Mereka mungkin berpikir bahwa lebih baik menyimpan persoalan sendiri daripada membiarkan orang lain mengetahui apa yang sedang dialami. Persoalannya, diam tidak selalu membuat masalah menghilang. Dalam situasi tertentu, diam justru dapat membuat seseorang semakin terisolasi dan semakin jauh dari sumber pertolongan.
Karena itu, pendidikan kesehatan mental kepada remaja tidak cukup hanya dengan memberikan daftar gejala depresi, kecemasan, atau gangguan mental lainnya. Pendidikan kesehatan mental yang hanya berisi daftar tanda dan gejala justru berpotensi mendorong self-diagnosis yang terburu-buru. Remaja dapat mengenali dirinya dalam suatu daftar gejala kemudian langsung mengidentifikasi dirinya dengan label tertentu, tanpa memahami konteks klinis, durasi, tingkat keparahan, maupun dampaknya terhadap fungsi kehidupan. Literasi kesehatan mental yang baik seharusnya justru mengajarkan remaja bagaimana mengenali perubahan dalam pikiran, emosi, tubuh, dan perilaku; memahami kapan perubahan tersebut mulai mengganggu kehidupannya; membedakan informasi ilmiah dari informasi yang beredar di media sosial; serta mengetahui kapan dan kepada siapa ia perlu meminta bantuan profesional.
Dengan demikian, help-seeking pada remaja sebaiknya dipandang sebagai sebuah proses bertahap. Proses tersebut dapat dimulai dari awareness, yaitu kemampuan mengenali adanya perubahan dalam diri. Selanjutnya terdapat appraisal, yaitu kemampuan menilai bahwa perubahan tersebut cukup bermakna untuk diperhatikan dan tidak semata-mata dianggap sebagai fase biasa. Setelah itu terdapat disclosure, yaitu keberanian untuk menceritakan pengalaman kepada orang yang dipercaya, kemudian referral, yaitu proses menghubungkan remaja dengan sumber pertolongan yang tepat, dan akhirnya engagement, yaitu mempertahankan keterlibatan dalam proses bantuan. Perspektif ini penting karena keberhasilan kesehatan mental tidak semata-mata diukur dari apakah seorang remaja sudah bertemu psikolog atau psikiater, tetapi juga dari apakah lingkungan di sekitarnya berhasil menciptakan jalan yang aman, mudah, dan dapat diterima menuju pertolongan.
Karena itu, langkah pertama yang perlu diperkuat adalah literasi kesehatan mental. Remaja perlu memahami bahwa kesehatan mental merupakan bagian dari kesehatan secara keseluruhan dan bahwa persoalan psikologis dapat dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor biologis, psikologis, perkembangan, sosial, keluarga, lingkungan, serta pengalaman hidup. Mereka juga perlu memahami bahwa tidak setiap kesedihan merupakan depresi dan tidak setiap kecemasan merupakan gangguan kecemasan. Pemahaman tersebut bukan untuk mengecilkan pengalaman remaja, melainkan untuk membantu mereka memahami dirinya secara lebih bertanggung jawab dan mendorong mereka mencari bantuan ketika memang diperlukan.
Langkah berikutnya adalah menciptakan ruang yang aman untuk berbicara. Keluarga dan sekolah perlu membangun budaya komunikasi yang tidak langsung menghakimi. Ketika seorang remaja mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja, respons pertama seharusnya bukan ceramah, penghakiman, atau perbandingan dengan orang lain. Respons pertama adalah mendengarkan. Kalimat sederhana seperti, “Ceritakan kepada saya apa yang kamu rasakan,” dapat menjadi pintu masuk yang jauh lebih berarti daripada mengatakan, “Kamu harus kuat,” atau “Masalah seperti itu saja dipikirkan.” Bagi seorang remaja, kesempatan untuk didengarkan tanpa langsung diberi label dapat menjadi pengalaman pertama yang membuatnya berani membuka diri.
Pada saat yang sama, sistem pertolongan perlu menyediakan lebih dari satu pintu masuk. Tidak semua remaja siap langsung bertemu psikiater. Sebagian mungkin lebih nyaman berbicara terlebih dahulu dengan orang tua, teman yang dipercaya, guru BK, konselor, psikolog, atau dokter. Sistem yang baik bukanlah sistem yang memaksa semua remaja masuk melalui pintu yang sama, melainkan sistem yang memastikan bahwa pintu pertama yang dipilih dapat mengarahkan mereka kepada bantuan yang tepat ketika dibutuhkan. Konsultasi kesehatan mental juga tidak boleh dipersepsikan sebagai proses yang secara otomatis menghasilkan diagnosis atau pemberian obat. Konsultasi merupakan proses untuk memahami apa yang sedang terjadi, melakukan asesmen, dan menentukan bentuk intervensi yang sesuai dengan kebutuhan dan kompetensi profesional yang terlibat.
Namun, membangun kesadaran tanpa menyediakan layanan yang dapat diakses juga tidak cukup. Berbagai pendekatan seperti psikoedukasi, multimedia dan perangkat berbasis daring, pelatihan teman sebaya, serta kegiatan outreach telah digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kecenderungan mencari bantuan. Akan tetapi, upaya tersebut harus berjalan beriringan dengan ketersediaan layanan yang benar-benar dapat dijangkau oleh remaja. Mengajak remaja untuk mencari bantuan tanpa menyediakan layanan yang mudah diakses pada akhirnya hanya akan menghasilkan kesadaran tanpa jalan keluar.
Upaya mengurangi stigma juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kesehatan mental yang lebih ramah bagi remaja. Bukti penelitian menunjukkan bahwa intervensi untuk mengurangi stigma dapat memberikan perbaikan pada pengetahuan, sikap, perilaku, dan kecenderungan mencari bantuan. Pendekatan berbasis kontak sosial bahkan menunjukkan manfaat yang lebih besar terhadap sejumlah aspek stigma dibandingkan pendidikan semata. Artinya, mengubah pengetahuan saja belum tentu cukup. Remaja juga membutuhkan pengalaman sosial yang positif, lingkungan yang menerima, serta kesempatan untuk melihat bahwa persoalan kesehatan mental dapat dibicarakan secara manusiawi tanpa menjadikan diagnosis sebagai identitas yang merendahkan.
Pada akhirnya, help-seeking perlu diperlakukan sebagai perilaku kesehatan yang normal. Seorang remaja yang berkonsultasi dengan psikolog seharusnya tidak diperlakukan secara berbeda dari remaja yang berkonsultasi dengan dokter karena mengalami keluhan fisik. Pesan yang perlu dibangun bukanlah, “Kamu harus pergi ke psikolog karena kamu bermasalah,” melainkan, “Kalau ada sesuatu yang membuat kehidupanmu terasa berat dan sulit kamu atasi sendiri, kamu boleh meminta bantuan.” Perubahan bahasa tersebut tampak sederhana, tetapi memiliki makna yang besar karena menggeser kesehatan mental dari kerangka penyakit dan rasa malu menuju kerangka kesehatan, kepedulian, dan perawatan diri.
Orang tua dan guru juga perlu belajar membaca perubahan perilaku sebagai kemungkinan pesan, bukan semata-mata sebagai bentuk kenakalan. Remaja tidak selalu datang dan mengatakan bahwa dirinya sedang mengalami masalah kesehatan mental. Ia mungkin datang dalam bentuk perubahan perilaku: menjadi lebih diam, mudah marah, sering menangis, sulit tidur, kehilangan minat, nilai sekolah menurun, sering menghindari sekolah, atau tidak lagi menikmati aktivitas yang sebelumnya disukai. Perubahan tersebut tidak seharusnya langsung diterjemahkan sebagai kemalasan atau pembangkangan. Perilaku dapat menjadi cara seorang remaja menyampaikan sesuatu yang belum mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. Tugas orang dewasa adalah mencoba memahami pesan di balik perubahan tersebut.
Pada kondisi tertentu, sistem deteksi dini dan rujukan juga perlu diperkuat. Sekolah dapat memiliki mekanisme untuk mengenali perubahan yang signifikan, menyediakan akses konseling, menjaga privasi secara tepat, serta memiliki jalur rujukan menuju layanan psikologis atau psikiatri. Keluarga juga perlu memahami bahwa terdapat kondisi yang tidak lagi cukup ditangani hanya dengan percakapan biasa. Ketika terdapat risiko keselamatan, perilaku menyakiti diri, pikiran untuk bunuh diri, kehilangan kemampuan merawat diri, gejala psikotik, atau gangguan fungsi yang berat, evaluasi profesional perlu dilakukan segera.
Di atas semua itu, kita perlu berhenti menjadikan istilah gangguan mental sebagai identitas yang melekat sepenuhnya pada seseorang. Seseorang dapat mengalami gangguan mental tanpa kehilangan martabatnya sebagai manusia. Diagnosis bukan kepribadian. Diagnosis bukan karakter. Diagnosis bukan pula masa depan seseorang. Diagnosis merupakan hasil dari proses klinis yang membantu memahami kondisi individu dan menentukan pendekatan pertolongan yang tepat. Karena itu, bahasa yang kita gunakan ketika berbicara tentang kesehatan mental bukan sekadar persoalan pilihan kata. Bahasa dapat membentuk cara masyarakat memandang seseorang dan pada akhirnya dapat memengaruhi keberanian seseorang untuk mencari bantuan.
Maka, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan kepada seorang remaja bukan hanya, “Apakah kamu mengalami gangguan mental?” Pertanyaan yang jauh lebih manusiawi adalah, “Apa yang sedang kamu alami?”, “Seberapa berat hal itu memengaruhi kehidupanmu?”, “Apakah kamu merasa aman?”, “Apakah kamu ingin membicarakannya?”, dan “Siapa yang bisa membantu kamu?” Kesadaran kesehatan mental yang sesungguhnya bukanlah kemampuan seorang remaja menyebut sebanyak mungkin nama gangguan mental, melainkan kemampuan untuk mengenali perubahan dalam dirinya, memahami bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya seorang diri, mengetahui kepada siapa ia dapat berbicara, dan memahami bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan.
Dari perspektif seorang remaja, mungkin itulah bentuk keberanian yang paling sederhana sekaligus paling sulit. Bukan keberanian untuk mengakui bahwa dirinya “gila”, melainkan keberanian untuk mengatakan bahwa dirinya sedang mengalami kesulitan dan membutuhkan seseorang untuk berjalan bersamanya. Karena itu, pekerjaan kita sebagai orang dewasa bukanlah memberikan label secepat mungkin, melainkan menciptakan lingkungan yang membuat seorang remaja berani berbicara sebelum ia benar-benar kehilangan kemampuan untuk berbicara. Kita tidak seharusnya menunggu sampai gangguannya menjadi berat baru kemudian bertindak. Kita perlu membangun sistem yang memungkinkan pertolongan hadir sejak tanda-tanda awal mulai terlihat. Dan yang lebih penting, kita tidak hanya perlu mengajarkan remaja untuk mengenali gangguan mental, tetapi juga mengajarkan mereka untuk mengenali dirinya sendiri.
Sebab, jalan menuju pertolongan sering kali tidak dimulai dari sebuah diagnosis. Jalan itu mungkin dimulai dari satu kalimat yang sangat sederhana: “Saya merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan diri saya, dan saya ingin mencari tahu apa yang terjadi.” Kalimat tersebut seharusnya tidak disambut dengan stigma, penghakiman, atau label. Ia seharusnya disambut dengan telinga yang mau mendengar, hati yang tidak menghakimi, dan sistem pertolongan yang benar-benar tersedia.