Beranda Artikel & Kajian Mencari Cinta di Era Swipe: Potret Kesepian Genera...

Mencari Cinta di Era Swipe: Potret Kesepian Generasi Digital Indonesia

Super Admin 09 June 2026 53× dilihat Sekolah Siaga Kependudukan
Mencari Cinta di Era Swipe: Potret Kesepian Generasi Digital Indonesia

Oleh: I Made Yudhistira D

 

Di layar ponsel mereka, cinta hadir dalam bentuk yang sederhana: foto, nama, usia, dan sebuah gerakan jari ke kanan atau ke kiri. Dalam hitungan detik, seseorang bisa menjadi harapan baru atau sekadar lewat tanpa kesan. Fenomena inilah yang kini menjadi bagian dari kehidupan generasi muda Indonesia. Aplikasi kencan seperti Tinder, Bumble, dan berbagai platform sejenis telah mengubah cara manusia mencari pasangan pada abad ke-21.

 

Namun benarkah aplikasi kencan hanya menjadi sarana mencari pasangan seksual? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Andhika Ajie Baskoro, Sari Kistiana, Desy Nuri Fajarningtyas, dan Evalina Franciska Hutasoit dari BRIN memberikan jawaban yang menarik. Penelitian terhadap 151 remaja Indonesia berusia 18–24 tahun menemukan bahwa motivasi utama penggunaan aplikasi kencan justru adalah mencari pasangan atau hubungan romantis, bukan mencari pengalaman seksual. 

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 61,6 persen responden memiliki motivasi tinggi untuk mencari pasangan, sedangkan 59,6 persen menggunakan aplikasi kencan untuk tujuan flirting atau mengembangkan kemampuan sosial, dan hanya 13,9 persen yang memiliki motivasi tinggi untuk mencari pengalaman seksual. 

 

Data tersebut sesungguhnya menyampaikan pesan yang lebih besar daripada sekadar angka statistik. Di balik jutaan aktivitas swipe right setiap hari, terdapat generasi muda yang sedang berusaha menemukan koneksi emosional dalam dunia yang semakin individualistis. Mereka hidup pada zaman ketika teknologi membuat manusia terhubung dengan siapa saja, tetapi pada saat yang sama membuat banyak orang merasa semakin kesepian.

 

Mayoritas responden penelitian ini merupakan pengguna Bumble (58,9 persen), diikuti Tinder (29,1 persen), sementara sisanya menggunakan aplikasi lain seperti Coffee Meets Bagel, OKCupid, Litmatch, Badoo, Tantan, Omi, Boo, dan Skout. Sebagian besar responden berusia 21–24 tahun (78,1 persen), perempuan (69,5 persen), tinggal di wilayah perkotaan (91,4 persen), dan berdomisili di Pulau Jawa (77,5 persen). Menariknya, sekitar 80,1 persen responden berstatus lajang. 

 

Temuan ini memperlihatkan bahwa pengguna aplikasi kencan di Indonesia didominasi oleh kelompok usia muda yang sedang berada dalam fase pencarian identitas dan hubungan sosial. Mereka bukan hanya mencari pasangan, tetapi juga mencari tempat untuk didengar, dipahami, dan diterima.

 

Akan tetapi, romantisme dunia digital tidak selalu seindah yang dibayangkan. Penelitian tersebut menemukan bahwa jenis kelamin, frekuensi penggunaan aplikasi, dan status hubungan memiliki hubungan signifikan dengan motivasi mencari pengalaman seksual. Laki-laki memiliki kecenderungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan dalam menggunakan aplikasi kencan untuk tujuan seksual. Sebanyak 85,7 persen responden yang memiliki motivasi seksual tinggi adalah laki-laki, sedangkan perempuan hanya 14,3 persen. 

 

Temuan lain yang tidak kalah penting adalah hubungan antara intensitas penggunaan aplikasi dengan perilaku pengguna. Remaja yang lebih sering menggunakan aplikasi kencan menunjukkan kecenderungan lebih tinggi untuk mencari pengalaman seksual maupun melakukan flirting. Pada kelompok pengguna yang sering menggunakan aplikasi kencan, sebanyak 66,7 persen memiliki motivasi seksual tinggi, sedangkan pada kelompok yang jarang menggunakan aplikasi hanya 33,3 persen. Untuk motivasi flirting, pengguna aktif juga menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan pengguna yang jarang membuka aplikasi. 

 

Di sinilah muncul pertanyaan kritis yang layak direnungkan. Apakah aplikasi kencan hanya alat yang netral, atau justru perlahan mengubah cara manusia memandang hubungan? Jawabannya adalah Logika aplikasi kencan dibangun di atas algoritma dan kecepatan. Foto yang menarik lebih mudah mendapatkan perhatian dibandingkan karakter yang baik. Penampilan sering kali mengalahkan kedalaman kepribadian. Hubungan antarmanusia direduksi menjadi proses memilih dan dipilih dalam hitungan detik. Akibatnya, ada risiko bahwa manusia tidak lagi dipandang sebagai pribadi yang utuh, melainkan sebagai profil digital yang bisa digeser kapan saja.

 

Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika melihat kondisi sosial masyarakat modern. Ruang-ruang perjumpaan tradisional semakin berkurang. Organisasi sosial melemah, interaksi komunitas menurun, sementara kesibukan akademik dan pekerjaan terus meningkat. Dalam situasi seperti itu, aplikasi kencan menjadi jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia: kebutuhan akan kedekatan dan kasih sayang.

 

Namun penelitian ini juga mengingatkan bahwa penggunaan aplikasi kencan bukan tanpa risiko. Para peneliti menyoroti berbagai penelitian sebelumnya yang mengaitkan penggunaan aplikasi kencan dengan risiko perilaku seksual berisiko, kekerasan digital, pelecehan daring, kecemasan, depresi, hingga gangguan kesehatan mental pada remaja dan dewasa muda. Karena itu, mereka merekomendasikan peningkatan edukasi kesehatan reproduksi dan literasi digital bagi generasi muda untuk meminimalkan dampak negatif penggunaan aplikasi kencan. 

 

Sayangnya, respons masyarakat sering kali terjebak pada dua kutub yang sama-sama keliru. Di satu sisi ada kelompok yang menganggap aplikasi kencan sebagai ancaman moral yang harus dijauhi. Di sisi lain ada kelompok yang melihatnya sebagai simbol kebebasan tanpa batas. Padahal realitasnya jauh lebih kompleks. Teknologi tidak pernah sepenuhnya baik atau buruk. Dampaknya sangat ditentukan oleh kemampuan penggunanya dalam mengelola diri.

 

Karena itu, persoalan aplikasi kencan sesungguhnya bukan sekadar persoalan teknologi. Ia adalah cermin dari perubahan sosial yang sedang berlangsung. Ketika jutaan anak muda mencari pasangan melalui layar ponsel, mungkin yang sedang kita lihat bukan sekadar tren digital, melainkan gejala masyarakat yang semakin kesulitan membangun hubungan yang bermakna di dunia nyata.

 

Pada akhirnya, penelitian BRIN ini memberi pelajaran penting. Mayoritas remaja Indonesia ternyata masih mencari cinta, bukan sekadar sensasi seksual. Mereka tetap mendambakan hubungan yang hangat, serius, dan bermakna. Namun dalam dunia yang semakin digital, pencarian cinta itu kini dilakukan melalui algoritma dan layar sentuh. Tantangan kita sebagai masyarakat bukanlah mengutuk teknologi tersebut, melainkan memastikan bahwa generasi muda memiliki pengetahuan, kedewasaan emosional, dan literasi digital yang cukup agar tidak tersesat dalam pencarian yang sangat manusiawi itu: keinginan untuk dicintai dan tidak merasa sendirian.

 

Referensi : “_Do Adolescents Use Dating Apps to Find Sexual Partners? A Study of Motivation of Dating Apps Use Among Adolescents in Indonesia_” yang terbit di _The Indonesian Journal of Public Health Vol. 20 No. 1 Tahun 2025_"

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga