Oleh : I Made Yudhistira D
Ada sesuatu yang menarik dari tema Hari Kependudukan Dunia tahun ini: penggunaan istilah "orang muda”. Dua kata yang sekilas terasa biasa, tetapi justru terdengar agak asing di telinga kita. Dalam percakapan sehari-hari, kita lebih terbiasa mendengar “anak muda”. Anak muda zaman sekarang. Anak muda harus kreatif. Anak muda adalah penerus bangsa. Bahkan ketika seseorang telah berusia dua puluhan, kuliah, bekerja, membayar pajak, atau mulai membangun keluarga, sebutan “anak muda” masih mudah dilekatkan kepadanya. Sementara di ujung usia yang lain, kita hampir tidak pernah mengatakan “anak tua”. Kita mengatakan orang tua. Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi menggelitik: mengapa yang tua kita sebut orang, sedangkan yang muda masih kita sebut anak?
Ini bukan sekadar permainan kata. Bahasa menyimpan cara kita memandang manusia. Kata “orang” memberikan pengakuan terhadap seseorang sebagai pribadi yang utuh. Ia mempunyai pikiran, pilihan, kehendak, tanggung jawab, dan suara. Sebaliknya, kata “anak” meskipun sama sekali bukan istilah yang buruk, secara psikologis membawa asosiasi tentang seseorang yang masih tumbuh, perlu dibimbing, dilindungi, diarahkan, dan dalam batas tertentu belum sepenuhnya mandiri. Karena itu, pergeseran dari “anak muda” menjadi “orang muda” dapat dibaca sebagai pergeseran yang lebih dalam: dari melihat kaum muda terutama sebagai objek pembinaan menjadi mengakui mereka sebagai subjek kehidupan.
Psikologi perkembangan sebenarnya memberi alasan kuat untuk perubahan cara pandang tersebut. Erik Erikson, misalnya, menggambarkan perkembangan manusia sebagai perjalanan sepanjang hayat. Pada masa remaja, tugas penting seseorang adalah menghadapi persoalan identity versus role confusion: mencari jawaban atas pertanyaan “siapa saya?”. Namun perjalanan tidak berhenti di sana. Ketika memasuki masa dewasa muda, manusia bergerak menuju persoalan intimacy versus isolation: membangun relasi, komitmen, dan kehidupan yang semakin mandiri. Dengan kata lain, kaum muda bukan manusia yang sedang antre untuk menjadi manusia dewasa. Mereka sedang menjalani fase kehidupan yang sah dan bermakna pada dirinya sendiri.
Pandangan Jeffrey Jensen Arnett semakin memperjelas wilayah ini melalui konsep emerging adulthood. Arnett menunjukkan bahwa pada masyarakat modern terdapat periode khas, terutama sekitar usia 18–29 tahun, ketika seseorang bukan lagi remaja tetapi juga belum selalu merasa sepenuhnya dewasa. Masa ini ditandai eksplorasi identitas, perubahan dalam pendidikan, pekerjaan dan relasi, serta meningkatnya pengambilan keputusan secara mandiri. Menariknya, justru pada periode ketika kapasitas memilih dan menentukan arah hidup berkembang pesat, masyarakat masih mudah menempatkan mereka dalam satu kategori besar bernama “anak muda”. Secara linguistik mereka tetap “anak”, padahal secara psikologis mereka sedang belajar menjadi pemilik utama keputusan hidupnya sendiri.
Perspektif Jean Piaget juga memberi lapisan lain. Dalam teorinya tentang perkembangan kognitif, individu memasuki kemampuan berpikir formal-operasional sejak masa remaja: mampu mempertimbangkan kemungkinan, berpikir abstrak, membangun hipotesis, serta memikirkan persoalan yang melampaui pengalaman konkret. Tentu perkembangan manusia jauh lebih kompleks daripada pembagian tahap semata, dan penelitian kontemporer telah memperkaya bahkan mengoreksi sebagian generalisasi klasik Piaget. Namun pesan dasarnya tetap relevan: usia muda tidak identik dengan ketidakmampuan berpikir. Seseorang dapat masih muda dalam umur, tetapi telah memiliki kapasitas untuk menimbang gagasan, mempertanyakan keadaan, dan membentuk pandangan tentang dunia.
Lalu ada Lev Vygotsky yang mengingatkan bahwa perkembangan tidak berlangsung di ruang hampa. Manusia berkembang melalui interaksi sosial, budaya, bahasa, dan kesempatan yang diberikan lingkungannya. Di sinilah istilah yang kita gunakan menjadi penting. Ketika kaum muda terus-menerus diposisikan sebagai “anak” yang tugas utamanya mendengarkan, mengikuti, dan menunggu giliran, lingkungan sosial sebenarnya sedang membentuk ruang perkembangan tertentu. Sebaliknya, ketika mereka diperlakukan sebagai orang muda didengar pendapatnya, diberikan tanggung jawab, dilibatkan dalam keputusan, dan diperbolehkan melakukan kesalahan—kita menyediakan ruang bagi tumbuhnya kompetensi dan kemandirian.
Persoalan ini bahkan dapat dibaca melalui teori self-determination dari Edward Deci dan Richard Ryan. Manusia memiliki kebutuhan psikologis mendasar akan autonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Autonomi bukan berarti seseorang bebas melakukan apa saja. Autonomi berarti merasakan bahwa dirinya mempunyai suara dan kepemilikan terhadap keputusan yang menyangkut kehidupannya. Karena itu, persoalannya bukan apakah orang muda masih membutuhkan bimbingan. Tentu mereka membutuhkannya. Orang tua pun terkadang membutuhkan nasihat. Persoalannya adalah apakah bimbingan diberikan dengan tetap mengakui mereka sebagai manusia yang mempunyai agensi.
Di sinilah pasangan istilah “orang tua” dan “orang muda” terasa menarik. Keduanya menempatkan usia sebagai kata yang menerangkan, bukan sebagai kata yang menentukan derajat kemanusiaan. Yang satu tua, yang lain muda; tetapi keduanya terlebih dahulu adalah orang. Keduanya memiliki pengalaman yang berbeda, kematangan yang berbeda, kebutuhan yang berbeda, bahkan tanggung jawab yang mungkin berbeda. Namun perbedaan itu tidak otomatis menciptakan hierarki bahwa yang satu selalu menjadi subjek dan yang lain harus menjadi objek.
Sebaliknya, pasangan “orang tua” dan “anak muda” secara tidak sadar dapat menghasilkan relasi yang asimetris. Orang tua diasosiasikan dengan pengalaman, otoritas, keputusan, dan kebijaksanaan. Anak muda diasosiasikan dengan pembelajaran, ketergantungan, ketidakmatangan, bahkan terkadang ketidakseriusan. Padahal seseorang tidak otomatis benar karena lebih tua, sebagaimana seseorang tidak otomatis belum layak didengar hanya karena lebih muda. Usia memberi pengalaman, tetapi pengalaman tidak selalu menjamin keterbukaan terhadap perubahan. Kemudaan membawa keterbatasan pengalaman, tetapi sekaligus dapat membawa perspektif baru terhadap dunia yang berubah.
Hal ini semakin penting ketika berbicara tentang kependudukan. Orang muda bukan kelompok kecil yang berdiri di pinggir statistik. Indonesia sedang berada dalam periode ketika penduduk usia produktif mempunyai posisi sangat besar dalam struktur penduduk. Mereka belajar, bekerja, bermigrasi, membangun relasi, menggunakan teknologi, menciptakan pekerjaan, membentuk keluarga, sekaligus mengambil keputusan yang kelak menentukan pola fertilitas, mobilitas, ekonomi, dan kualitas penduduk Indonesia. Membicarakan masa depan kependudukan tanpa memberikan ruang substantif kepada orang muda adalah sebuah paradoks: kita membicarakan masa depan mereka, tetapi terkadang lupa mengundang mereka sebagai pemilik masa depan itu.
Psikologi perkembangan modern pun semakin menjauh dari pandangan bahwa perkembangan hanyalah perjalanan satu arah dari manusia “belum jadi” menuju manusia “jadi”. Perspektif life-span development yang banyak dikembangkan Paul B. Baltes memandang perkembangan berlangsung sepanjang kehidupan. Anak-anak berkembang. Remaja berkembang. Orang muda berkembang. Orang dewasa berkembang. Bahkan orang tua tetap berkembang. Setiap tahap kehidupan membawa pertumbuhan sekaligus kehilangan, peluang sekaligus keterbatasan. Dengan perspektif semacam ini, menjadi muda bukan kekurangan yang harus segera dilewati, sebagaimana menjadi tua bukan puncak kesempurnaan manusia.
Maka istilah “orang muda” sesungguhnya menawarkan gagasan yang sederhana tetapi cukup radikal: kesetaraan tidak berarti menyamakan usia, pengalaman, atau tanggung jawab. Kesetaraan berarti mengakui martabat dan agensi manusia pada setiap tahap kehidupan. Orang muda boleh membutuhkan arahan tanpa kehilangan hak untuk didengar. Mereka boleh belum berpengalaman tanpa dianggap tidak mempunyai pengetahuan. Mereka boleh membuat kesalahan tanpa seluruh generasinya diberi cap “anak-anak”.
Barangkali karena itu kita perlu lebih berhati-hati dengan ungkapan yang begitu sering terdengar: “anak muda adalah generasi penerus”. Kalimat itu terdengar positif, tetapi diam-diam menempatkan mereka di masa depan. Seolah-olah tugas mereka sekarang hanyalah belajar dan bersiap sampai suatu hari generasi sebelumnya menyerahkan tongkat estafet. Padahal orang muda bukan hanya penerus pembangunan. Mereka adalah pelaku pembangunan hari ini. Mereka sudah bekerja, menciptakan gagasan, merawat keluarga, menjadi guru, petani, pekerja, peneliti, wirausahawan, seniman, aktivis, dan pengambil keputusan.
Dan mungkin inilah pesan paling menarik yang dapat kita petik dari dua kata dalam tema Hari Kependudukan Dunia itu. Perubahan besar tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Kadang-kadang ia dimulai dari cara kita menyebut seseorang.
Kita telah lama memberikan satu kata yang penuh pengakuan kepada generasi yang lebih tua: orang tua. Mungkin sudah waktunya kita memberikan pengakuan linguistik yang sama kepada generasi di bawahnya: orang muda.
Sebab tua dan muda adalah perbedaan usia. “Orang” adalah kesamaan kita sebagai manusia.