Beranda Artikel & Kajian Metakognisi atau Overthinking: Dua Cara Berfikir y...

Metakognisi atau Overthinking: Dua Cara Berfikir yang Berbeda

Super Admin 19 September 2026 46× dilihat Umum
Metakognisi atau Overthinking: Dua Cara Berfikir yang Berbeda

Oleh I Made Yudhistira D

 

Tidak semua pikiran yang berulang adalah overthinking. Tidak pula setiap proses berpikir yang mendalam merupakan tanda bahwa seseorang sedang berpikir lebih baik. Metakognisi dan overthinking sama-sama membuat manusia sibuk dengan pikirannya sendiri, tetapi keduanya memiliki perbedaan mendasar. Perbedaannya terutama terletak pada arah berpikir dan hasil yang dihasilkan.

 

Pertama, arah berpikir. Metakognisi mengarahkan pikiran kepada pikiran itu sendiri untuk memahami dan memperbaikinya. Seseorang tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi?”, tetapi juga, “Mengapa saya berpikir seperti ini? Informasi apa yang saya gunakan? Apakah cara berpikir saya sudah tepat? Apa yang perlu saya ubah?” Metakognisi menciptakan jarak antara seseorang dan pikirannya sehingga ia dapat mengamati, mengevaluasi, lalu mengendalikan proses berpikirnya.

 

Overthinking bergerak ke arah yang berbeda. Pikiran tidak mengambil jarak, tetapi justru terseret ke dalam persoalan. Satu pertanyaan melahirkan pertanyaan lain: “Bagaimana kalau saya salah? Bagaimana kalau orang lain kecewa? Bagaimana kalau keputusan saya ternyata buruk?” Pikiran terus bergerak, tetapi sering kali tetap berputar pada titik yang sama.

 

Kedua, hasil berpikir. Metakognisi menghasilkan regulasi. Setelah berpikir, seseorang memperoleh pemahaman yang lebih jelas, keputusan yang lebih terarah, atau tindakan yang dapat dilakukan. Ia bisa mengatakan, “Saya perlu mencari informasi tambahan,” “Strategi ini tidak berhasil, saya harus mengubahnya,” atau “Informasinya sudah cukup, sekarang saya perlu mengambil keputusan.”

 

Overthinking sering menghasilkan sebaliknya. Semakin lama berpikir, semakin banyak kemungkinan yang muncul, tetapi tidak selalu semakin jelas apa yang harus dilakukan. Pikiran menjadi penuh, sementara keputusan tetap kosong. Yang bertambah bukan pemahaman, melainkan kekhawatiran.

 

Karena itu, ukuran untuk membedakan keduanya bukanlah seberapa lama kita berpikir, melainkan apa yang terjadi setelah kita berpikir. Jika berpikir membuat kita lebih memahami, lebih mampu mengendalikan pikiran, dan lebih jelas menentukan tindakan, di sana terdapat metakognisi. Jika berpikir hanya membuat kita mengulang persoalan yang sama, memperbanyak kemungkinan buruk, dan semakin sulit bergerak, kita sedang mendekati pola overthinking.

 

Metakognisi membuat kita mampu berkata, “Saya sedang berpikir.” Overthinking membuat kita lupa bahwa kita sedang berpikir dan merasa seolah-olah setiap pikiran adalah kenyataan.

 

Pada akhirnya, berpikir yang sehat bukan tentang memiliki lebih banyak pikiran, melainkan memiliki kemampuan untuk mengelola pikiran. Metakognisi memberi kita jarak untuk mengendalikan pikiran; overthinking membuat kita kehilangan jarak dan dikendalikan oleh pikiran.

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga