Oleh: Dr. Lismomon Nata, S.Pd., M.Si
(Penata Kependudukan Direktorat Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN/ Sekretaris Bidang II Asosiasi Pelaku Pembangunan Indonesia)
Keberhasilan pembangunan di berbagai negara maju, tidak lagi hanya diukur dari besarnya investasi secara fisik saja. Namun, ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah kualitas manusianya. Sebab pada akhirnya, manusialah yang menciptakan inovasi, menggerakkan ekonomi, menjaga persatuan bangsa, dan menentukan keberlanjutan pembangunan.
Indonesia pun sedang bergerak ke arah tersebut. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045. Asta Cita tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, hilirisasi industri, ataupun penguatan pertahanan negara, tetapi juga menegaskan bahwa Indonesia harus membangun manusia yang sehat, cerdas, produktif, berkarakter, dan berdaya saing global.
Paradigma tersebut sesungguhnya selaras dengan pemikiran para ahli pembangunan modern. Amartya Sen melalui Development as Freedom menjelaskan bahwa pembangunan merupakan proses memperluas kemampuan (capabilities) manusia untuk menjalani kehidupan yang bernilai. Demikian juga dengan Gary Becker menempatkan manusia sebagai modal pembangunan (human capital) yang menghasilkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Sementara Bloom, Canning, dan Sevilla menunjukkan bahwa bonus demografi hanya akan menghasilkan demographic dividend apabila didukung oleh investasi pada pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, dan kualitas keluarga. Dengan demikian, pembangunan Indonesia pada era sekarang tidak cukup hanya membangun infrastruktur fisik. Yang jauh lebih penting adalah membangun manusia Indonesia.
Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai kependudukan sering kali berhenti pada angka kelahiran, jumlah penduduk, atau sensus. Padahal dalam perspektif ilmu kependudukan, penduduk merupakan aktor utama pembangunan. Seluruh proses pembangunan ekonomi, sosial, politik, budaya, hingga lingkungan berpusat pada manusia.
Indonesia memiliki modal yang luar biasa. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan struktur umur yang masih didominasi usia produktif, Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Momentum ini merupakan peluang yang sangat langka karena hanya terjadi satu kali dalam perjalanan sejarah suatu bangsa. Namun bonus demografi bukanlah hadiah otomatis. Ia hanya akan menjadi kekuatan apabila kualitas manusianya dipersiapkan sejak dini. Di sinilah pembangunan kependudukan memperoleh relevansi yang sangat kuat.
Apabila dicermati secara mendalam, hampir seluruh agenda besar Asta Cita membutuhkan sumber daya manusia yang unggul. Pendidikan dibutuhkan pemerataan dan semangat belajar yang tinggi. Dibutuhkan manusia Indonesia yang sehat. Kemandirian pangan membutuhkan petani yang inovatif. Hilirisasi industri membutuhkan tenaga kerja yang terampil. Transformasi digital membutuhkan masyarakat yang memiliki literasi digital. Peningkatan investasi membutuhkan tenaga kerja yang kompetitif. Penguatan demokrasi membutuhkan warga negara yang berkarakter dan ketahanan nasional membutuhkan keluarga yang tangguh. Dengan demikian, tidak ada satu pun agenda pembangunan nasional yang dapat berhasil tanpa didukung oleh penduduk yang berkualitas. Oleh karena itu, pembangunan manusia bukan hanya salah satu program pemerintah, melainkan menjadi prasyarat utama keberhasilan seluruh agenda Asta Cita.
Transformasi kelembagaan dari BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN merupakan langkah strategis pemerintah untuk memperluas paradigma pembangunan kependudukan. Perubahan ini menegaskan bahwa pengelolaan kependudukan tidak lagi dipandang hanya sebagai urusan Keluarga Berencana (KB), tetapi mencakup pembangunan penduduk secara menyeluruh, pembangunan keluarga, pengendalian kuantitas penduduk, peningkatan kualitas penduduk, hingga penguatan ketahanan keluarga sepanjang siklus kehidupan.
Dalam konteks Asta Cita, kementerian ini memiliki posisi yang sangat strategis sebagai arsitek pembangunan manusia berbasis keluarga. Keluarga dipandang sebagai lingkungan pertama tempat kualitas sumber daya manusia dibentuk. Di dalam keluargalah fondasi kesehatan, karakter, pendidikan, nilai-nilai kebangsaan, literasi, dan produktivitas ditanamkan.
Melalui pembangunan keluarga yang berkualitas, kementerian ini berkontribusi langsung terhadap lahirnya generasi yang sehat, bebas stunting, memiliki kecerdasan intelektual dan emosional, mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, serta siap bersaing di tingkat global.
Pendekatan yang digunakan adalah life cycle approach, yaitu membangun manusia sejak sebelum kelahiran, masa bayi, anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Investasi pada setiap tahapan kehidupan akan menghasilkan kualitas penduduk yang lebih baik dibandingkan intervensi yang dilakukan ketika berbagai persoalan telah muncul.
Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Revolusi kecerdasan buatan mengubah struktur pekerjaan. Urbanisasi berlangsung semakin cepat. Perubahan iklim memengaruhi mobilitas penduduk. Struktur keluarga mengalami perubahan. Di sisi lain, Indonesia juga harus mempersiapkan diri menghadapi masyarakat menua dalam beberapa dekade mendatang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia harus dilakukan secara lebih komprehensif. Pendidikan, kesehatan, pembangunan keluarga, kesehatan reproduksi, literasi digital, pemberdayaan perempuan, pembangunan remaja, hingga perlindungan lansia bukan lagi dipandang sebagai program sektoral, melainkan sebagai investasi strategis bangsa.
Karena itu, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN memiliki peran penting sebagai integrator pembangunan kependudukan nasional melalui penyediaan data kependudukan, penguatan kualitas keluarga, pendidikan kependudukan, pembangunan remaja, percepatan penurunan stunting, pembangunan keluarga berkualitas, serta penguatan kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Pada dasarnya Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi negara maju, seperti sumber daya alam yang melimpah, posisi geopolitik yang strategis, bonus demografi, dan ekonomi yang terus berkembang. Namun sejarah membuktikan bahwa tidak ada bangsa yang menjadi maju hanya karena kekayaan alamnya. Bangsa maju lahir karena mampu mengubah penduduknya menjadi manusia yang sehat, terdidik, inovatif, produktif, dan berkarakter karena inilah esensi pembangunan kependudukandan modal utama kemajuan bangsa.