Beranda Artikel & Kajian Perjalanan Emosi Manusia (dari Darwin hingga Era A...

Perjalanan Emosi Manusia (dari Darwin hingga Era AI)

Super Admin 15 August 2026 46× dilihat Umum
Perjalanan Emosi Manusia (dari Darwin hingga Era AI)

Oleh : I Made Yudhistira D 

 

Ada sesuatu yang menarik dari manusia: kita bisa mengukur jarak antarbintang, memetakan genom, menciptakan kecerdasan buatan, bahkan mengirim manusia ke luar angkasa. Namun, ketika ditanya “Apa yang sebenarnya sedang saya rasakan?”, jawabannya sering kali jauh lebih sulit. Kita mengatakan “saya sedih”, “saya marah”, “saya cemas”, “saya kecewa”, atau “saya bahagia”, seolah-olah emosi adalah sesuatu yang sederhana. Padahal, sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa memahami emosi manusia adalah perjalanan panjang yang belum selesai. Bahkan hingga hari ini, para ilmuwan belum sepakat mengenai satu daftar final tentang berapa jumlah emosi manusia dan apakah setiap emosi merupakan kategori biologis yang berdiri sendiri. Jaak Panksepp, misalnya, mencatat bahwa para ilmuwan sejak lama berbeda pendapat mengenai jumlah maupun sifat “basic emotions”.

 

Perjalanan ilmiah modern mengenai emosi sering ditarik ke tahun 1872, ketika Charles Darwin menerbitkan The Expression of the Emotions in Man and Animals. Darwin tidak “menemukan” emosi sedih, takut atau marah. Jauh sebelum itu, manusia sudah mengenal dan memberi nama pada pengalaman tersebut. Sumbangan Darwin adalah mengajukan pertanyaan ilmiah: mengapa manusia dan hewan menampilkan ekspresi tertentu ketika mengalami keadaan emosional? Ia mengamati ekspresi seperti kegembiraan, kesedihan atau duka, ketakutan, kemarahan, jijik, rasa bersalah dan berbagai keadaan lainnya sebagai bagian dari persoalan evolusi manusia. Karya 1872 itu kemudian menjadi tonggak penting dalam studi ilmiah mengenai ekspresi emosi.

 

Dengan Darwin, wajah manusia tidak lagi semata-mata dianggap sebagai cermin kepribadian. Wajah menjadi objek penelitian. Tangisan, senyuman, tatapan, perubahan postur dan gerakan tubuh mulai dipandang sebagai data yang dapat diamati. Di sinilah kesedihan, misalnya, mulai mempunyai tempat yang lebih jelas dalam sejarah psikologi ilmiah. Darwin bahkan membicarakan grief, joy, fear, rage dan disgust dalam kerangka ekspresi yang dapat diamati. Jadi, jika pertanyaannya adalah “kapan kesedihan pertama kali dikenali secara ilmiah?”, jawaban yang lebih tepat bukan “1872 adalah tahun ditemukannya kesedihan”, melainkan “1872 adalah salah satu tonggak awal ketika kesedihan dan emosi lainnya dipelajari secara sistematis sebagai fenomena yang memiliki ekspresi dan kemungkinan dasar evolusioner.”

 

Dua belas tahun kemudian, pada 1884, William James menerbitkan tulisan terkenalnya What Is an Emotion?. Pertanyaannya bahkan lebih mendasar: apakah kita menangis karena merasa sedih, atau kita mengalami rasa sedih setelah tubuh kita menangis? Gagasan James—yang kemudian dikenal bersama Carl Lange sebagai teori James–Lange—memberi tempat penting bagi perubahan fisiologis tubuh dalam pengalaman emosi. Dengan kata lain, emosi bukan hanya sesuatu yang “terjadi di kepala”, tetapi berkaitan erat dengan apa yang terjadi pada tubuh. Jantung berdebar, napas berubah, otot menegang dan tubuh berkeringat bukan sekadar akibat emosi; semuanya menjadi bagian dari proses bagaimana manusia mengalami emosi.

 

Memasuki abad ke-20, teori emosi berkembang semakin kompleks. Walter Cannon dan Philip Bard mengkritik gagasan bahwa perubahan tubuh harus selalu mendahului pengalaman emosional. Teori Cannon–Bard menempatkan pengalaman emosional dan respons fisiologis sebagai proses yang dapat berlangsung secara bersamaan. Kemudian, Stanley Schachter dan Jerome Singer pada 1960-an mengembangkan teori dua faktor yang menekankan bahwa emosi tidak hanya berkaitan dengan rangsangan fisiologis, tetapi juga bagaimana seseorang menafsirkan situasi tersebut. Dengan demikian, rasa takut tidak hanya berasal dari jantung yang berdebar; kita juga perlu memahami mengapa jantung berdebar dan konteks apa yang sedang kita hadapi.

 

Pada saat yang hampir bersamaan, Silvan Tomkins menawarkan cara pandang lain. Dalam Affect Imagery Consciousness pada 1962–1963, ia menempatkan affect sebagai mekanisme biologis yang sangat mendasar dan mengusulkan sejumlah respons afektif bawaan, termasuk interest-excitement, enjoyment-joy, surprise-startle, distress-anguish, fear-terror, shame-humiliation, contempt-disgust, dan anger-rage. Dalam teori Tomkins, pengalaman hidup kemudian berinteraksi dengan sistem afektif tersebut untuk membentuk pola emosi dan kepribadian.

 

Titik penting berikutnya muncul pada 1960-an melalui penelitian Paul Ekman dan Wallace Friesen. Mereka membawa pertanyaan yang sangat menarik: apakah ekspresi emosi manusia sebenarnya universal, atau hanya hasil budaya? Penelitian lintas budaya mereka kemudian sangat terkenal karena mengidentifikasi enam ekspresi yang secara luas dapat dikenali lintas budaya, yaitu bahagia, sedih, takut, marah, jijik dan terkejut. Dari sinilah enam emosi tersebut menjadi sangat populer sebagai “basic emotions”. Tetapi sekali lagi, istilah “basic” bukan berarti enam emosi itu adalah satu-satunya emosi yang dimiliki manusia.

 

Carroll Izard kemudian memperluas cakrawala tersebut melalui Differential Emotions Theory. Dalam karya yang berkembang pada 1970-an, Izard mengidentifikasi sepuluh emosi fundamental, antara lain interest-excitement, enjoyment-joy, surprise-startle, sadness-distress, anger-rage, disgust-revulsion, contempt-scorn, fear-terror, shame-shyness dan guilt. Di sini kita mulai melihat bahwa manusia tidak hanya mempunyai enam emosi populer. Rasa malu, rasa bersalah, ketertarikan dan penghinaan pun dapat dipahami sebagai bagian dari sistem emosi yang fundamental.

 

Pada 1980, Robert Plutchik menawarkan model yang kemudian sangat populer di masyarakat, yaitu Wheel of Emotions. Ia mengusulkan delapan emosi primer: joy, trust, fear, surprise, sadness, disgust, anger dan anticipation. Yang menarik, Plutchik tidak berhenti pada daftar. Ia berpendapat bahwa emosi memiliki tingkat intensitas dan dapat berinteraksi atau bercampur membentuk pengalaman emosional yang lebih kompleks. Joy dan trust, misalnya, dapat berasosiasi dengan Love; sadness dan anger dapat menghasilkan envy dalam model kombinatorialnya. Karena itu, manusia tidak harus dipahami sebagai makhluk yang hanya mempunyai delapan “kotak emosi”, melainkan sebagai makhluk yang mampu mengalami kombinasi dan intensitas emosi yang sangat beragam.

 

Jika kita petakan sekitar 30 emosi yang sering digunakan dalam psikologi modern, sejarahnya menjadi jauh lebih menarik. Bahagia atau joy sudah muncul dalam pengamatan Darwin pada 1872 dan kemudian menjadi salah satu emosi dasar dalam klasifikasi Ekman, Izard dan Plutchik. Maknanya berkaitan dengan pengalaman menyenangkan, keberhasilan, kepuasan dan pendekatan terhadap sesuatu yang dianggap bernilai. Sedih atau sadness juga sudah dibahas Darwin sebagai grief/suffering lalu menjadi salah satu kategori utama Ekman, Izard dan Plutchik; secara psikologis, kesedihan berkaitan dengan kehilangan, kegagalan, perpisahan atau berkurangnya sesuatu yang dianggap bernilai. Takut atau fear muncul dalam karya Darwin, menjadi salah satu dari enam emosi Ekman dan masuk pula dalam teori Izard serta Plutchik; fungsi utamanya berkaitan dengan mendeteksi ancaman dan mendorong perlindungan diri. Marah atau anger juga telah dibahas Darwin dan kemudian menjadi emosi dasar dalam berbagai teori; secara adaptif ia berkaitan dengan menghadapi hambatan, ketidakadilan, ancaman terhadap kepentingan atau pelanggaran batas diri.

 

Jijik atau disgust juga memiliki sejarah panjang. Darwin telah membicarakan ekspresinya, Ekman memasukkannya dalam enam emosi dasar, Izard menjadikannya salah satu emosi fundamental dan Plutchik memasukkannya dalam delapan emosi primer. Secara fungsional, jijik berkaitan dengan penolakan terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya, menjijikkan atau tidak layak dikonsumsi maupun didekati. Terkejut atau surprise juga ditemukan dalam berbagai klasifikasi, terutama Ekman, Izard dan Plutchik. Ia merupakan respons terhadap sesuatu yang tidak terduga dan berfungsi mengalihkan perhatian secara cepat. Kepercayaan atau trust mendapat posisi lebih jelas dalam model Plutchik 1980 dan berkaitan dengan rasa aman, penerimaan serta kesiapan membangun hubungan dengan orang lain. Antisipasi atau anticipation, juga dalam model Plutchik, merupakan orientasi terhadap sesuatu yang diperkirakan akan terjadi. Ia menjelaskan mengapa manusia dapat merasa bersemangat sekaligus waswas menghadapi masa depan.

 

Kemudian ada kelompok emosi yang menunjukkan bahwa kehidupan sosial manusia jauh lebih rumit. Malu atau shame mendapat tempat penting dalam teori Izard dan juga muncul dalam pemikiran Tomkins. Malu berkaitan dengan evaluasi negatif terhadap diri ketika seseorang merasa dirinya gagal memenuhi standar sosial atau pribadi. Rasa bersalah atau guilt juga masuk dalam klasifikasi Izard dan memiliki karakter yang agak berbeda dari malu: rasa bersalah lebih sering berpusat pada penilaian bahwa “saya melakukan sesuatu yang salah”, sementara malu cenderung membawa pengalaman “ada sesuatu yang salah dengan diri saya”. Penghinaan atau contempt juga terdapat dalam teori Izard dan Tomkins, berkaitan dengan penilaian bahwa orang atau kelompok lain berada di bawah standar yang dianggap layak.

 

Cinta atau love justru memperlihatkan keterbatasan daftar “basic emotions”. Cinta tidak selalu ditempatkan sebagai emosi dasar tunggal. Dalam model Plutchik, cinta dapat dipahami sebagai kombinasi joy dan trust, sementara dalam teori-teori lain cinta dipelajari sebagai pengalaman afektif dan relasional yang jauh lebih kompleks. Kasih sayang atau affection, empati atau empathy, dan kelekatan atau attachment juga tidak dapat diperlakukan begitu saja sebagai emosi dasar universal seperti takut atau marah. Ketiganya berkembang dalam penelitian tentang hubungan sosial, perkembangan manusia, motivasi dan regulasi emosi. Artinya, semakin kita masuk ke wilayah emosi sosial, semakin sulit membuat batas yang tegas antara “emosi”, “motivasi”, “perasaan”, dan “pola hubungan”.

 

Begitu pula dengan Iri atau envy. Dalam kerangka Plutchik, iri dapat dipahami sebagai emosi kompleks yang muncul dari kombinasi keadaan emosional lain, bukan sebagai salah satu dari delapan emosi primer. Cemburu atau jealousy juga merupakan pengalaman sosial kompleks yang berkaitan dengan ancaman terhadap hubungan atau sesuatu yang dianggap berharga. Kecewa atau disappointment biasanya muncul ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Karena itu, kecewa lebih tepat dipahami sebagai pengalaman emosional yang muncul dari interaksi antara harapan, hasil dan penilaian individu daripada sebagai “basic emotion” universal. Model Plutchik membantu menjelaskan mengapa emosi kompleks dapat terbentuk dari interaksi beberapa keadaan emosional.

 

Cemas atau anxiety memiliki sejarah yang bahkan lebih menarik. Darwin membicarakan anxiety dalam kaitannya dengan grief, sementara dalam perkembangan teori modern kecemasan semakin dipahami sebagai pengalaman yang berkaitan dengan antisipasi terhadap ancaman yang belum terjadi. Dalam teori Schachter–Singer, pengalaman fisiologis dan interpretasi situasi membantu membentuk pengalaman emosional. Dalam neuropsikologi modern, Jaak Panksepp kemudian mengembangkan sistem emosional otak yang mencakup FEAR dan sistem lain yang berkaitan dengan respons terhadap ancaman.

 

Kesepian atau loneliness menunjukkan perkembangan yang lebih baru lagi. Kesepian tidak masuk dalam enam emosi dasar Ekman ataupun delapan emosi primer Plutchik. Ia lebih tepat dipahami sebagai pengalaman afektif dan sosial yang muncul ketika seseorang merasakan adanya kesenjangan antara hubungan sosial yang diinginkan dan hubungan sosial yang dialami. Harapan atau hope juga berkembang terutama dalam psikologi modern, termasuk psikologi positif, sebagai orientasi terhadap kemungkinan masa depan yang dinilai positif. Syukur atau gratitude, bangga atau pride, ketenangan atau calmness, dan rasa hormat atau respect juga lebih tepat ditempatkan dalam kelompok emosi sosial atau pengalaman afektif kompleks daripada dipaksakan menjadi emosi dasar.

 

Memasuki 1990-an, ilmu emosi bergerak semakin dekat ke otak. Jaak Panksepp mengembangkan affective neuroscience dan melalui penelitian neurobiologis mengusulkan tujuh sistem emosional primer pada mamalia: SEEKING, LUST, CARE, PLAY, FEAR, RAGE dan PANIC/SADNESS. Di sini terjadi perubahan penting: pertanyaan tentang emosi tidak lagi hanya “seperti apa ekspresi wajahnya?”, tetapi juga “sistem saraf apa yang memungkinkan pengalaman tersebut muncul?”. Panksepp bahkan membedakan sistem seperti SEEKING, CARE dan PLAY yang berkaitan dengan eksplorasi, pengasuhan dan kegembiraan sosial dari sistem FEAR, RAGE dan PANIC/SADNESS.

 

Pada abad ke-21, kita memasuki babak yang lebih kontroversial. Lisa Feldman Barrett mempertanyakan asumsi bahwa emosi seperti marah, sedih atau takut merupakan kategori biologis yang memiliki batas tegas di dalam otak. Dalam artikelnya pada 2006, Are Emotions Natural Kinds, Barrett menunjukkan bahwa bukti ilmiah tidak secara sederhana mendukung gagasan bahwa setiap kategori emosi memiliki mekanisme biologis tunggal yang dapat diidentifikasi secara konsisten. Gagasannya kemudian berkembang menjadi Theory of Constructed Emotion, yang menekankan bahwa pengalaman emosi dibangun melalui interaksi antara kondisi tubuh, prediksi otak, pengalaman sebelumnya dan konsep yang digunakan seseorang untuk memahami keadaan tersebut.

 

Di titik ini, sejarah emosi menjadi semakin menarik. Selama lebih dari satu abad, manusia berusaha menemukan “daftar emosi yang benar”. Darwin melihat ekspresi dan evolusi. James melihat tubuh. Ekman melihat ekspresi wajah lintas budaya. Izard melihat emosi fundamental. Plutchik melihat kombinasi dan intensitas. Panksepp melihat sistem emosional di otak. Barrett kemudian bertanya apakah kita terlalu cepat menganggap bahwa kategori seperti “marah”, “sedih” dan “takut” adalah benda biologis yang sudah tersedia begitu saja di dalam otak. Dengan demikian, ilmu emosi pada 2026 bukanlah ilmu yang sudah selesai; justru semakin maju penelitian, semakin kompleks pertanyaannya.

 

Karena itu, jika 30 pengalaman emosional manusia dipetakan secara historis, kita dapat melihat gambaran yang kurang lebih demikian: bahagia, sedih, takut, marah, jijik dan terkejut mempunyai jejak kuat sejak Darwin dan kemudian menjadi kategori utama Ekman; interest, shame, guilt, contempt mendapat tempat penting dalam teori Izard dan Tomkins; trust dan anticipation memperoleh posisi sentral dalam model Plutchik; love, envy, admiration, remorse, optimism dapat dipahami sebagai emosi kompleks atau kombinasi dalam kerangka Plutchik; anxiety, loneliness, gratitude, hope, empathy, affection, pride, disappointment, jealousy dan calmness berkembang dalam tradisi psikologi sosial, perkembangan, kepribadian, regulasi emosi dan psikologi positif; sedangkan SEEKING, CARE, PLAY, LUST, FEAR, RAGE dan PANIC/SADNESS memperoleh fondasi neurobiologis yang kuat dalam pendekatan Panksepp. Tidak semuanya memiliki status “basic emotion”, dan justru perbedaan status itulah yang harus dijelaskan jika kita ingin berbicara secara ilmiah.

 

Dari sini ada pelajaran penting bagi kita, terutama ketika berbicara tentang Generasi Z. Jangan buru-buru mengatakan bahwa generasi muda “lebih emosional”, “lebih sensitif”, atau “mudah cemas”. Bisa jadi bukan emosinya yang berubah, melainkan lingkungan tempat emosi itu dibentuk, dipicu, diberi nama, diekspresikan dan dikelola. Seorang remaja yang mengalami kesepian di era media sosial tidak hidup dalam lingkungan sosial yang sama dengan remaja tahun 1970-an. Seseorang yang merasa takut menghadapi masa depan dalam era perubahan teknologi, krisis iklim, ketidakpastian pekerjaan dan kecerdasan buatan juga menghadapi konteks yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

 

Maka, memahami emosi tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan “Apa nama emosi saya?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Mengapa saya merasakan ini? Apa yang memicunya? Apa maknanya? Bagaimana tubuh saya merespons? Bagaimana pengalaman masa lalu memengaruhinya? Bagaimana lingkungan sosial membentuknya? Dan apa yang sebaiknya saya lakukan setelah menyadarinya?

 

Inilah perubahan terbesar dalam perjalanan 1872–2026. Pada awalnya, manusia berusaha mengidentifikasi emosi. Kemudian manusia mencoba mengklasifikasikannya. Setelah itu manusia berusaha **menemukan mekanisme tubuh dan otaknya. Kini manusia semakin tertarik memahami bagaimana emosi dibentuk oleh otak, tubuh, pengalaman, bahasa, budaya dan lingkungan sosial. Dari Darwin hingga kecerdasan buatan, perjalanan ilmu emosi sebenarnya adalah perjalanan untuk menjawab satu pertanyaan yang sangat manusiawi: mengapa kita merasa seperti yang kita rasakan?.

 

Dan mungkin di situlah paradoksnya. Kita tidak menjadi manusia karena kita mampu menghilangkan emosi. Kita menjadi manusia justru karena mampu merasakan, memberi makna, merefleksikan, mengendalikan dan menggunakan emosi untuk menentukan bagaimana kita hidup bersama orang lain.

 

Pada akhirnya, emosi bukan kelemahan manusia. Marah dapat memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang dianggap tidak adil. Takut dapat menyelamatkan kita dari bahaya. Sedih dapat membantu kita memproses kehilangan. Cemas dapat membuat kita mempersiapkan masa depan. Bahagia memberi tanda bahwa sesuatu dianggap bernilai. Cinta mengikat manusia dalam relasi. Empati membuka ruang untuk memahami orang lain. Bahkan rasa kecewa dapat mengajarkan bahwa harapan perlu dievaluasi kembali. Karena itu, tugas manusia bukan menjadi makhluk tanpa emosi, melainkan menjadi makhluk yang mengenali emosinya tanpa diperbudak olehnya.

 

Barangkali itulah alasan mengapa setelah 154 tahun sejak Darwin menerbitkan The Expression of the Emotions in Man and Animals, pertanyaan tentang emosi masih tetap relevan pada 2026. Kita sudah memiliki psikologi, neurosains, psikologi sosial, pencitraan otak, kecerdasan buatan dan jutaan penelitian. Namun, satu hal belum berubah: manusia masih terus belajar memahami dirinya sendiri melalui emosi yang ia rasakan.

 

Catatan metodologis: tahun yang disebut dalam narasi ini adalah tahun karya atau teori yang menjadi tonggak klasifikasi ilmiah, bukan klaim bahwa tokoh tersebut “menemukan” emosi tersebut untuk pertama kalinya. Emosi seperti cinta, iri, malu, takut dan sedih sudah dikenal dalam pengalaman manusia jauh sebelum psikologi modern. Bahkan sampai sekarang tidak ada satu taksonomi emosi yang diterima secara universal.

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga