Beranda Artikel & Kajian Pocong, Ketakutan, dan Rapuhnya Ketahanan Masyarak...

Pocong, Ketakutan, dan Rapuhnya Ketahanan Masyarakat

Admin Ditpenduk 23 May 2026 15× dilihat Masyarakat Peduli Kependudukan
Pocong, Ketakutan, dan Rapuhnya Ketahanan Masyarakat

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan dan derasnya arus media sosial, masyarakat Tangerang beberapa hari terakhir dibuat resah oleh isu “teror pocong” yang disebut-sebut menjadi modus kriminalitas baru. Narasi yang beredar menggambarkan sosok berkain putih berkeliaran malam hari untuk menakut-nakuti warga sebelum melakukan pencurian atau perampokan. Polisi pun turun tangan dan meminta masyarakat tetap tenang serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi. 

 

Belakangan, sebagian besar isu tersebut ternyata tidak terbukti. Ada yang diketahui hanya pengamen cosplay, ada pula yang sekadar kabar bohong yang terlanjur menyebar luas di media sosial. Namun, persoalannya sesungguhnya bukan terletak pada ada atau tidak adanya “pocong”. Yang lebih penting adalah mengapa masyarakat begitu mudah panik, takut, dan percaya pada narasi yang belum tentu benar. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat kita sedang menghadapi krisis ketahanan sosial.

 

Ketakutan kolektif hari ini tidak lagi selalu lahir dari ancaman nyata, melainkan dari kombinasi antara tekanan ekonomi, lemahnya kohesi sosial, dan ledakan informasi digital yang tidak terkendali. Dalam kondisi sosial yang penuh kecemasan, rumor lebih cepat dipercaya dibanding klarifikasi. Masyarakat urban modern hidup dalam tekanan yang semakin kompleks. Biaya hidup meningkat, persaingan kerja makin keras, ruang sosial makin individualistis, sementara hubungan antarwarga semakin renggang. Banyak orang tinggal berdempetan di kawasan padat penduduk, tetapi tidak lagi saling mengenal.

 

Dalam situasi seperti itu, rasa aman sosial perlahan menurun. Ketika muncul isu mistis yang viral, masyarakat menjadi mudah terprovokasi karena secara psikologis mereka memang sedang hidup dalam kondisi cemas. Ketakutan akhirnya menjadi komoditas sosial yang mudah diproduksi dan disebarluaskan. Di sinilah media sosial memainkan peran besar. Hari ini, satu unggahan WhatsApp, Threads, atau TikTok dapat menciptakan kepanikan massal hanya dalam hitungan jam. Video pendek, narasi dramatis, dan tangkapan layar percakapan sering kali diterima sebagai kebenaran tanpa proses verifikasi.

 

Ironisnya, masyarakat digital justru semakin rentan terhadap manipulasi psikologis. Fenomena “teror pocong” juga memperlihatkan perubahan pola kriminalitas di era modern. Kejahatan tidak lagi semata mengandalkan kekerasan fisik, tetapi mulai memanfaatkan ketakutan sosial dan disinformasi. Pelaku memahami bahwa masyarakat yang panik akan lebih mudah kehilangan kewaspadaan. Karena itu, kasus ini sesungguhnya bukan isu mistis, melainkan isu sosial.

 

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk besar menghadapi tantangan serius dalam menjaga kualitas kehidupan sosial masyarakatnya. Urbanisasi cepat, kepadatan permukiman, pengangguran usia muda, dan ketimpangan ekonomi menciptakan ruang kerentanan sosial yang semakin luas. Jika kondisi ini tidak diantisipasi, maka masyarakat akan semakin mudah terpecah oleh hoaks, ketakutan, bahkan provokasi yang sengaja dimainkan untuk kepentingan tertentu. Di tengah situasi tersebut, pembangunan kependudukan tidak boleh lagi dipahami sekadar soal angka kelahiran, bonus demografi, atau persebaran penduduk. Pembangunan kependudukan harus diarahkan pada penguatan kualitas sosial masyarakat. Karena itu, Program Masyarakat Peduli Kependudukan menjadi semakin relevan. Program ini tidak cukup hanya bicara administrasi penduduk atau keluarga berencana, tetapi juga harus menjadi gerakan sosial yang memperkuat ketahanan masyarakat di tingkat komunitas.

 

Masyarakat perlu dibangun menjadi komunitas yang saling mengenal, peduli lingkungan, memiliki literasi digital, aktif menjaga keamanan bersama, serta mampu menyaring informasi secara rasional. Menghidupkan kembali budaya ronda, memperkuat interaksi sosial warga, dan membangun kesadaran kolektif menjadi bagian penting dari pembangunan kependudukan modern. Sebab ancaman masyarakat hari ini bukan hanya kemiskinan, tetapi juga kepanikan sosial dan hilangnya rasa percaya antarwarga. Kasus “teror pocong” mungkin akan segera dilupakan. Namun, ada pesan besar yang harus dibaca bersama: ketika masyarakat begitu mudah takut oleh isu yang belum tentu benar, maka sesungguhnya yang sedang rapuh bukan keamanan lingkungannya, melainkan ketahanan sosial manusianya.

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga