Beranda Artikel & Kajian Pseudo Gratitude: Ketika Bersyukur Hanya Menjadi T...

Pseudo Gratitude: Ketika Bersyukur Hanya Menjadi Topeng

Admin PTPK 28 August 2026 39× dilihat Umum
Pseudo Gratitude: Ketika Bersyukur Hanya Menjadi Topeng

oleh : I Made Yudhistira D

Tulisan ini terinspirasi dari pemikiran Arvan Pradiansyah dalam pembahasannya tentang “Pseudo Gratitude – Bersyukur, tapi Tidak Bersyukur” dalam Smart Happiness. Gagasan tersebut menarik untuk direnungkan karena di tengah masyarakat yang semakin akrab dengan narasi tentang positive thinking, healing, dan gratitude, ternyata ada satu persoalan yang sering luput diperhatikan: apakah kita benar-benar bersyukur, atau hanya sedang mengatakan bahwa kita bersyukur?

Ada masa ketika kita begitu mudah mengatakan “harus bersyukur”. Ketika seseorang mengeluh tentang pekerjaannya, kita mengatakan masih banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan. Ketika seseorang merasa kecewa dengan hidupnya, kita buru-buru mengingatkan bahwa masih banyak orang yang kondisinya lebih sulit. Bahkan ketika seseorang sedang mengalami kegagalan, kalimat “ambil hikmahnya dan tetap bersyukur” sering menjadi jawaban paling cepat. Kalimat itu terdengar bijaksana. Namun, tidak selalu berarti kita sedang benar-benar mengajarkan rasa syukur. Bisa jadi, kita sedang memperkenalkan sesuatu yang lebih problematis: pseudo gratitude.

Pseudo gratitude adalah rasa syukur semu. Ia tampak seperti rasa syukur, menggunakan bahasa yang sama, bahkan kadang dipertontonkan dengan sangat meyakinkan. Namun di baliknya terdapat penyangkalan terhadap emosi, masalah, atau kenyataan yang sebenarnya sedang dihadapi. Seseorang mengatakan dirinya bersyukur, tetapi sebenarnya sedang kecewa. Ia mengatakan baik-baik saja, padahal sedang terluka. Ia tersenyum di depan orang lain, sementara di dalam dirinya terdapat kecemasan yang tidak pernah selesai.

Di era media sosial, pseudo gratitude menemukan panggung yang sangat luas. Kehidupan dipresentasikan melalui foto perjalanan, pencapaian, keluarga bahagia, pekerjaan impian, rumah baru, makanan lezat, dan berbagai bentuk keberhasilan lainnya. Di antara semua itu, muncul pula narasi tentang betapa bersyukurnya seseorang atas kehidupannya. Tidak ada yang salah dengan membagikan kebahagiaan. Persoalannya muncul ketika rasa syukur berubah menjadi kewajiban untuk terlihat bahagia. Seolah-olah seseorang yang sedang sedih, kecewa, marah, atau lelah dianggap kurang bersyukur.

Di sinilah rasa syukur dapat kehilangan maknanya. Bersyukur bukan berarti menolak kenyataan bahwa hidup memiliki masalah. Bersyukur juga bukan kewajiban untuk selalu positif. Ada perbedaan besar antara menerima bahwa masih ada hal baik dalam hidup dan memaksa diri untuk menganggap semua keadaan baik-baik saja. Orang yang kehilangan pekerjaan tetap boleh bersyukur atas keluarganya, tetapi bukan berarti ia tidak boleh merasa takut terhadap masa depan. Orang yang mengalami kegagalan tetap dapat menghargai perjalanan yang telah ditempuh, tetapi bukan berarti ia harus segera tersenyum dan mengatakan bahwa kegagalan itu indah.

Masalahnya, masyarakat kita sering kali lebih nyaman dengan orang yang terlihat kuat daripada orang yang berani mengakui kelemahannya. Kita lebih mudah memberikan pujian kepada seseorang yang mengatakan “saya baik-baik saja” daripada bertanya apakah sebenarnya ia membutuhkan pertolongan. Akibatnya, banyak orang belajar menyembunyikan perasaannya sendiri. Mereka mengira bahwa mengeluh adalah tanda kelemahan, menangis adalah bentuk ketidaksyukuran, dan mengakui kelelahan berarti gagal menjadi pribadi yang tangguh.

Pseudo gratitude juga dapat menjadi cara untuk menghindari persoalan. Ketika seseorang menghadapi lingkungan kerja yang tidak sehat, ia mungkin mengatakan, “Yang penting saya masih punya pekerjaan.” Ketika sebuah hubungan sudah tidak sehat, ia berkata, “Setidaknya saya pernah dicintai.” Ketika seseorang terus-menerus diperlakukan tidak adil, ia memilih berkata, “Saya harus belajar bersabar.” Semua kalimat tersebut mungkin mengandung kebenaran. Namun jika rasa syukur digunakan untuk membenarkan keadaan yang sebenarnya membutuhkan perubahan, ia tidak lagi menjadi kekuatan. Ia berubah menjadi mekanisme untuk bertahan dalam situasi yang semestinya diperbaiki.

Ada paradoks di dalamnya. Rasa syukur seharusnya membuat seseorang semakin mampu melihat kehidupan secara utuh. Tetapi pseudo gratitude justru membuat seseorang hanya melihat sisi yang ingin ditampilkan. Ia menghapus kesedihan agar terlihat bahagia, menyembunyikan kegagalan agar terlihat berhasil, dan menutupi kegelisahan agar dianggap kuat. Pada titik tertentu, seseorang tidak lagi hidup berdasarkan apa yang benar-benar ia rasakan, melainkan berdasarkan apa yang menurutnya pantas untuk diperlihatkan kepada orang lain.

Karena itu, mungkin kita perlu mendefinisikan ulang rasa syukur. Bersyukur bukan berarti mengatakan bahwa semua hal yang terjadi dalam hidup adalah baik. Bersyukur berarti mampu mengenali sesuatu yang bernilai di tengah kenyataan yang tidak selalu ideal. Kita dapat bersyukur sekaligus kecewa. Kita dapat bersyukur sekaligus marah. Kita dapat bersyukur sekaligus ingin mengubah keadaan. Dua hal tersebut tidak selalu bertentangan.

Rasa syukur yang sehat tidak membutuhkan penyangkalan. Ia justru membutuhkan keberanian untuk melihat kenyataan secara jujur. Kita bisa mengatakan, “Saya bersyukur masih memiliki keluarga, tetapi saya sedang kesulitan.” Kita bisa mengatakan, “Saya menghargai pekerjaan ini, tetapi ada hal-hal yang perlu diperbaiki.” Kita bisa mengatakan, “Saya menerima kegagalan ini, tetapi saya tetap kecewa.” Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar kurang indah untuk media sosial, tetapi jauh lebih manusiawi.

Di titik inilah gagasan tentang pseudo gratitude menjadi penting. Jangan sampai kata “syukur” hanya menjadi kalimat otomatis yang kita ucapkan setiap kali menghadapi masalah. Jangan sampai rasa syukur berubah menjadi kewajiban sosial untuk selalu tampak bahagia. Sebab ketika seseorang dipaksa untuk bersyukur sebelum ia diberi ruang untuk mengakui rasa sakitnya, yang terjadi bukanlah penerimaan, melainkan penyangkalan.

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling positif. Hidup adalah proses memahami diri, menerima kenyataan, mengambil keputusan, dan terus bergerak. Ada hari ketika kita merasa kuat, ada hari ketika kita membutuhkan bantuan. Ada saat ketika kita mampu melihat hikmah, ada pula saat ketika kita hanya mampu bertahan sampai esok pagi. Semuanya merupakan bagian dari kehidupan.

Maka, barangkali kita perlu berhenti menggunakan kata “bersyukur” untuk membungkam perasaan manusia. Jangan meminta orang yang sedang terluka untuk segera tersenyum. Jangan menjadikan kesedihan sebagai bukti bahwa seseorang kurang bersyukur. Dan jangan pula menggunakan rasa syukur sebagai alasan untuk mempertahankan keadaan yang jelas-jelas harus berubah.

Sebab rasa syukur yang sejati tidak membuat seseorang menyangkal kehidupannya. Ia membuat seseorang berani menerimanya secara utuh. Ada bahagia, ada kecewa. Ada keberhasilan, ada kegagalan. Ada kehilangan, ada harapan. Bersyukur bukan tentang mengatakan bahwa hidup selalu baik. Bersyukur adalah kemampuan untuk tetap menemukan sesuatu yang berarti, tanpa harus berbohong kepada diri sendiri tentang apa yang sedang kita rasakan.

Mungkin, pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan “Apakah saya sudah bersyukur?” melainkan “Apakah rasa syukur saya membuat saya semakin jujur terhadap kehidupan?” Sebab bersyukur bukan sekadar mengucapkan terima kasih atas apa yang kita miliki. Bersyukur adalah kesadaran untuk menghargai kehidupan sebagaimana adanya, sambil tetap memiliki keberanian untuk memperbaiki apa yang memang perlu diperbaiki.

Referensi : https://www.youtube.com/watch?v=zeIojw1Ys88 

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga