Beranda Artikel & Kajian Stunting Tidak Dimulai di Balita, tetapi Sejak Rem...

Stunting Tidak Dimulai di Balita, tetapi Sejak Remaja Putri

Super Admin 27 June 2026 59× dilihat ASN Peduli Kependudukan
Stunting Tidak Dimulai di Balita, tetapi Sejak Remaja Putri

Oleh: Nenden Nuraeni
Bidan | Praktisi Pembangunan Keluarga dan KIA
UPT Balai Diklat Kependudukan dan KB Garut

 

Stunting sering dipahami sebagai masalah gizi pada balita. Wajar, karena tanda yang paling mudah terlihat memang muncul pada anak: tinggi badan tidak sesuai usia,
pertumbuhan kurang optimal, dan perkembangan anak yang dapat ikut terdampak. Namun, bila pencegahan hanya dimulai saat anak sudah lahir, sesungguhnya kita sedang datang terlambat.

Stunting bukan peristiwa yang muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil dari proses panjang: mulai dari kondisi gizi remaja putri, kesiapan calon ibu, kesehatan sebelum hamil,
asupan selama kehamilan, pola asuh, sanitasi, hingga akses layanan kesehatan. Karena itu, membicarakan stunting berarti juga membicarakan remaja putri hari ini sebagai calon ibu di masa depan.

Data menunjukkan bahwa Indonesia memang telah mengalami kemajuan. Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi stunting nasional sebesar 21,5 persen. Pada 2024, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan angka tersebut turun menjadi 19,8 persen. Penurunan ini patut diapresiasi, tetapi belum boleh membuat kita lengah. Angka 19,8 persen tetap berarti masih ada sekitar satu dari lima balita Indonesia yang mengalami stunting.

Remaja Putri adalah Hulu Pencegahan Stunting
Masa remaja adalah periode pertumbuhan cepat setelah masa bayi. Pada fase ini, tubuh mengalami perubahan fisik, hormonal, psikologis, dan sosial. Bagi remaja putri, kebutuhan gizi menjadi semakin penting karena tubuh sedang mempersiapkan fungsi reproduksi.

Sayangnya, perhatian terhadap gizi remaja sering kali belum sekuat perhatian terhadap gizi ibu hamil dan balita. Padahal, remaja putri yang mengalami kurang gizi, anemia, atau kebiasaan makan tidak seimbang dapat memasuki masa kehamilan dengan kondisi tubuh yang belum siap.

Inilah yang perlu diubah dalam cara pandang kita. Pencegahan stunting tidak cukup dimulai dari 1000 hari pertama kehidupan. Ia perlu dimulai lebih hulu, yaitu sejak
remaja putri memperoleh edukasi gizi, kesehatan reproduksi, dan kesiapan membangun keluarga.

Kebijakan nasional sebenarnya sudah mengarah ke sana. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting menegaskan bahwa kelompok sasaran percepatan penurunan stunting tidak hanya bayi dan balita, tetapi juga remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0–59 bulan. Artinya, negara telah menempatkan remaja sebagai bagian penting dari strategi pencegahan stunting.

 

Anemia: Alarm yang Tidak Boleh Dianggap Sepele

Salah satu masalah gizi yang banyak dialami remaja putri adalah anemia, terutama anemia defisiensi besi. Anemia bukan hanya membuat remaja mudah lelah, sulit
konsentrasi, atau kurang bersemangat belajar. Dalam jangka panjang, anemia dapat memengaruhi kesiapan tubuh perempuan ketika kelak memasuki masa kehamilan.

Remaja putri yang tumbuh dengan anemia dan kurang gizi berisiko menjadi ibu hamil dengan kondisi gizi yang tidak optimal. Kehamilan dalam kondisi anemia dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah, lahir prematur, dan mengalami gangguan pertumbuhan sejak dalam kandungan. Bayi yang memulai kehidupan dengan kondisi demikian lebih rentan mengalami masalah gizi, termasuk stunting.

Dengan kata lain, ketika anemia pada remaja putri dibiarkan, kita bukan hanya sedang membiarkan satu masalah kesehatan remaja. Kita sedang membiarkan risiko
antargenerasi: dari remaja putri hari ini, menjadi ibu hamil esok hari, lalu berdampak pada bayi yang akan dilahirkan.

Tablet Tambah Darah Bukan Sekadar Program Sekolah
Salah satu intervensi penting untuk mencegah anemia pada remaja putri adalah konsumsi tablet tambah darah. Kementerian Kesehatan telah memiliki pedoman
pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri sebagai bagian dari intervensi spesifik pencegahan anemia dan stunting. Program ini telah berjalan sejak 2014 dan
menyasar remaja putri di institusi pendidikan.

Namun, tantangannya bukan hanya ketersediaan tablet. Tantangan yang lebih besar adalah kepatuhan, pemahaman, dan dukungan lingkungan. Masih ada remaja yang enggan minum tablet tambah darah karena mual, lupa, merasa tidak butuh, atau belum memahami manfaatnya.

Di sinilah peran keluarga dan sekolah menjadi penting. Tablet tambah darah tidak boleh dipahami sebagai urusan petugas kesehatan semata. Orang tua perlu mendukung, guru perlu mengingatkan, dan remaja putri perlu diberi pemahaman bahwa menjaga kadar hemoglobin adalah bagian dari menjaga masa depan diri dan generasi berikutnya.

Gizi Remaja adalah Investasi Pembangunan Keluarga
Pencegahan stunting dari hulu tidak cukup dengan satu program. Remaja putri perlu mendapatkan ekosistem yang mendukung hidup sehat. Edukasi gizi harus dibuat
sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan tidak menggurui.

Remaja perlu memahami pentingnya makan beragam, mengonsumsi sumber protein hewani, sayur, buah, makanan kaya zat besi, serta membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak. Mereka juga perlu memahami kesehatan reproduksi, risiko pernikahan usia anak, kesiapan fisik dan mental sebelum hamil, serta pentingnya
merencanakan keluarga secara bertanggung jawab.

Pencegahan stunting bukan hanya tugas ibu setelah melahirkan. Pencegahan stunting adalah kerja panjang yang melibatkan ayah, ibu, keluarga, sekolah, masyarakat, tenaga kesehatan, penyuluh keluarga berencana, dan pemerintah daerah.

Dari Hilir ke Hulu
Selama ini, banyak kampanye stunting berfokus pada balita, pemberian makanan tambahan, pemantauan tumbuh kembang, dan posyandu. Semua itu penting. Namun,
pendekatan hilir harus dilengkapi dengan pendekatan hulu.

Pendekatan hulu berarti memastikan remaja putri tidak anemia, calon pengantin siap secara fisik dan mental, ibu hamil mendapatkan layanan antenatal yang baik, keluarga memiliki pengetahuan gizi, serta lingkungan mendukung tumbuh kembang anak.

Jika hulu kuat, hilir akan lebih ringan. Jika remaja putri sehat, peluang melahirkan generasi sehat akan semakin besar. Jika keluarga memahami gizi dan kesehatan
reproduksi sejak awal, maka pencegahan stunting tidak lagi menjadi program yang datang terlambat.

Penutup
Stunting tidak dimulai ketika anak sudah menjadi balita. Stunting dapat berawal jauh sebelumnya, ketika seorang remaja putri tumbuh dengan anemia, kurang gizi, minim literasi kesehatan, atau tidak memiliki akses pada informasi kesehatan reproduksi yang benar.

Karena itu, mencegah stunting berarti menjaga remaja putri hari ini. Mereka bukan hanya anak-anak yang sedang tumbuh. Mereka adalah calon perempuan dewasa, calon ibu, calon pendidik pertama dalam keluarga, dan bagian penting dari masa depan bangsa.

Bila kita ingin memutus mata rantai stunting, maka perhatian kita tidak boleh berhenti di posyandu balita. Ia harus bergerak ke sekolah, keluarga, komunitas remaja, dan
ruang-ruang edukasi kependudukan.

Sebab generasi sehat tidak dimulai saat bayi lahir. Generasi sehat dimulai ketika remaja putri diberi kesempatan untuk tumbuh sehat, paham tubuhnya, cukup gizinya, dan siap membangun keluarga yang berkualitas.

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga