Beranda Artikel & Kajian Thanos dan Ketakutan pada Dunia yang Tak Lagi Cuku...

Thanos dan Ketakutan pada Dunia yang Tak Lagi Cukup

Admin SSK 16 September 2026 79× dilihat Umum
Thanos dan Ketakutan pada Dunia yang Tak Lagi Cukup

Oleh: I Made Yudhistira D

Sebelum duduk di kursi bioskop untuk menyaksikan Avengers: Doomsday, ada baiknya kita mengingat kembali satu pertanyaan yang membuat Thanos menjadi salah satu tokoh paling menarik dalam semesta Marvel: bagaimana jika masalah terbesar alam semesta bukan karena manusia terlalu jahat, melainkan karena jumlah makhluk hidup sudah melampaui kemampuan alam semesta untuk menyediakan sumber daya?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya terdapat perdebatan panjang dalam ilmu kependudukan, ekonomi, lingkungan, bahkan filsafat. Thanos tidak tiba-tiba muncul dengan gagasan untuk melenyapkan separuh kehidupan. Cara berpikirnya dapat dibaca melalui pemikiran Malthusian, yang berakar pada gagasan Thomas Robert Malthus mengenai hubungan antara pertumbuhan penduduk dan ketersediaan sumber daya. Dalam kajian Trine Mærsk Kragsbjerg, Infinity War dan Endgame dibaca sebagai pertarungan gagasan antara Malthusianisme yang direpresentasikan Thanos dan pemikiran Cornucopian yang melihat manusia, pengetahuan, dan inovasi sebagai sumber daya untuk mengatasi keterbatasan.

Malthus pada akhir abad ke-18 mengajukan sebuah kegelisahan yang pada zamannya terasa radikal. Penduduk memiliki kecenderungan untuk berkembang lebih cepat daripada kemampuan alam menyediakan kebutuhan hidup. Jika pertumbuhan tersebut tidak terkendali, ketidakseimbangan pada akhirnya akan dikoreksi melalui berbagai tekanan seperti kelaparan, perang, dan penyakit. Gagasan inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi pemikiran Malthusian mengenai hubungan antara populasi, sumber daya, dan daya dukung lingkungan.

Thanos mengambil kegelisahan tersebut dan membawanya ke tingkat kosmik. Di matanya, alam semesta memiliki batas. Sumber daya terbatas, sementara makhluk hidup terus berkembang biak. Ketika jumlah makhluk hidup bertambah sementara makanan, energi, ruang, dan sumber daya tidak bertambah dengan kecepatan yang sama, konflik menjadi sesuatu yang menurutnya tidak terhindarkan. Kalimat Thanos dalam Infinity War, “Too many mouths, not enough to go around”, merangkum cara berpikir tersebut dengan sangat sederhana: terlalu banyak mulut, terlalu sedikit yang dapat dibagikan.

Pengalaman di planet Titan kemudian menjadi fondasi psikologis sekaligus ideologis bagi keyakinan Thanos. Ia melihat kehancuran planet asalnya sebagai akibat dari kegagalan masyarakat memahami persoalan populasi dan sumber daya. Ketika gagasan pengurangan populasi yang ia tawarkan ditolak, Titan akhirnya mengalami kehancuran. Bagi Thanos, pengalaman tersebut bukan sekadar tragedi masa lalu. Ia menjadikannya sebagai bukti bahwa alam semesta sedang mengulangi kesalahan yang sama.

Di sinilah pola pikir Thanos menjadi menarik. Ia tidak melihat dirinya sebagai penjahat. Ia melihat dirinya sebagai seseorang yang memahami sebuah masalah yang tidak ingin dilihat oleh orang lain. Ia merasa sedang menyelamatkan alam semesta dari masa depan yang lebih buruk. Thanos bahkan melihat tindakannya sebagai sebuah bentuk “keseimbangan”. Baginya, kehidupan akan menjadi lebih baik apabila sumber daya yang tersedia dibagi kepada jumlah makhluk hidup yang lebih sedikit.

Namun persoalannya muncul ketika Thanos mengubah sebuah persoalan ekologis dan demografis yang kompleks menjadi persoalan matematika sederhana. Jika populasi dianggap terlalu banyak, maka solusinya adalah mengurangi populasi. Jika sumber daya dianggap tidak cukup, maka jumlah penggunanya harus dikurangi. Dari sinilah lahir keputusan paling ekstrem dalam Infinity War: melenyapkan separuh kehidupan di alam semesta secara acak.

Thanos mengubah manusia dan makhluk hidup menjadi angka.

Separuh harus hilang agar separuh lainnya dapat hidup.

Pada titik inilah Thanos berhenti menjadi seorang pemikir mengenai persoalan populasi dan berubah menjadi hakim atas kehidupan. Ia mengambil keputusan tentang siapa yang hidup dan siapa yang mati tanpa persetujuan siapa pun. Ia menjadikan dirinya sebagai otoritas tertinggi yang merasa berhak menentukan keseimbangan alam semesta.

Padahal, Malthusianisme tidak sesederhana gagasan bahwa semakin banyak manusia berarti semakin buruk dunia. Persoalan populasi berkaitan dengan banyak aspek lain, termasuk konsumsi, teknologi, distribusi sumber daya, perilaku manusia, kerusakan lingkungan, serta daya dukung bumi. Dengan demikian, jumlah penduduk hanyalah salah satu bagian dari persoalan yang jauh lebih kompleks.

Ada perbedaan besar antara mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk dapat memberikan tekanan terhadap sumber daya dan mengatakan bahwa manusia adalah masalah yang harus dihilangkan. Thanos mencampurkan kedua hal tersebut. Ia mengubah persoalan distribusi menjadi persoalan eliminasi. Ia mengubah persoalan pembangunan menjadi persoalan siapa yang berhak tetap hidup.

Di sinilah logika Thanos memperlihatkan sisi paling berbahaya dari pemikiran Malthusian ketika diterjemahkan secara ekstrem. Manusia diperlakukan sebagai beban ekologis, bukan sebagai individu yang memiliki kehidupan, keluarga, harapan, kreativitas, dan martabat. Persoalan yang seharusnya membutuhkan kebijakan, inovasi, perubahan perilaku, dan pengelolaan sumber daya kemudian disederhanakan menjadi satu tindakan: mengurangi jumlah kehidupan.

Namun Marvel menghadirkan lawan intelektual Thanos yang tidak kalah menarik. Jika Thanos merepresentasikan cara pandang Malthusian, Avengers dapat dibaca melalui gagasan ekonom Julian Simon mengenai “ultimate resource”. Menurut pemikiran ini, sumber daya paling penting manusia bukan hanya minyak, batu bara, tanah, air, atau mineral, melainkan kemampuan manusia untuk berpikir dan menciptakan pengetahuan. Bertambahnya manusia juga berarti bertambahnya jumlah pikiran yang dapat menghasilkan inovasi dan menemukan solusi atas persoalan yang muncul.

Dengan cara pandang tersebut, populasi tidak semata-mata dilihat sebagai beban. Manusia juga merupakan bagian dari solusi. Ketika kebutuhan meningkat, manusia memiliki dorongan untuk menemukan teknologi baru, memperbaiki produktivitas, mengembangkan metode produksi, menemukan sumber daya baru, dan menciptakan cara yang lebih efisien dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Pertarungan Thanos dan Avengers, karena itu, sesungguhnya bukan hanya pertarungan fisik antara penjahat dan superhero. Di balik Infinity War dan Endgame terdapat pertarungan dua cara memandang masa depan. Thanos bertanya berapa banyak kehidupan yang dapat ditanggung alam semesta. Sementara cara berpikir Cornucopian bertanya apa yang dapat dilakukan manusia agar keterbatasan tersebut dapat diatasi melalui pengetahuan dan inovasi.

Thanos berangkat dari keterbatasan. Avengers berangkat dari kreativitas.

Thanos melihat populasi sebagai tekanan. Pemikiran Cornucopian melihat manusia sebagai sumber daya untuk menciptakan solusi.

Tetapi persoalan sebenarnya jauh lebih rumit daripada pertentangan dua kutub tersebut. Artikel Kragsbjerg menunjukkan bahwa film Marvel sendiri menyederhanakan persoalan overpopulation. Film lebih banyak menampilkan dampak persoalan terhadap manusia dan hanya sedikit memberikan ruang bagi kehidupan nonmanusia. Bahkan ketika Endgame memperlihatkan bahwa berkurangnya manusia membuat kondisi tertentu menjadi lebih baik bagi lingkungan, seperti kemunculan kembali paus di Sungai Hudson karena berkurangnya aktivitas kapal, perhatian cerita tetap kembali kepada penderitaan manusia.

Karena itu, sebelum menonton Avengers: Doomsday, pertanyaan yang lebih menarik bukan sekadar apakah Thanos benar atau salah. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa seseorang bisa sampai percaya bahwa melenyapkan separuh kehidupan merupakan tindakan penyelamatan.

Jawabannya dapat ditemukan dalam pola pikir yang melihat dunia sebagai sistem yang sedang menuju ketidakseimbangan. Ketika seseorang yakin bahwa sumber daya terbatas, populasi terus bertambah, dan kehancuran pada akhirnya tidak dapat dihindari, solusi ekstrem dapat mulai terlihat masuk akal. Bukan karena solusi tersebut secara otomatis benar, tetapi karena seluruh persoalan telah dipersempit menjadi satu variabel: jumlah kehidupan.

Inilah jebakan berpikir Thanos.

Ia benar ketika menyadari bahwa alam memiliki keterbatasan. Ia juga benar bahwa pertumbuhan penduduk berkaitan dengan kebutuhan terhadap pangan, energi, ruang, dan sumber daya. Tetapi dari premis tersebut ia mengambil jalan pintas yang paling ekstrem: mengurangi manusia, bukan memperbaiki cara manusia hidup.

Sebab persoalan kependudukan pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak manusia yang hidup di bumi. Persoalannya adalah bagaimana manusia hidup, bagaimana sumber daya diproduksi dan didistribusikan, bagaimana konsumsi dikelola, bagaimana teknologi dikembangkan, bagaimana lingkungan dijaga, dan bagaimana kualitas manusia dibangun.

Jumlah penduduk adalah angka. Tetapi di balik angka tersebut terdapat manusia.

Demografi memang mempelajari manusia melalui angka, tetapi manusia tidak pernah hanya menjadi angka. Di sinilah perbedaan antara pendekatan kependudukan dan cara berpikir Thanos menjadi sangat jelas. Dalam demografi, pertumbuhan penduduk tidak otomatis diterjemahkan menjadi ancaman. Ia harus dibaca bersama struktur umur, fertilitas, mortalitas, migrasi, produktivitas, kualitas sumber daya manusia, konsumsi, teknologi, serta kemampuan institusi mengelola perubahan.

Thanos melihat 50 persen.

Kita melihat 50 persen kehidupan.

Maka ketika Avengers: Doomsday kembali membawa kita ke dunia para superhero, menarik untuk menontonnya bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sebuah eksperimen pemikiran mengenai masa depan manusia. Apa yang terjadi ketika ketakutan terhadap kelangkaan menjadi begitu besar sehingga manusia mulai melihat manusia lain sebagai bagian dari masalah?

Jika sumber daya terbatas, apakah jawabannya mengurangi manusia?

Ataukah meningkatkan kemampuan manusia untuk menemukan cara hidup yang lebih cerdas, lebih efisien, lebih adil, dan lebih berkelanjutan?

Pertanyaan tersebut jauh lebih besar daripada pertarungan antara Thanos dan Avengers. Ia adalah pertanyaan yang sejak zaman Malthus terus menghantui peradaban: apakah bumi yang terbatas mampu menopang kehidupan yang terus berkembang?

Dan mungkin, pada akhirnya, persoalan terbesar bukanlah apakah alam semesta memiliki sumber daya yang cukup untuk manusia.

Persoalannya adalah apakah manusia cukup bijaksana untuk mengelola sumber daya yang dimilikinya.

Karena ancaman terbesar sebuah peradaban barangkali bukan ketika penduduknya menjadi terlalu banyak.

Melainkan ketika manusia mulai percaya bahwa sebagian manusia adalah masalah yang harus dihilangkan.

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga