Oleh : I Made Yudhistira
Ada satu kata dalam percakapan sehari-hari yang terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan persoalan psikologis yang cukup dalam: waras. Kita menggunakannya untuk menyebut orang yang pikirannya dianggap normal, perilakunya dapat diterima, emosinya terkendali, dan hidupnya tidak merepotkan orang lain. Sebaliknya, ketika seseorang dianggap terlalu emosional, berbicara tidak masuk akal, mengambil keputusan yang dianggap aneh, atau kehilangan kendali, dengan cepat muncul label: “sudah tidak waras.”
Masalahnya, psikologi tidak sesederhana itu. Dalam pengertian bahasa Indonesia, waras memang berkaitan dengan keadaan sehat secara jasmani maupun rohani, termasuk kesehatan mental dan ingatan. Tetapi dalam psikologi modern, kesehatan mental tidak pernah didefinisikan semata-mata sebagai tidak adanya gangguan mental. WHO menempatkan kesehatan mental sebagai kondisi kesejahteraan yang memungkinkan seseorang mengenali kemampuannya, menghadapi tekanan hidup, bekerja atau berfungsi secara produktif, belajar, serta berkontribusi kepada komunitas.Dengan kata lain, orang waras bukan orang yang hidupnya tanpa masalah. Orang waras adalah orang yang masih mampu berfungsi dan merespons masalah secara adaptif ketika masalah itu datang.
Ini perbedaan yang penting. Sebab kita sering keliru menganggap ketenangan sebagai kewarasan. Orang yang tidak pernah marah dianggap dewasa. Orang yang selalu tersenyum dianggap sehat mental. Orang yang bekerja terus-menerus dianggap kuat. Orang yang tidak pernah mengeluh dianggap tangguh. Padahal, seseorang bisa terlihat sangat baik-baik saja dari luar sementara di dalam dirinya sedang terjadi kelelahan psikologis yang serius.
Psikologi justru mengajarkan sesuatu yang agak berlawanan dengan intuisi kita: emosi negatif bukan tanda bahwa seseorang tidak waras. Marah, sedih, takut, kecewa, cemas, bahkan merasa kehilangan arah merupakan bagian normal dari pengalaman manusia. Yang menjadi persoalan bukan keberadaan emosinya, melainkan bagaimana seseorang mengenali, memahami, dan merespons emosi tersebut. Kemampuan mengatur emosi bukan berarti menekan emosi sampai hilang. Regulasi emosi yang sehat justru memungkinkan seseorang mengalami emosi tanpa dikuasai sepenuhnya oleh emosi itu. Dalam pendekatan psikologis kontemporer, kemampuan regulasi yang baik juga mencakup kemampuan mencari bantuan dan membangun hubungan dengan orang lain ketika beban sudah terlalu berat.
Karena itu, orang yang menangis belum tentu tidak waras. Orang yang sedang marah belum tentu tidak waras. Bahkan orang yang sedang mengalami kecemasan belum tentu mengalami gangguan mental. Kita perlu berhenti mengubah setiap ketidaknyamanan psikologis menjadi diagnosis.
Sebaliknya, orang yang selalu terlihat tenang juga belum tentu sehat. Ada orang yang sangat pandai menyembunyikan kelelahan. Ia tetap bekerja, tetap tersenyum, tetap menghadiri rapat, tetap mengunggah kehidupan yang tampak baik di media sosial. Tetapi ia kehilangan kemampuan menikmati sesuatu, sulit tidur, mudah tersinggung, merasa hidupnya kosong, atau terus-menerus hidup dalam tekanan. Secara sosial ia mungkin dianggap “kuat”. Secara psikologis, belum tentu.
Di sinilah konsep waras menjadi jauh lebih menarik. Kewarasan bukan sekadar kemampuan mengendalikan diri, melainkan kemampuan untuk tetap terhubung dengan realitas. Kita mampu melihat keadaan sebagaimana adanya, termasuk menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan. Kita dapat mengakui bahwa kita salah. Kita bisa mengubah pendapat ketika bukti berubah. Kita mampu membedakan antara fakta dan asumsi, antara keinginan dan kenyataan, antara kritik dan penghinaan, antara ancaman nyata dan ketakutan yang kita ciptakan sendiri.
Barangkali salah satu tanda kewarasan yang paling penting justru adalah kemampuan mengatakan: “Saya mungkin salah”. Kalimat sederhana itu membutuhkan sesuatu yang tidak sederhana: kerendahan hati psikologis.
Sebaliknya, ketika seseorang merasa dirinya selalu benar, tidak mampu menerima kritik, menganggap semua orang yang berbeda sebagai musuh, dan terus mencari pembenaran atas keputusan yang keliru, persoalannya tidak selalu dapat disebut gangguan mental. Namun secara psikologis, pola tersebut menunjukkan persoalan dalam fleksibilitas kognitif dan regulasi diri. Pikiran yang sehat bukan pikiran yang tidak pernah salah, melainkan pikiran yang mampu mengoreksi dirinya sendiri.
Kewarasan juga memiliki hubungan erat dengan kemampuan beradaptasi. Hidup tidak pernah stabil. Pekerjaan berubah, hubungan berubah, tubuh berubah, anak tumbuh, orang tua menua, ekonomi bergerak, teknologi mengubah cara kita bekerja dan berkomunikasi. Orang yang sehat secara psikologis bukan orang yang berhasil mempertahankan hidup persis seperti yang ia inginkan, melainkan orang yang mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan nilai-nilai penting dalam dirinya.
Itulah sebabnya resiliensi tidak sama dengan kekerasan hati. Bertahan bukan berarti tidak boleh lelah. Mandiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Dewasa bukan berarti tidak boleh menangis. Dan kuat bukan berarti selalu mampu menyelesaikan semuanya sendirian.
Dalam psikologi modern, manusia justru dipahami sebagai makhluk yang berkembang melalui relasi. Kemampuan meminta bantuan bukan kegagalan regulasi diri. Dalam kondisi tertentu, meminta bantuan adalah bentuk regulasi diri yang matang. Bahkan pendekatan psikoterapi kontemporer menempatkan kemampuan melakukan coregulasi—menerima, memberi, dan berbagi dukungan emosional—sebagai bagian penting dari fungsi psikologis yang sehat.
Kita juga perlu membedakan antara waras dan bahagia. Keduanya bukan sinonim. Orang yang waras bisa sedang berduka. Bisa sedang kecewa. Bisa sedang mengalami kegagalan. Bisa kehilangan pekerjaan. Bisa putus cinta. Bisa menghadapi konflik keluarga. Bahkan bisa berada dalam fase hidup yang sangat berat.
Kesehatan mental bukan tiket untuk hidup tanpa penderitaan. WHO sendiri menempatkan well-being bukan hanya sebagai perasaan senang, tetapi juga berkaitan dengan kualitas hidup, kemampuan menemukan makna dan tujuan, serta kapasitas untuk berkontribusi dalam kehidupan bersama. Maka kehidupan yang “waras” tidak selalu kehidupan yang nyaman. Kadang justru kehidupan yang waras adalah kehidupan ketika seseorang berani menghadapi kenyataan yang tidak nyaman.
Masalahnya, lingkungan sosial kita sering memberi penghargaan kepada kepura-puraan.
“Kamu harus kuat.”
“Jangan terlalu dipikirkan.”
“Sudahlah, jangan baper.”
“Yang penting tetap profesional.”
Kalimat-kalimat tersebut kadang memang bermaksud menguatkan. Tetapi jika terus-menerus digunakan untuk menutup ruang seseorang mengenali emosinya, ia dapat berubah menjadi bentuk pengabaian psikologis. Seseorang belajar bahwa sedih adalah kelemahan, marah adalah sesuatu yang harus disembunyikan, takut adalah aib, dan meminta pertolongan adalah tanda ketidakmampuan. Akibatnya, kita menciptakan manusia yang tampak baik-baik saja tetapi tidak benar-benar baik.
Data kesehatan jiwa Indonesia memperlihatkan bahwa persoalan ini bukan sekadar wacana. Hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa perlu dipandang sebagai bagian dari kesehatan masyarakat, bukan sekadar urusan individu. Pemerintah bahkan menganjurkan skrining kesehatan jiwa minimal sekali setahun sebagai langkah deteksi dini.
Pada 2026, Kementerian Kesehatan juga melaporkan bahwa dari sekitar tujuh juta anak yang diperiksa melalui program pemeriksaan kesehatan, hampir 10 persen menunjukkan tanda masalah kesehatan mental, termasuk gejala kecemasan dan depresi. Angka ini tentu tidak boleh diterjemahkan secara serampangan sebagai jumlah anak yang mengalami gangguan mental, tetapi cukup menjadi alarm bahwa kesehatan psikologis tidak bisa lagi ditempatkan sebagai urusan pinggiran.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, persoalan kewarasan menjadi semakin kompleks. Kita hidup dalam lingkungan yang terus meminta perhatian. Notifikasi tidak berhenti. Informasi tidak pernah habis. Perbandingan sosial berlangsung sepanjang hari. Prestasi orang lain masuk ke layar ponsel kita bahkan ketika kita sedang makan malam. Batas antara bekerja dan beristirahat semakin kabur.
Karena itu, menjaga kewarasan pada zaman sekarang bukan hanya persoalan “berpikir positif”. Itu terlalu sederhana. Kita membutuhkan kemampuan mengelola perhatian, menetapkan batas, mengenali kebutuhan diri, mengatur emosi, membangun hubungan yang sehat, menerima ketidakpastian, dan sesekali berani mengatakan tidak. Psikologi motivasi kontemporer juga menunjukkan pentingnya kebutuhan psikologis seperti otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dalam mendukung motivasi dan kesejahteraan manusia.
Ada satu hal lain yang sering luput: kewarasan bukan hanya urusan individu. Lingkungan yang buruk dapat membuat manusia terus-menerus berada dalam tekanan. Tempat kerja yang toksik, keluarga yang penuh kekerasan verbal, relasi yang manipulatif, kemiskinan, kesepian, diskriminasi, dan ketidakpastian hidup dapat menjadi beban psikologis yang nyata. WHO sendiri menegaskan bahwa well-being dipengaruhi pula oleh kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Karena itu, menyuruh seseorang “lebih kuat secara mental” tanpa memperbaiki lingkungan tempat ia hidup adalah cara yang terlalu mudah untuk memindahkan seluruh tanggung jawab kepada korban.
Kita perlu lebih berhati-hati menggunakan kata “waras”. Jangan menjadikannya senjata untuk membungkam orang yang berbeda. Jangan menggunakannya untuk merendahkan orang yang sedang mengalami gangguan mental. Dan jangan menganggap orang yang mencari bantuan profesional sebagai orang yang sudah tidak waras.
Justru sebaliknya. Mencari pertolongan ketika kita tidak mampu mengatasi sesuatu dapat menjadi tanda bahwa kita masih memiliki kesadaran terhadap kondisi diri. Kementerian Kesehatan sendiri menempatkan deteksi dini dan akses terhadap layanan kesehatan jiwa sebagai bagian penting dalam penanganan masalah kesehatan jiwa.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu mendefinisikan ulang waras.
Waras bukan berarti selalu tenang.
Waras bukan berarti selalu bahagia.
Waras bukan berarti tidak pernah takut.
Waras bukan berarti tidak pernah marah.
Waras juga bukan berarti mampu menghadapi semuanya sendirian.
Waras adalah ketika kita masih mampu mengenali kenyataan, memahami diri, mengelola respons, mempertimbangkan konsekuensi, menjaga hubungan, belajar dari kesalahan, meminta bantuan ketika diperlukan, dan tetap memiliki kemampuan untuk berubah ketika keadaan menuntutnya.
Dengan ukuran itu, kewarasan bukan keadaan yang sekali diperoleh lalu selesai. Ia lebih mirip kemampuan yang terus dirawat. Sebab hidup akan selalu menyediakan alasan untuk kehilangan kendali. Yang membedakan bukan apakah kita pernah goyah atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah setelah goyah kita masih mampu kembali melihat dunia dengan jernih, melihat diri sendiri dengan jujur, dan memilih tindakan yang lebih baik. Mungkin itulah makna waras yang paling masuk akal: bukan hidup tanpa kekacauan, melainkan kemampuan untuk tidak membiarkan kekacauan mengambil alih seluruh diri kita.