Hero Background
EDU
Tentang Kami

Dari Edukasi Menuju Kepedulian.

Ditpenduk PEDULI hadir sebagai wujud komitmen meningkatkan literasi kependudukan di Indonesia. Melalui edukasi yang inovatif, kami menumbuhkan kesadaran yang menggerakkan partisipasi aktif masyarakat.

Selengkapnya
Video Profil Ditpenduk Peduli
Informasi Terbaru

Berita & Pengumuman.

Lihat Semua Berita
Kemendukbangga/BKKBN Sosialisasikan Apresiasi ASNPK 2026, Dorong Praktik Baik Pembangunan Berwawasan Kependudukan dari Daerah
01 Oct 2026

Kemendukbangga/BKKBN Sosialisasikan Apresiasi ASNPK 2026, Dorong Praktik Baik Pembangunan Berwawasan Kependudukan dari Daerah

Jakarta, 29 September 2026 – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) melalui Direktorat Pengelolaan Kerja Sama Pendidikan Kependudukan menggelar Sosialisasi Apresiasi Aparatur Sipil Negara Peduli Kependudukan (ASNPK) Tahun 2026 dalam rangkaian Gema Edukasi, Selasa (29/9/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat peran aparatur sipil negara (ASN) dalam pembangunan berwawasan kependudukan, sekaligus menyampaikan mekanisme pengusulan dan penilaian calon penerima apresiasi.   Sosialisasi yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting diikuti 100 peserta dari Tim Kerja Pendidikan Kependudukan Perwakilan BKKBN Provinsi. Apresiasi ASNPK merupakan bentuk penghargaan kepada pemerintah daerah dan unit kerja penyelenggara pelatihan yang menunjukkan komitmen, partisipasi, serta implementasi nyata dalam pengembangan kapasitas ASN di bidang kependudukan.   Direktur Pengelolaan Kerja Sama Pendidikan Kependudukan, I Made Yudhistira Dwipayama menyampaikan bahwa apresiasi ini diberikan kepada instansi yang memiliki kepedulian terhadap isu kependudukan serta menyelenggarakan berbagai kegiatan peningkatan literasi kependudukan bagi ASN, baik di tingkat pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota.   “ASN memiliki posisi strategis untuk memastikan perspektif kependudukan diterapkan dalam pelaksanaan tugas, sekaligus menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi kebijakan, program, pelayanan, dan aksi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Made.   Dalam Apresiasi ASNPK Tahun 2026, calon penerima dinilai melalui pendekatan profiling instansi. Dengan pendekatan ini, penilaian mempertimbangkan kapasitas dan karakteristik masing-masing instansi sehingga tidak semata-mata didasarkan pada jumlah ASN yang mengikuti kegiatan.   Terdapat lima indikator utama yang menjadi dasar penilaian, yaitu Partisipasi dan Keterlibatan ASN, Implementasi Aksi Nyata, Komitmen Pimpinan, Integrasi Isu Kependudukan, serta Inovasi dan Praktik Baik. Indikator Partisipasi dan Keterlibatan ASN serta Implementasi Aksi Nyata masing-masing berbobot 30 persen. Selanjutnya, Komitmen Pimpinan dan Integrasi Isu Kependudukan masing-masing berbobot 15 persen, sedangkan Inovasi dan Praktik Baik berbobot 10 persen.   Dalam mekanisme pengusulan, setiap Perwakilan BKKBN Provinsi mengusulkan satu instansi yang dapat berasal dari pemerintah daerah (provinsi, pemerintah kabupaten/kota), atau unit kerja penyelenggara pelatihan. Calon penerima selanjutnya menyampaikan profil pelaksanaan ASNPK beserta bukti dukung sesuai indikator penilaian. Proses seleksi kemudian berlanjut ke tahap verifikasi, penilaian, hingga penetapan penerima apresiasi.   Selain partisipasi ASN, Apresiasi ASNPK juga memberi perhatian pada sejauh mana pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan edukasi diwujudkan dalam aksi nyata. Aksi tersebut dapat berupa penerapan perspektif kependudukan dalam program organisasi, penguatan pelayanan publik, pemanfaatan data kependudukan, edukasi kepada masyarakat, maupun inovasi lain yang relevan dengan isu kependudukan. Dengan demikian, Apresiasi ASNPK tidak sekadar menghargai jumlah kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi juga mendorong agar edukasi kependudukan menghasilkan tindak lanjut dan manfaat nyata dalam pelaksanaan tugas ASN.   Mendorong Praktik Baik dari Daerah Melalui Apresiasi ASNPK Tahun 2026, pemerintah daerah juga didorong untuk mendokumentasikan berbagai inovasi dan praktik baik yang telah dikembangkan. Praktik baik tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dan inspirasi bagi pemerintah daerah maupun unit kerja penyelenggara pelatihan lainnya.   Apresiasi ASNPK Tahun 2026 diharapkan dapat mendorong semakin banyak ASN untuk peduli dan memahami dinamika kependudukan, serta mampu mengintegrasikannya ke dalam pelaksanaan tugas dan pembangunan di daerah.   Pada akhirnya, ASNPK diharapkan tidak berhenti pada kegiatan edukasi, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk memperkuat pembangunan berwawasan kependudukan melalui ASN yang semakin peduli, memahami, dan mampu mengambil peran dalam menjawab berbagai tantangan kependudukan.   “ASN Peduli Kependudukan, Bergerak Bersama untuk Pembangunan Berwawasan Kependudukan.”  

Verifikasi Lanjutan Apresiasi Sekolah Siaga Kependudukan 2026, Dorong Penguatan Pendidikan Kependudukan di Sekolah
01 Oct 2026

Verifikasi Lanjutan Apresiasi Sekolah Siaga Kependudukan 2026, Dorong Penguatan Pendidikan Kependudukan di Sekolah

Jakarta — Direktorat Pengelolaan Kerja Sama Pendidikan Kependudukan (Ditpenduk), Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, melaksanakan Verifikasi Lanjutan Apresiasi Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) Tahun 2026 pada 23–25 September 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penilaian Apresiasi SSK tingkat nasional yang bertujuan menggali secara lebih mendalam pelaksanaan Program SSK di satuan pendidikan, memvalidasi data dan informasi yang disampaikan sekolah, serta melihat kapasitas sekolah dalam mengimplementasikan pendidikan kependudukan secara nyata dan berkelanjutan. Verifikasi lanjutan dilakukan melalui presentasi dan wawancara dengan kepala sekolah, tim pengelola SSK, guru mata pelajaran, serta peserta didik. Sebanyak 21 sekolah dari berbagai daerah mengikuti tahapan ini dengan memaparkan implementasi SSK, inovasi yang dikembangkan, capaian program, serta berbagai bukti pelaksanaan pendidikan kependudukan di lingkungan sekolah. Keterlibatan peserta didik menjadi salah satu bagian penting dalam proses verifikasi. Melalui wawancara langsung, tim penilai menggali sejauh mana pengetahuan dan pemahaman mengenai isu kependudukan telah diterima peserta didik serta bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tahapan verifikasi lanjutan memiliki bobot 40 persen dari keseluruhan penilaian Apresiasi SSK. Aspek yang dinilai antara lain kejelasan dan penguasaan materi, kemampuan menjawab pertanyaan, serta kemampuan sekolah menunjukkan bukti nyata atas implementasi program yang telah dilakukan. Pada salah satu sesi verifikasi bersama MAS Kulliyatul Muballighien, turut hadir Wakil Wali Kota Padang Panjang, Allex Saputra. Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pengelolaan Kerja Sama Pendidikan Kependudukan, Bapak I Made Yudhistira Dwipayama menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan pendidikan kependudukan melalui Program SSK. Direktur menekankan bahwa keberhasilan SSK tidak semata-mata ditentukan oleh sekolah. Implementasi program membutuhkan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, satuan pendidikan, guru, peserta didik, orang tua, hingga masyarakat. Sinergi tersebut diperlukan untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif sehingga pendidikan kependudukan dapat dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. Kolaborasi lintas pemangku kepentingan juga terlihat dalam sesi verifikasi lanjutan lainnya. Pada sesi bersama SMP Negeri 2 Palimanan, turut hadir Bupati Cirebon, Drs. H. Imron Rosyadi, M.Ag. Sementara itu, dalam sesi bersama SMP Negeri 1 Telaga, hadir Maryam Sofyan Puhi, istri Bupati Gorontalo sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Gorontalo. Kehadiran unsur pimpinan daerah dalam proses verifikasi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan pendidikan kependudukan membutuhkan keterlibatan bersama dan dukungan yang berkelanjutan. Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan kebijakan dan ekosistem yang memungkinkan sekolah mengembangkan berbagai inovasi pendidikan kependudukan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan daerah. Melalui Verifikasi Lanjutan Apresiasi SSK Tahun 2026, berbagai praktik baik, inovasi, dan capaian sekolah tidak hanya menjadi bagian dari proses penilaian, tetapi juga diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi pengembangan Program SSK ke depan. Capaian yang telah dibangun sekolah diharapkan tidak berhenti pada momentum apresiasi. Berbagai inovasi dan praktik baik perlu terus dipertahankan, dikembangkan, dan diintegrasikan ke dalam budaya sekolah agar pendidikan kependudukan menjadi bagian dari proses pembelajaran dan kehidupan sehari-hari peserta didik. Dengan demikian, Sekolah Siaga Kependudukan diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memahami isu kependudukan, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku yang responsif terhadap dinamika kependudukan. Pada akhirnya, pendidikan kependudukan di sekolah menjadi salah satu investasi penting dalam menyiapkan generasi Indonesia yang berkualitas dan mampu berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

ASN Siginjai Belajar Seri 3 Tahun 2026 Bahas Strategi Kependudukan untuk Mewujudkan Kota Jambi Bahagia
18 Sep 2026

ASN Siginjai Belajar Seri 3 Tahun 2026 Bahas Strategi Kependudukan untuk Mewujudkan Kota Jambi Bahagia

Jambi, 16 September 2026** — Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BKPSDMD) Kota Jambi bersama Perwakilan BKKBN Provinsi Jambi menggandeng Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menyelenggarakan Webinar ASN Siginjai Belajar Seri 3 Tahun 2026 secara daring, Rabu (16/9). Kegiatan yang diikuti oleh ASN di lingkungan Pemerintah Kota Jambi serta sejumlah ASN kementerian/lembaga dan perangkat daerah lainnya tersebut mengangkat tema “Akselerasi Kota Jambi Bahagia: Wujudkan Kependudukan Berkualitas melalui Sinergi ASN”. Webinar dibuka oleh Kepala BKPSDMD Kota Jambi, Rizalul Fikri, S.E., M.A.P., dengan menghadirkan Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, S.Si., M.Eng. dan Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, M.K.M. sebagai narasumber. Dalam webinar tersebut ditekankan bahwa pembangunan kependudukan merupakan bagian integral dari pembangunan daerah. Penduduk tidak hanya dipandang sebagai objek pembangunan, tetapi juga sebagai sumber daya sekaligus pelaku pembangunan yang perlu menjadi pertimbangan dalam setiap tahapan perencanaan dan pelaksanaan kebijakan. Berdasarkan data yang dipaparkan, jumlah penduduk Kota Jambi pada 2025 mencapai 649.260 jiwa, dengan luas wilayah 169,89 km² dan kepadatan rata-rata 3.781 jiwa/km². Kota Jambi terdiri atas 11 kecamatan dan 68 kelurahan. Dinamika tersebut perlu direspons melalui pembangunan yang memperhatikan berbagai aspek, antara lain pertumbuhan ekonomi, kualitas sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, kemiskinan, ketimpangan, serta pelayanan publik. ## ASN sebagai Penggerak Pembangunan Kependudukan Peran ASN menjadi salah satu perhatian utama dalam webinar. Dengan jumlah ASN Pemerintah Kota Jambi mencapai 10.067 orang, terdiri atas 4.342 PNS dan 5.725 PPPK, aparatur memiliki kapasitas strategis untuk memastikan perspektif kependudukan terintegrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Isu kependudukan bersifat lintas sektor dan berkaitan erat dengan pendidikan, kesehatan, ekonomi, ketenagakerjaan, perlindungan sosial, pembangunan keluarga, serta pelayanan publik. Karena itu, pengelolaan pembangunan kependudukan membutuhkan sinergi antarperangkat daerah serta penggunaan data sebagai dasar pengambilan kebijakan. ASN diharapkan mampu menerjemahkan data dan informasi kependudukan ke dalam kebijakan, program, kegiatan, serta pelayanan publik yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. ## Penguatan GDPK dan PJPK Webinar juga membahas penguatan pembangunan kependudukan melalui Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) dan Peta Jalan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (PJPK). GDPK 2011–2035 berdasarkan Perpres Nomor 153 Tahun 2014 mencakup lima pilar, yaitu pengendalian kuantitas penduduk, peningkatan kualitas penduduk, pembangunan keluarga, penataan persebaran dan pengarahan mobilitas penduduk, serta penataan administrasi kependudukan. Dalam perkembangan kebijakan pembangunan kependudukan, perspektif tersebut terus diperkuat melalui Desain Besar Pembangunan Kependudukan 2025–2045 dan PJPK, termasuk melalui penguatan integrasi data kependudukan. Untuk Kota Jambi, dari 30 indikator PJPK, sebanyak 26 indikator telah terintegrasi secara substansial dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, termasuk RPJMD dan dokumen perencanaan perangkat daerah. Sementara empat indikator lainnya berada di luar kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Berdasarkan kategori penilaian yang digunakan, integrasi tersebut berada pada kategori “sangat baik.” ## Quick Win untuk Menjawab Tantangan Kependudukan Sebagai bagian dari penguatan intervensi pembangunan keluarga dan kependudukan, webinar turut memperkenalkan sejumlah Quick Win Kemendukbangga/BKKBN, yaitu Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), AI–SuperApps Tentang Keluarga, serta SIDAYA (Lansia Berdaya). Berbagai inisiatif tersebut diarahkan untuk memperkuat pengasuhan anak, pencegahan stunting, keterlibatan ayah dalam keluarga, akses informasi dan layanan keluarga, serta peningkatan kemandirian dan produktivitas lansia. Bagi pemerintah daerah, pendekatan tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor agar kebijakan pembangunan kependudukan dapat diterjemahkan menjadi program yang konkret dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. ## Menuju Kota Jambi Bahagia Pemerintah Kota Jambi menempatkan pembangunan kependudukan sebagai salah satu bagian penting dalam upaya mewujudkan visi Kota Jambi Bahagia. Beberapa arah kebijakan yang dipaparkan meliputi penyusunan GDPK lima pilar Kota Jambi, integrasi indikator PJPK ke dalam dokumen perencanaan daerah, dukungan anggaran untuk penyesuaian target dan indikator GDPK serta penyusunan PJPK, dan pengembangan inovasi atau Quick Win pembangunan kependudukan. Melalui ASN Siginjai Belajar Seri 3 Tahun 2026, penguatan literasi kependudukan diharapkan semakin memperluas pemahaman ASN bahwa pembangunan kependudukan bukan merupakan urusan satu sektor, melainkan tanggung jawab bersama seluruh unsur pemerintahan. Pembangunan yang berorientasi pada penduduk membutuhkan data yang kuat, perencanaan yang terintegrasi, kolaborasi lintas sektor, serta ASN yang mampu menerjemahkan kebijakan menjadi pelayanan publik yang responsif. Sebagaimana pesan Wali Kota Jambi dalam kegiatan tersebut, “ASN menjadi penggerak, sinergi menjadi kekuatan, dan Kota Jambi Bahagia menjadi tujuan.” Webinar ini sekaligus memperkuat kolaborasi antara Kemendukbangga/BKKBN dan Pemerintah Kota Jambi dalam membangun pemahaman bersama serta mendorong pembangunan kependudukan sebagai fondasi pembangunan daerah yang berkualitas dan berkelanjutan.

Jadwal & Acara

Agenda Kegiatan.

Lihat Semua Agenda

Tidak ada agenda mendatang.

Literatur & Publikasi

Artikel & Kajian.

Artikel Terbaru

Lihat Semua
03 Oct 2026

Ketika Kebutuhan Membentuk Perilaku Pemimpin

Penulis: I Made Yudhistira D Kepemimpinan sering kali dibicarakan dari sisi kewenangan, kompetensi, visi, dan kemampuan mengambil keputusan. Namun ada satu sisi yang tidak kalah penting: manusia yang berada di balik jabatan itu sendiri. Seorang pimpinan bukan hanya pemegang kekuasaan administratif, melainkan manusia dengan kebutuhan, dorongan, kecemasan, harapan, dan keinginan untuk dihargai. Karena itu, memahami perilaku pimpinan tidak cukup hanya dengan melihat apa yang dilakukannya, tetapi juga perlu memahami kebutuhan apa yang sedang mendorong perilaku tersebut. Abraham Maslow melalui teori Hierarchy of Needs atau hirarki kebutuhan menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang tersusun secara bertingkat, mulai dari kebutuhan fisiologis, rasa aman, kebutuhan sosial, penghargaan, hingga aktualisasi diri. Teori ini memang bukan teori khusus tentang kepemimpinan, tetapi sangat relevan digunakan untuk membaca perilaku manusia di dalam organisasi. Seorang pimpinan yang kebutuhan dasarnya belum terpenuhi dapat menunjukkan perilaku yang sangat berbeda dibandingkan pimpinan yang kebutuhan psikologis dan aktualisasi dirinya telah terpenuhi. Pada tingkat pertama terdapat kebutuhan fisiologis. Dalam konteks kepemimpinan, kebutuhan ini tidak semata-mata berbicara tentang makanan dan minuman, tetapi juga kondisi fisik yang memungkinkan seseorang menjalankan fungsi kepemimpinan secara sehat. Pimpinan yang terus-menerus kelelahan, kurang tidur, mengalami tekanan fisik, atau bekerja dalam kondisi yang tidak mendukung dapat menjadi lebih mudah tersinggung, tidak sabar, sulit berkonsentrasi, dan cenderung mengambil keputusan secara reaktif. Rapat yang seharusnya menjadi ruang dialog dapat berubah menjadi ruang pelampiasan emosi. Kesalahan kecil bawahan dapat dibesar-besarkan karena kapasitas pengendalian diri sedang menurun. Sebaliknya, ketika kebutuhan fisiologis relatif terpenuhi, seseorang memiliki ruang psikologis yang lebih baik untuk berpikir, mendengar, dan mengambil keputusan. Pimpinan yang memiliki waktu istirahat memadai, mampu mengatur beban kerja, dan menjaga kondisi fisiknya cenderung lebih mampu menghadapi persoalan dengan kepala dingin. Misalnya, ketika seorang staf melakukan kesalahan dalam laporan, pimpinan tidak langsung memarahi staf tersebut, tetapi memeriksa penyebabnya terlebih dahulu. Perbedaan tersebut terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya menunjukkan bagaimana kebutuhan dasar dapat memengaruhi kualitas perilaku kepemimpinan. Di atas kebutuhan fisiologis terdapat kebutuhan akan rasa aman. Bagi seorang pimpinan, rasa aman dapat berkaitan dengan keamanan pekerjaan, kepastian posisi, stabilitas organisasi, penerimaan lingkungan, maupun rasa aman secara psikologis. Ketika seorang pimpinan merasa posisinya terancam, perilakunya dapat berubah menjadi defensif. Ia mungkin menjadi terlalu berhati-hati, takut mengambil keputusan, membangun lingkaran orang-orang yang dianggap loyal, menolak kritik, atau bahkan mengontrol bawahan secara berlebihan. Dalam kondisi tertentu, pimpinan yang merasa terancam dapat lebih sibuk mempertahankan posisinya daripada menyelesaikan persoalan organisasi. Contohnya, seorang kepala unit mengetahui bahwa kinerjanya sedang dievaluasi. Jika ia melihat evaluasi sebagai ancaman terhadap kedudukannya, ia mungkin hanya memberikan informasi yang menguntungkan dirinya, menyalahkan bawahan ketika target tidak tercapai, atau menghindari keputusan yang berisiko. Namun apabila ia memiliki rasa aman secara psikologis dan memahami bahwa evaluasi merupakan bagian dari perbaikan organisasi, ia justru dapat mengatakan, “Ada bagian yang belum mencapai target. Mari kita lihat bersama apa yang harus diperbaiki.” Di sinilah rasa aman membentuk perbedaan antara perilaku defensif dan perilaku terbuka terhadap perbaikan. Kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan sosial atau rasa memiliki. Manusia membutuhkan hubungan, penerimaan, persahabatan, dan rasa menjadi bagian dari kelompok. Dalam organisasi, kebutuhan ini sangat menentukan bagaimana seorang pimpinan membangun relasi dengan bawahannya. Ketika kebutuhan sosial tidak terpenuhi, seorang pimpinan dapat merasa terisolasi meskipun berada di tengah banyak orang. Ia bisa menjadi dingin, menjaga jarak, membangun kelompok eksklusif, atau justru mencari pengakuan melalui kedekatan dengan orang-orang tertentu. Fenomena “anak emas” dalam organisasi dapat dibaca dari perspektif ini, meskipun tentu tidak semua kasus dapat dijelaskan hanya oleh kebutuhan sosial. Seorang pimpinan yang sangat membutuhkan penerimaan mungkin cenderung memberikan perhatian berlebihan kepada orang-orang yang membuatnya merasa nyaman dan diterima. Akibatnya, objektivitas dalam pembagian tugas, kesempatan, bahkan penghargaan dapat terganggu. Bawahan yang berada di luar lingkaran tersebut kemudian merasa tidak dianggap sebagai bagian dari organisasi. Sebaliknya, pimpinan yang kebutuhan sosialnya terpenuhi tidak harus mencari kelompok eksklusif untuk mendapatkan rasa diterima. Ia dapat membangun hubungan yang lebih luas dan sehat. Ia mampu menyapa staf tanpa memandang jabatan, membuka ruang dialog, mendengarkan perbedaan pendapat, dan menciptakan suasana bahwa setiap orang memiliki tempat di dalam organisasi. Ketika seorang pimpinan mengatakan, “Saya mungkin kepala unit ini, tetapi keberhasilan kita adalah hasil kerja bersama,” kalimat tersebut bukan sekadar basa-basi apabila diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Setelah kebutuhan sosial terdapat kebutuhan akan penghargaan atau esteem. Pada tingkat ini, manusia membutuhkan pengakuan, penghormatan, kompetensi, pencapaian, dan rasa bahwa dirinya memiliki nilai. Dalam dunia kepemimpinan, kebutuhan penghargaan sering kali menjadi sangat kuat karena jabatan itu sendiri memberikan simbol status. Persoalannya muncul ketika penghargaan berubah menjadi kebutuhan untuk selalu dikagumi. Pimpinan yang kebutuhan penghargaan dirinya tidak terpenuhi dapat menunjukkan perilaku haus pengakuan. Ia ingin selalu disebut dalam setiap keberhasilan, sulit menerima ketika bawahan lebih menonjol, merasa tersinggung ketika gagasannya dikritik, atau menganggap perbedaan pendapat sebagai bentuk ketidakloyalan. Dalam bentuk yang lebih ekstrem, pimpinan dapat mengambil kredit atas keberhasilan tim tetapi melempar kesalahan kepada bawahan ketika terjadi kegagalan. Bayangkan sebuah tim berhasil menyelesaikan proyek besar. Seorang pimpinan yang membutuhkan pengakuan secara berlebihan mungkin berkata, “Ini semua karena saya.” Sebaliknya, pimpinan dengan kebutuhan penghargaan yang sehat justru mengatakan, “Saya mengapresiasi tim. Mereka yang bekerja keras, sementara tugas saya memastikan mereka memiliki arah dan dukungan.” Menariknya, pimpinan yang mampu memberikan penghargaan kepada orang lain justru menunjukkan bahwa dirinya tidak terlalu bergantung pada pengakuan dari orang lain. Pada tingkat yang lebih tinggi terdapat aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah dorongan untuk mengembangkan potensi secara maksimal dan menghasilkan sesuatu yang bermakna. Dalam konteks kepemimpinan, pimpinan yang berada pada tahap ini tidak lagi menjadikan jabatan semata-mata sebagai sumber kekuasaan, status, atau pengakuan. Jabatan menjadi instrumen untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya. Pimpinan yang belum mencapai kebutuhan aktualisasi diri dapat terjebak pada orientasi mempertahankan jabatan. Fokusnya adalah bagaimana terlihat berhasil, bagaimana mendapatkan penghargaan, bagaimana mempertahankan pengaruh, dan bagaimana memastikan dirinya tetap menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, pimpinan yang semakin dekat dengan aktualisasi diri mulai bertanya dengan pertanyaan yang berbeda: apa yang bisa saya tinggalkan setelah saya tidak lagi berada di posisi ini? Perbedaan tersebut sangat nyata dalam perilaku organisasi. Seorang pimpinan yang berorientasi pada kekuasaan mungkin membangun sistem yang sangat bergantung kepada dirinya. Semua keputusan harus melalui dirinya. Bawahan tidak diberi ruang untuk berkembang karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing. Ketika pimpinan tersebut pergi, sistem ikut melemah. Sebaliknya, pimpinan yang berorientasi pada aktualisasi diri akan membangun orang lain. Ia menciptakan kader, mendelegasikan kewenangan, membuka ruang inovasi, dan memastikan organisasi tetap berjalan meskipun dirinya tidak lagi berada di sana. Pada titik inilah muncul paradoks kepemimpinan. Semakin matang seseorang dalam memenuhi kebutuhan dirinya, seharusnya semakin kecil kebutuhan untuk mengendalikan orang lain demi membuktikan dirinya. Pimpinan yang masih lapar akan pengakuan cenderung bertanya, “Bagaimana orang melihat saya?” Pimpinan yang semakin teraktualisasi mulai bertanya, “Apa dampak keberadaan saya bagi orang lain?” Namun Maslow tidak seharusnya dipahami secara terlalu mekanistis seolah-olah seseorang harus menyelesaikan kebutuhan tingkat bawah secara sempurna sebelum dapat mencapai tingkat berikutnya. Dalam kenyataan, seorang pimpinan dapat mengalami beberapa kebutuhan sekaligus. Seseorang bisa merasa aman tetapi tetap membutuhkan penghargaan. Ia dapat memiliki jabatan tinggi tetapi tetap mengalami kesepian. Ia dapat memperoleh banyak penghargaan tetapi belum menemukan makna dalam pekerjaannya. Karena itu, hirarki kebutuhan lebih tepat digunakan sebagai kerangka untuk memahami dinamika perilaku daripada sebagai tangga yang harus dinaiki secara kaku. Persoalan menjadi lebih menarik ketika kebutuhan pribadi pimpinan bertemu dengan kebutuhan organisasi. Seorang pimpinan yang kebutuhan pribadinya belum terpenuhi berpotensi membawa kegelisahan tersebut ke dalam cara ia memimpin. Kebutuhan akan keamanan dapat berubah menjadi perilaku defensif. Kebutuhan akan penerimaan dapat berubah menjadi favoritisme. Kebutuhan akan penghargaan dapat berubah menjadi haus pujian. Sementara kebutuhan akan aktualisasi diri yang sehat dapat berubah menjadi dorongan untuk membangun, memberdayakan, dan meninggalkan warisan organisasi. Karena itu, organisasi tidak cukup hanya bertanya apakah seorang pimpinan memiliki kompetensi teknis. Organisasi juga perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan kebutuhan manusiawi para pemimpinnya dan pegawainya terpenuhi secara sehat. Sistem penghargaan yang adil, komunikasi yang terbuka, keamanan psikologis, kesempatan berkembang, hubungan kerja yang sehat, dan ruang untuk berinovasi bukan sekadar fasilitas organisasi. Semua itu merupakan bagian dari ekosistem yang membentuk perilaku manusia. Pada akhirnya, kualitas seorang pimpinan tidak hanya terlihat ketika ia memperoleh kekuasaan, tetapi juga ketika ia tidak lagi membutuhkan kekuasaan untuk merasa berharga. Pimpinan yang masih sibuk membuktikan dirinya akan cenderung menjadikan organisasi sebagai panggung pribadi. Pimpinan yang telah menemukan makna dirinya akan menjadikan organisasi sebagai ruang untuk menumbuhkan orang lain. Mungkin karena itu, pertanyaan terpenting tentang seorang pimpinan bukanlah seberapa tinggi jabatannya, seberapa besar kewenangannya, atau seberapa banyak orang yang berada di bawah perintahnya. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: kebutuhan apa yang sedang ia kejar, dan bagaimana kebutuhan itu memengaruhi orang-orang yang dipimpinnya? Sebab pada akhirnya, kebutuhan manusia membentuk perilaku. Dan perilaku seorang pimpinan membentuk budaya organisasi. Ketika kebutuhan pribadi dikelola dengan matang, kekuasaan dapat berubah menjadi pelayanan. Ketika kebutuhan tidak terpenuhi dan tidak disadari, kekuasaan dapat berubah menjadi pertahanan diri. Di antara keduanya terdapat satu pembeda penting: kesadaran diri.

27 Sep 2026

Tugas Ibu Tidak Akan Pernah Selesai

Oleh: I Made Yudhistira   Ada satu pekerjaan dalam kehidupan yang tidak mengenal istilah selesai: menjadi ibu. Pekerjaan itu tidak berakhir ketika anak sudah bisa berjalan, tidak selesai ketika anak sudah mampu membaca, tidak berhenti ketika anak lulus sekolah, bahkan tidak benar-benar usai ketika anak telah dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri. Yang berubah hanyalah bentuk tugasnya. Dahulu seorang ibu memastikan anak makan, tidur, mandi, dan tidak jatuh ketika belajar berjalan. Beberapa tahun kemudian ia memastikan anak belajar, memiliki teman yang baik, mengenal batas, dan mampu bertanggung jawab. Ketika anak memasuki remaja, tugasnya berubah menjadi jauh lebih rumit: menjaga tanpa terlalu mengikat, mengarahkan tanpa mendominasi, mendengarkan tanpa selalu menghakimi, dan mencintai tanpa harus mengendalikan seluruh kehidupan anak.   Sebuah penelitian yang dilakukan Suniya S. Luthar dan Lucia Ciciolla dari Arizona State University dan diterbitkan dalam Developmental Psychology pada 2016 memperlihatkan sisi lain dari perjalanan tersebut. Penelitian terhadap lebih dari 2.200 ibu dengan anak dari masa bayi hingga dewasa menemukan bahwa kesejahteraan psikologis ibu tidak bergerak lurus mengikuti pertambahan usia anak. Justru terdapat pola naik-turun yang menarik. Ibu dengan anak bayi dan anak yang telah dewasa menunjukkan sejumlah indikator penyesuaian diri yang relatif lebih baik, sementara masa middle school atau kurang lebih usia awal remaja menjadi periode yang paling menantang pada berbagai ukuran kesejahteraan, termasuk stres, kepuasan hidup, kepuasan menjalankan peran sebagai orang tua, kesepian, dan persepsi terhadap perilaku anak.   Temuan tersebut seperti membalik anggapan umum bahwa masa paling berat menjadi ibu pasti terjadi ketika anak masih bayi. Bayi memang membutuhkan energi fisik yang luar biasa. Ibu mungkin kurang tidur, harus terjaga ketika anak menangis, mengatur makan, menjaga kesehatan, sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan besar dalam kehidupan keluarga. Namun, penelitian tersebut menunjukkan sesuatu yang menarik: ibu dengan bayi dalam penelitian justru melaporkan kepuasan hidup yang relatif tinggi dan tidak menunjukkan tingkat penyesuaian yang paling buruk. Barangkali karena pada masa itu kebutuhan anak masih sangat jelas. Bayi menangis ketika lapar, menangis ketika tidak nyaman, dan mencari ibu ketika membutuhkan rasa aman. Dunia anak masih berada sangat dekat dengan dunia ibunya.   Persoalannya berubah ketika anak tumbuh. Anak yang dahulu selalu mencari tangan ibunya mulai belajar melepaskan tangan tersebut. Ia mulai memiliki teman sendiri, rahasia sendiri, pendapat sendiri, selera sendiri, dan kemudian keputusan sendiri. Di sinilah pekerjaan seorang ibu menjadi semakin kompleks. Anak tidak lagi sekadar membutuhkan perlindungan, tetapi membutuhkan ruang untuk menemukan dirinya. Bagi ibu, perubahan ini tidak selalu mudah diterima. Ada kecemasan ketika anak mulai memilih teman sendiri. Ada kekhawatiran ketika anak mulai lebih percaya kepada teman daripada orang tua. Ada kegelisahan ketika anak mulai mempertanyakan aturan yang selama bertahun-tahun dianggap benar. Bahkan ada luka kecil yang sering tidak dibicarakan ketika seorang anak mulai berkata, “Aku sudah besar, aku bisa sendiri.”   Masa SMP menjadi periode yang sangat menarik dalam penelitian Luthar dan Ciciolla karena pada tahap ini berbagai perubahan datang hampir bersamaan. Anak memasuki pubertas, mengalami perubahan fisik dan hormonal, mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih kompleks, mencari identitas diri, sekaligus mulai berusaha memperoleh jarak dari orang tua. Di sekolah, lingkungan sosial juga menjadi lebih kompleks. Anak menghadapi tuntutan akademik, relasi pertemanan, kebutuhan untuk diterima kelompok, serta berbagai bentuk tekanan sosial. Pada saat yang sama, ibu menghadapi perubahan perilaku anak yang terkadang sulit dipahami. Anak yang kemarin masih mudah diajak berbicara tiba-tiba lebih tertutup. Anak yang dahulu menerima nasihat mulai mempertanyakan semuanya. Bagi ibu, perubahan tersebut dapat terasa seperti kehilangan sesuatu yang sebelumnya sangat dekat.   Di sinilah pengasuhan sebenarnya memasuki babak yang berbeda. Mengasuh anak kecil relatif mudah dipahami karena kebutuhan mereka konkret. Mengasuh remaja membutuhkan kemampuan membaca sesuatu yang tidak selalu dikatakan. Anak mungkin mengatakan tidak membutuhkan bantuan, padahal sebenarnya sedang mengalami kebingungan. Anak mungkin tampak marah, padahal sedang takut. Anak mungkin menjauh, padahal sedang membutuhkan tempat yang aman untuk kembali. Karena itu, ibu pada masa remaja tidak cukup hanya memiliki kesabaran. Ia membutuhkan literasi perkembangan anak, kemampuan komunikasi, pengendalian emosi, dan kesediaan untuk mengubah cara mengasuh.   Sayangnya, masyarakat sering menuntut ibu untuk selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ketika anak kecil bermasalah, ibu ditanya mengapa tidak mengawasi. Ketika anak remaja memberontak, ibu kembali ditanya mengapa tidak mendidik dengan baik. Ketika anak gagal di sekolah, ibu dianggap kurang mendampingi. Ketika anak terlalu bergantung, ibu dianggap terlalu memanjakan. Ketika anak terlalu mandiri, ibu bisa dianggap kurang dekat. Seolah-olah dalam setiap situasi terdapat satu jawaban sempurna yang harus diketahui seorang ibu. Padahal pengasuhan tidak pernah sesederhana itu. Seorang ibu juga sedang belajar menjadi ibu bersamaan dengan anaknya belajar menjadi manusia.   Di sinilah pendidikan anak seharusnya tidak hanya berbicara tentang prestasi akademik. Kita terlalu mudah mengukur keberhasilan pendidikan melalui nilai rapor, ranking, kelulusan, sekolah favorit, atau universitas tempat anak diterima. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Pendidikan anak juga menyangkut kemampuan mengelola emosi, membangun hubungan sehat, mengambil keputusan, menghadapi kegagalan, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan pada akhirnya mampu menjalani kehidupan tanpa kehilangan arah. Untuk mencapai semua itu, anak membutuhkan orang tua yang bukan hanya mengajarkan, tetapi juga hadir secara emosional.   Namun ada persoalan lain yang sering luput: siapa yang mendidik ibu?   Kita memiliki begitu banyak program untuk meningkatkan kapasitas anak, tetapi sering menganggap orang tua secara otomatis tahu bagaimana menghadapi setiap fase perkembangan. Padahal seorang ibu yang berhasil merawat bayi belum tentu otomatis siap menghadapi anak remaja. Pengetahuan yang dibutuhkan berbeda. Ketika anak memasuki pubertas, ibu membutuhkan pemahaman tentang perkembangan psikologis remaja, perubahan biologis, relasi teman sebaya, kesehatan reproduksi, penggunaan teknologi, risiko perilaku, kesehatan mental, serta komunikasi keluarga. Karena itu, pendidikan keluarga seharusnya menjadi proses yang mengikuti perjalanan perkembangan anak, bukan program yang berhenti ketika anak sudah memasuki sekolah.   Penelitian Arizona State University memberikan pesan yang sangat penting dalam konteks tersebut. Dukungan kepada ibu tidak seharusnya hanya menjadi perhatian pada masa kehamilan, kelahiran, bayi, dan usia dini. Periode menjelang dan selama pubertas justru membutuhkan perhatian yang sama seriusnya. Para peneliti menyimpulkan bahwa intervensi preventif untuk ibu layak diberikan bukan hanya ketika anak masih bayi dan prasekolah, tetapi juga ketika anak melewati tahun-tahun perkembangan yang menantang di sekitar masa pubertas.   Jika diterjemahkan ke dalam konteks ketahanan keluarga, temuan tersebut memiliki makna yang lebih luas. Ketahanan keluarga bukan sekadar kemampuan bertahan ketika menghadapi kemiskinan, penyakit, kehilangan pekerjaan, konflik, atau bencana. Ketahanan keluarga juga merupakan kemampuan beradaptasi ketika setiap anggota keluarga berubah. Anak berubah. Orang tua berubah. Hubungan berubah. Cara berkomunikasi berubah. Bahkan definisi “keluarga yang baik” juga harus berkembang mengikuti tahapan kehidupan.   Keluarga yang tangguh bukan keluarga yang tidak pernah bertengkar. Bukan pula keluarga yang selalu terlihat harmonis. Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang mampu kembali menemukan keseimbangan setelah mengalami ketegangan. Ketika anak mulai remaja, misalnya, konflik mungkin meningkat bukan karena kasih sayang berkurang, tetapi karena kebutuhan untuk mandiri semakin besar. Tugas orang tua bukan menghapus seluruh konflik, melainkan memastikan bahwa konflik tidak menghancurkan hubungan. Anak boleh berbeda pendapat, tetapi tetap tahu bahwa rumah adalah tempat aman untuk kembali.   Pada titik inilah peran ayah dan anggota keluarga lain menjadi sangat penting. Beban pengasuhan tidak seharusnya diletakkan seluruhnya di pundak ibu. Penelitian Luthar dan Ciciolla memang secara khusus melihat pengalaman ibu, tetapi temuan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kesejahteraan ibu merupakan bagian dari ekosistem keluarga. Ibu yang kelelahan membutuhkan pasangan yang hadir. Ibu yang bingung membutuhkan ruang untuk berbicara. Ibu yang menghadapi konflik dengan anak membutuhkan dukungan, bukan penghakiman. Dan seorang ibu yang sedang belajar melepaskan anak membutuhkan lingkungan yang memahami bahwa melepaskan bukan berarti berhenti mencintai.   Ada sebuah perubahan psikologis yang sangat dalam dalam perjalanan menjadi ibu. Pada awalnya, cinta diwujudkan melalui kedekatan. Semakin besar anak, cinta harus belajar menemukan bentuk lain: kepercayaan. Ibu yang memiliki bayi harus memastikan anak berada dalam jangkauannya. Ibu yang memiliki anak sekolah harus memastikan anak mampu melakukan sesuatu sendiri. Ibu yang memiliki anak remaja harus belajar memberi ruang. Dan ibu yang memiliki anak dewasa harus belajar bahwa keputusan anak tidak selalu harus sama dengan keinginannya.   Mungkin inilah bagian tersulit dari tugas seorang ibu: bukan menjaga anak agar selalu dekat, tetapi mempersiapkan anak agar mampu berjalan ketika suatu hari tidak lagi berada di sampingnya.   Karena itu, grafik tentang kepuasan hidup dan stres ibu berdasarkan tahapan usia anak sesungguhnya bukan hanya grafik tentang naik turunnya perasaan. Ia adalah gambaran tentang transformasi peran. Dari pengasuh menjadi pendidik. Dari pendidik menjadi pembimbing. Dari pembimbing menjadi pendamping. Dan akhirnya, dari pendamping menjadi tempat pulang ketika anak membutuhkan rumah secara emosional.   Menariknya, ketika anak telah dewasa, beberapa indikator kesejahteraan ibu dalam penelitian kembali menunjukkan kondisi yang relatif lebih baik. Beban peran dan sejumlah pengalaman negatif dalam pengasuhan menurun dibandingkan masa ketika anak berada di middle school. Anak mulai memiliki kehidupannya sendiri, sementara ibu memiliki ruang yang lebih besar untuk kembali memperhatikan dirinya. Tetapi bahkan pada tahap ini, tugas seorang ibu tidak benar-benar selesai. Bentuknya hanya berubah. Kekhawatiran tentang ujian sekolah mungkin berganti menjadi kekhawatiran tentang pekerjaan anak. Kekhawatiran tentang teman bermain mungkin berganti menjadi kekhawatiran tentang pasangan hidup. Kekhawatiran tentang kesehatan anak kecil mungkin berubah menjadi doa agar anak dewasa tetap sehat dan menemukan kehidupannya.   Itulah sebabnya kalimat “Tugas ibu tidak akan pernah selesai” bukan semata-mata kalimat romantis tentang pengorbanan seorang perempuan. Ia juga harus dibaca sebagai pesan tentang pentingnya sistem pendukung bagi ibu sepanjang perjalanan kehidupan anak. Jika kita ingin memiliki anak-anak yang tumbuh sehat, mandiri, berpendidikan, dan memiliki ketahanan psikologis, kita tidak dapat hanya memperkuat anak. Kita juga harus memperkuat orang yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu sumber keamanan terbesar dalam kehidupan mereka: ibunya.   Pada akhirnya, mungkin seorang ibu tidak membutuhkan anak yang sempurna. Ia hanya ingin melihat anaknya mampu menjalani kehidupan dengan baik. Tetapi untuk sampai ke sana, seorang ibu sendiri membutuhkan kesempatan untuk belajar, beristirahat, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan mendapatkan dukungan. Karena menjadi ibu bukan pekerjaan yang memiliki sertifikat kelulusan. Tidak ada hari ketika seseorang menerima surat yang mengatakan bahwa tugasnya sebagai ibu telah selesai.   Anak boleh tumbuh besar. Anak boleh meninggalkan rumah. Anak boleh memiliki keluarga sendiri. Tetapi di hati seorang ibu, selalu ada satu ruang yang tidak pernah benar-benar kosong. Di sana tersimpan bayi yang dahulu digendong, anak kecil yang dahulu diantar ke sekolah, remaja yang pernah membuatnya cemas, dan manusia dewasa yang kini berjalan dengan kehidupannya sendiri.   Seorang ibu mungkin akhirnya berhenti mengantar anak ke sekolah. Berhenti memeriksa pekerjaan rumah. Berhenti menyiapkan seragam. Berhenti menunggu di depan pintu ketika anak pulang. Tetapi ia tidak pernah berhenti menjadi tempat anak itu berasal.   Sebab tugas seorang ibu memang tidak akan pernah selesai. Yang selesai hanyalah satu demi satu tahap pengasuhan. Setelah itu, kehidupan memberikan tahap berikutnya: belajar melepaskan, belajar percaya, belajar menerima, dan akhirnya belajar mencintai seorang anak sebagai manusia dewasa yang bukan lagi milik orang tuanya, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupannya.

24 Sep 2026

Jangan Sampai Orang Rumah Bayar Harga dari Masalah Kantor

Penulis: Ahmad Madu Book Writer | Coach | Assessor Human Capital Tribuana Global Group   Pernah enggak sih pulang kerja, badan sudah sampai rumah, tapi pikiran masih tertinggal di kantor? Sudah duduk bareng pasangan, anak sudah ngajak cerita, makan malam sudah tersedia, tapi kepala masih muter soal meeting tadi siang, omongan atasan, target yang belum selesai, konflik dengan rekan kerja, atau chat yang belum dibalas. Secara fisik kita memang sudah pulang. Tapi secara emosional, ternyata kita belum benar-benar sampai rumah. Awalnya mungkin terasa biasa saja. Namanya juga capek kerja. Tapi kalau terus terjadi, menurut saya ini bisa mengerikan. Karena masalah yang sebenarnya lahir di kantor akhirnya ikut masuk ke ruang keluarga. Dan orang-orang yang enggak tahu apa-apa malah ikut menerima dampaknya. Dalam psikologi kerja ada konsep yang dikenal sebagai work-family spillover. Sederhananya, pengalaman, tekanan, dan emosi dari pekerjaan bisa “tumpah” ke kehidupan keluarga. Yang terbawa pulang bukan cuma laptop atau pekerjaan yang belum selesai, tapi juga rasa marah, kecewa, curiga, cemas, bahkan cara kita memperlakukan orang lain. Bayangkan seseorang seharian ditekan atasannya. Dimarahi, dipertanyakan pekerjaannya, atau mungkin merasa enggak dipercaya. Di kantor dia enggak bisa melawan. Enggak bisa marah. Enggak bisa mengeluarkan semuanya. Akhirnya emosi itu disimpan. Begitu sampai rumah, anak salah menaruh barang sedikit, kita meledak. Pasangan bertanya sesuatu yang sebenarnya sederhana, kita menjawab ketus. Orang rumah jadi bingung karena merasa enggak melakukan kesalahan apa-apa. Dan memang mereka bukan penyebabnya. Mereka cuma kebetulan menjadi orang yang paling dekat ketika emosi kita sudah penuh. Ini yang menurut saya sering enggak kita sadari. Orang rumah justru bisa mendapatkan versi terburuk dari diri kita, sementara orang kantor mendapatkan versi yang paling kita jaga. Di kantor kita masih bisa tersenyum. Masih bisa bilang, “Baik, Pak.” Masih bisa bilang, “Siap.” Masih bisa menahan diri dalam meeting. Tapi begitu sampai rumah, remnya dilepas. Padahal keluarga seharusnya menjadi tempat pulang, bukan tempat pembuangan sisa emosi. Dan dampaknya enggak selalu berupa marah. Kadang bentuknya lebih halus. Kita jadi diam. Enggak mau ngobrol. Semua pertanyaan dijawab pendek. Makan sambil lihat HP. Anak cerita, tapi kita cuma jawab, “Hmm.” Pasangan ngomong, tapi pikiran masih sibuk dengan pekerjaan. Kita memang hadir di rumah, tapi sebenarnya enggak hadir. Ada juga efek lain yang lebih panjang. Misalnya seseorang terlalu lama bekerja dalam lingkungan yang penuh ketidakpercayaan. Semua pekerjaannya diperiksa. Sedikit-sedikit dicurigai. Salah sedikit langsung dipermasalahkan. Lama-lama otaknya belajar untuk selalu waspada. Masalahnya, mode waspada itu enggak punya tombol otomatis yang mati ketika kita sampai rumah. Pasangan telat balas pesan, mulai mikir macam-macam. Anak enggak cerita, langsung dianggap menyembunyikan sesuatu. Ada perubahan kecil, kita cepat curiga. Bisa jadi sebenarnya persoalannya bukan ada pada keluarga. Tapi rasa aman kita sedang rusak karena pengalaman yang terus berulang di tempat kerja. Makanya menurut saya, work-life balance bukan cuma soal jam kerja. Pulang jam lima belum tentu berarti kita sudah benar-benar berhenti bekerja. Ada konsep lain dalam psikologi kerja yang disebut psychological detachment from work. Intinya adalah kemampuan untuk melepaskan diri secara mental dari pekerjaan ketika jam kerja selesai. Bukan berarti jadi enggak bertanggung jawab, tapi kita memberi kesempatan kepada pikiran dan emosi untuk keluar dari “mode kerja” sebelum masuk ke peran lain dalam kehidupan. Ini penting karena dalam sehari kita punya banyak peran. Di kantor mungkin kita seorang manager, supervisor, staff, sales, trainer, atau siapa pun. Tapi ketika pulang, kita mungkin berubah menjadi suami, istri, ayah, ibu, anak, atau saudara. Masalah muncul ketika satu peran terlalu mendominasi sampai merusak peran yang lain. Karena itu, menurut saya kita perlu punya semacam “ritual pulang”. Enggak harus sesuatu yang rumit. Bisa lewat perjalanan pulang yang digunakan untuk menenangkan pikiran, mandi sebelum banyak berinteraksi, ganti pakaian, duduk lima menit, atau sekadar berkata kepada diri sendiri, “Hari kerja saya selesai. Masalah ini saya lanjutkan besok.” Kita juga perlu belajar memberi nama pada emosi sebelum masuk rumah. Kalau sedang marah, sadari bahwa kita sedang marah. Kalau sedang kecewa, akui bahwa kita sedang kecewa. Kadang kesadaran sederhana seperti ini membuat kita lebih mampu membedakan, “Saya marah karena anak saya, atau sebenarnya saya masih marah karena kejadian di kantor?” Kalau memang sedang sangat capek, enggak ada salahnya bilang kepada pasangan, “Aku lagi agak penuh hari ini. Kasih aku waktu sebentar ya.” Menurut saya itu jauh lebih sehat daripada diam, berubah ketus, lalu membuat seluruh rumah menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Dan tentu saja, keluarga tetap boleh menjadi tempat bercerita. Justru bagus kalau kita punya ruang aman untuk berbagi. Tapi bercerita berbeda dengan memindahkan seluruh beban emosi kepada mereka. Cerita membuat orang lain memahami kondisi kita. Melampiaskan membuat orang lain ikut menanggungnya.   Kalau mau lebih sederhana, saya merangkumnya dalam satu kata: PULANG. P — Putuskan mode kerja. Begitu jam kerja selesai, kasih tanda ke diri sendiri bahwa peran kerja hari itu sudah selesai. Bisa lewat perjalanan pulang, mandi, ganti baju, atau sekadar duduk sebentar tanpa buka chat kantor. Otak butuh transisi supaya enggak terus hidup dalam mode kerja. U — Urai dulu emosinya. Sebelum ketemu keluarga, coba cek diri sendiri: saya lagi marah, kecewa, cemas, atau cuma capek? Kadang emosi yang enggak kita kenali justru paling gampang tumpah ke orang yang salah. L — Lepaskan yang belum selesai. Enggak semua masalah kantor harus selesai malam ini. Ada hal yang memang baru bisa dilanjutkan besok. Catat kalau perlu, lalu izinkan diri untuk berhenti memikirkannya sementara. A — Alihkan perhatian ke rumah. Saat sudah bersama keluarga, pindahkan fokus. Dengarkan anak cerita. Ngobrol sama pasangan. Makan tanpa sambil balas email. Bukan soal berapa lama, tapi seberapa utuh kita hadir. N — Nyatakan kondisi kita. Kalau memang lagi penuh, bilang. “Aku lagi capek banget hari ini, kasih aku waktu sebentar ya.” Jauh lebih sehat daripada mendadak diam, ketus, lalu bikin orang rumah bingung. G — Gunakan rumah untuk pulih, bukan melampiaskan. Keluarga boleh jadi tempat cerita. Tapi jangan dijadikan tempat membuang sisa emosi dari kantor. Cerita itu berbagi. Melampiaskan itu memindahkan beban. Saya rasa ini perlu kita pikirkan serius. Kita sering takut pekerjaan berantakan. Takut target enggak tercapai. Takut kehilangan kesempatan. Bahkan takut kehilangan pekerjaan. Tapi kadang kita enggak sadar bahwa ketika semua energi terbaik habis di kantor, orang rumah hanya kebagian sisanya. Sisa kesabaran. Sisa perhatian. Sisa energi. Sisa waktu. Kalau berlangsung satu dua hari mungkin enggak masalah. Tapi kalau bertahun-tahun, relasi yang tadinya hangat bisa pelan-pelan berubah. Makanya menurut saya, salah satu kemampuan penting dalam kehidupan profesional bukan cuma bagaimana caranya bekerja dengan baik. Tapi juga bagaimana caranya berhenti bekerja dengan baik. Tahu kapan harus menutup laptop. Tahu kapan pikiran harus berhenti membahas pekerjaan. Tahu kapan masalah kantor memang harus ditinggalkan di kantor. Karena kita memang bekerja untuk kehidupan yang lebih baik. Jangan sampai ironisnya, pekerjaan yang kita lakukan untuk keluarga justru perlahan-lahan merusak hubungan dengan keluarga itu sendiri. Kantor boleh menjadi bagian penting dari hidup kita. Tapi jangan sampai kantor ikut pulang, ikut duduk di meja makan, bahkan ikut tidur bersama kita setiap malam.  

Kajian Terkini

Lihat Semua

Belum ada kajian.

Sosial Media

Kabar Instagram.

@ditpenduk_kemendukbangga

Memuat...

Memuat...

Memuat...

Uli

Asisten AI siap membantu Anda

Halo! Saya Uli 👋 Asisten cerdas Ditpenduk.

Saya siap membantu pertanyaan seputar SSK, PTPK, Pramuka PK, ASN PK, Mass PK, dan layanan lainnya. Silakan pilih topik atau ketik langsung!

Ditpenduk — BKKBN Kemendukbangga